Jakarta: Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa kasus TBC diestimasikan mencapai 1.060.000 kasus per tahun.
Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Rina Triasih, menyoroti estimasi tersebut dengan rendahnya penemuan kasus TBC. Menurutnya, selisih angka ini bukan sekadar persoalan data, melainkan mencerminkan adanya hambatan nyata di lapangan.
"Prediksinya mencapai 1 juta, tetapi yang sudah fiks diprediksi oleh dokter-dokter hanya mencapai beberapa ratus ribu, tetapi masih banyak sekali pasien di luar sana yang TBC dan belum ditemukan atau diobati oleh pihak dokter," ujar Rina, mengutip situs resmi UGM, Rabu, 8 April 2026.
Baca Juga :
Wamenkes: CKG dan Inovasi Jadi Harapan dalam Mengeliminasi TBCPeningkatan ini, kata Rina, dapat disebabkan oleh dua hal, yakni bertambahnya jumlah kasus atau meningkatnya efektivitas pemerintah dalam menemukan kasus tersembunyi.
"Waktu Covid, jumlah kasus TBC yang ditemukan itu tidak banyak, tetapi pasca Covid itu justru meningkat," jelasnya.
Rina juga menggarisbawahi tantangan geografis Indonesia yang menyebabkan ketimpangan akses layanan kesehatan, terutama di luar Pulau Jawa. Kondisi ini menjadi hambatan dalam pemerataan deteksi dan pengobatan TBC di seluruh wilayah.
Sebagai langkah strategis, Ia merekomendasikan pendekatan komprehensif melalui tiga pilar utama, yakni Search, Treat, and Prevent.
"Search mencari pasiennya dan mendeteksi mereka dengan cepat. Treat memberikan pengobatan yang adekuat sampai sembuh total. Prevent melakukan tindakan pencegahan dan edukasi," terangnya.
Ilustrasi Pexels
Pengobatan Kompleks
Rina mengungkapkan, tantangan besar juga muncul dari kasus TBC resisten obat. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi akibat pengobatan yang tidak tuntas, sehingga kuman mengalami mutasi.
Dengan demikian, lanjut ia, TBC jenis ini membutuhkan pengobatan yang lebih kompleks. Durasi lebih panjang dan jumlah obat yang lebih banyak.
"Biasanya memang dua bulan itu sudah terlihat dan sudah merasa baikan. Nah, mungkin karena mereka sudah merasa sehat, mereka tidak melanjutkan pengobatan dan itu merupakan risiko untuk menjadi TBC resisten obat," paparnya.
Stigma dan Edukasi
Rina menegaskan bahwa penanggulangan TBC tidak bisa hanya berfokus pada aspek medis. Faktor sosial seperti stigma, tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, dan lingkungan tempat tinggal turut berperan besar dalam penyebaran penyakit ini.
"Misalnya pasien TBC pulang ke rumah dengan kondisi rumah yang kumuh dan sempit, otomatis orang-orang di dalamnya akan terkena juga dan kasus TBC tidak sembuh-sembuh," ungkapnya.
Untuk itu, Rina menekankan pentingnya pendekatan edukasi yang inovatif dan menyentuh langsung masyarakat. Ia menyarankan agar edukasi tidak hanya dilakukan melalui media konvensional seperti poster atau flyer, tetapi juga melalui pendekatan yang lebih interaktif, seperti menghadirkan penyintas TBC dalam talkshow atau kampanye berulang yang mudah diingat masyarakat.
"Dengan kolaborasi berbagai pihak dan pelaksanaan strategi ini secara masif, target eliminasi TBC pada tahun 2030 dapat tercapai," ucapnya.




