KEBIASAAN menggertakkan gigi saat tidur, atau yang secara medis dikenal sebagai bruxism, sering kali dianggap sebagai gangguan ringan. Namun, pakar kesehatan menegaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar masalah kesehatan gigi, melainkan melibatkan mekanisme kompleks pada otak dan sistem saraf pusat.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. Yeni Quinta Mondiani, Sp.N, menjelaskan bahwa sleep bruxism merupakan gangguan tidur yang memerlukan perhatian serius jika terjadi secara terus-menerus. Kondisi ini ditandai dengan gerakan repetitif rahang bawah yang memicu gesekan antar gigi.
"Suara yang dihasilkan sering kali cukup mengganggu dan dapat berdampak buruk pada kesehatan gigi maupun sendi rahang," ujar dr. Yeni.
Baca juga : 14 Tips agar Cepat Tidur
Mekanisme Neurologis dan Aktivitas OtotSecara medis, bruxism terjadi karena adanya peningkatan aktivitas pada otot-otot pengunyahan, seperti otot masseter, temporalis, dan pterygoid. Yeni menyebutkan bahwa aktivitas ini dipicu oleh gangguan kontrol gerakan pada sistem saraf, terutama yang melibatkan sistem dopaminergik.
"Kontraksi otot menjadi lebih sering dan lebih kuat dibandingkan kondisi normal. Hal ini menunjukkan adanya keterlibatan sistem saraf pusat dalam mengatur gerakan tersebut," tambahnya.
Dalam klasifikasi medis, bruxism masuk ke dalam kategori parasomnia, yaitu perilaku tidak diinginkan yang muncul saat seseorang tertidur.
Baca juga : Cermin Rupanya Bisa Ganggu Tidur. Ini Penjelasannya
Selain faktor fisik, Yeni menekankan bahwa faktor psikologis memegang peranan krusial. Berdasarkan meta-analisis, terdapat korelasi kuat antara tingkat stres seseorang dengan risiko munculnya bruxism. Pengelolaan emosi dan tekanan mental menjadi kunci utama dalam meredam intensitas gerakan rahang saat tidur.
Kondisi ini juga sering dikaitkan dengan gangguan lain seperti gangguan irama sirkadian dan nyeri kronis. Oleh karena itu, bruxism tidak boleh dianggap sepele, terutama jika sudah menimbulkan gejala fisik yang nyata.
Kapan Harus ke Dokter?Masyarakat diimbau untuk segera melakukan pemeriksaan medis apabila mulai merasakan gejala-gejala berikut:
- Nyeri pada area rahang atau sendi rahang (TMJ).
- Gigi mengalami retak, aus, atau menjadi sangat sensitif.
- Gangguan saat mengunyah makanan.
- Sakit kepala berulang saat bangun tidur.
"Jika disertai gangguan tidur atau dicurigai berkaitan dengan gangguan neurologis, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter spesialis," tegas Yeni.
Langkah PenangananPenanganan bruxism dilakukan secara komprehensif dengan menyesuaikan penyebab dasarnya. Beberapa langkah yang disarankan meliputi:
- Perbaikan Higiene Tidur: Meningkatkan kualitas tidur dan menjaga jadwal tidur yang teratur.
- Manajemen Stres: Melakukan relaksasi untuk mengurangi beban psikologis.
- Pelindung Gigi (Night Guard): Menggunakan alat khusus untuk mencegah kerusakan gigi akibat gesekan.
- Terapi Farmakologi: Dalam kasus tertentu, dokter mungkin meresepkan obat pelemas otot sebelum tidur.
Dengan pemahaman yang tepat dan penanganan sejak dini, bruxism dapat dikendalikan sehingga tidak menimbulkan komplikasi jangka panjang pada kesehatan gigi maupun sistem saraf pusat. (Z-1)





