Harga Apartemen di RI Berpotensi Naik Imbas Gejolak Timur Tengah

bisnis.com
11 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Harga apartemen di Indonesia diprediksi bakal merangkak naik dipicu oleh lonjakan biaya konstruksi akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan dinamika ekonomi global.

Colliers Indonesia mencatat ketidakpastian kondisi dunia memberikan tekanan pada rantai pasok material bangunan, yang pada akhirnya akan berdampak pada penyesuaian harga jual unit.

"Secara umum, harga hingga kuartal I/2026 terlihat stabil, ke depannya juga kita lihat memang ada potensi kenaikan harga, terutama karena biaya konstruksi yang kemungkinan akan naik akibat faktor global," ujar Ferry Salanto dalam konferensi pers, Rabu (8/4/2026).

Berdasarkan data Colliers, saat ini, rata-rata harga apartemen berada di level Rp36,2 juta per meter persegi. Sayangnya, Ferry belum memerinci berapa potensi kenaikan harga apartemen imbas meningkatnya harga bahan baku konstruksi.

Meski dihantui tekanan global, Ferry melihat pasar apartemen pada 2026 memiliki peluang pemulihan yang lebih kuat jika dibandingkan dengan periode 2 tahun sebelumnya. Hal itu tercermin dari minimnya pasok tersedia sehingga menyisakan ruang okupansi untuk bertumbuh.

"Kemudian ekspektasi kita di Q2 dan Q3 itu sekian [total lebih dari 1.200 unit akan terserap hingga Kuartal IV/2026], itu akan bisa menyamai apa yang sudah terjadi tahun 2023. Artinya, kalau kita lihat 2026 ini dengan kondisi makroekonomi yang stabil, seharusnya apartemen itu bisa lebih baik dibandingkan tahun 2024 sampai tahun 2025," tambahnya.

Baca Juga

  • Daya Tarik Apartemen Meredup
  • Minat Investasi Properti Apartemen Kian Turun, Ini Biang Keroknya
  • Proyek Apartemen Baru Sepi

Sementara itu, hingga kuartal I/2026, tercatat masih terdapat 29.000 unit apartemen yang belum terserap pasar di Jakarta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 27.000 unit merupakan stok siap huni (ready stock) yang berhak menerima insentif PPN DTP 100%.

Menariknya, tambah Ferry, profil pasar saat ini mulai bergeser di mana kelompok pembeli pengguna langsung (end-user) mulai mendominasi dan menggeser peran pembeli investor.

Dari sisi pembayaran, data Colliers menunjukkan bahwa metode pembayaran melalui kredit pemilikan apartemen (KPA) terus meningkat seiring dengan stabilitas BI Rate. Sebaliknya, minat menjadikan apartemen sebagai instrumen investasi murni terlihat cenderung menurun.

"Kemudian, dari sisi pembeli kita lihat ini lebih banyak end user sekarang ini dibandingkan dengan investor buyer," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dunia Panik Selat Hormuz Ditutup, Prabowo: Indonesia Punya Keunggulan Lebih Besar
• 44 detik laludisway.id
thumb
Prabowo Tegaskan Penggantian Presiden lewat Pemilu atau Pemakzulan
• 4 jam lalukompas.id
thumb
Harga Emas Hari Ini Naik, Dibanderol Rp2,900 Juta per Gram
• 15 jam lalutvrinews.com
thumb
Prospek Saham Sawit TAPG, LSIP hingga AALI terkait Implementasi Program B50
• 13 jam lalukatadata.co.id
thumb
PBB Ungkap Hasil Penyelidikan Awal Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon
• 15 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.