Harga Plastik Melejit hingga 50 Persen, UMKM Bandung Terpukul

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

BANDUNG, KOMPAS-Kenaikan harga plastik hingga 50 persen di Kota Bandung, Jawa Barat, memukul sebagian pelaku usaha mikro kecil menengah. Hal itu dituding sebagai dampak konflik Timur Tengah.

Konflik Amerika Serikat-Israel dan Iran telah berlangsung sebulan lebih. Akibatnya, hal itu menganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz hingga mengganggu aktivitas industri.

Salah satunya yang terganggu adalah produksi nafta. Nafta digunakan sebagai bahan baku berbagai macam bahan kimia pembuat plastik.

Yaya (70), pemilik usaha kuliner lontong di daerah Cibadak, mengatakan, kenaikan harga plastik mencapai 40 persen. Dia kini mesti menyisihkan Rp 1 juta untuk membeli enam jenis plastik.

Padahal, sebelumnya, dia hanya mengeluarkan biaya Rp 700.000. Plastik-plastik itu biasanya digunakan untuk kebutuhan sepekan.

"Kenaikan harga plastik secara drastis sangat membebani kami. Kemungkinan kami terpaksa menaikkan harga jual, " tuturnya di Bandung, Rabu (8/4/2026).

Baca JugaTerimbas Perang, Harga Kedelai Impor dan Plastik Naik

Julian (39), pelaku usaha souvenir mengaku, kenaikan harga plastik untuk undangan pernikahan dan tumbler, naik hingga 30 persen. Julian terpaksa menaikkan harga jual hingga Rp 4.000 untuk setiap produknya.

Kenaikan harga produknya menyebabkan omset penjualan menurun drastis hingga 30 persen dari total pemasukan Rp 100 juta per bulan.

"Saya berharap pemerintah mencari jalur alternatif untuk mendatangkan bahan baku plastik ke Indonesia dengan harga lebih murah, " harapnya.

Hal senada disampaikan Vivi (40), agen penyedia produk plastik di Kota Bandung. Ia mengaku, harga plastik tidak stabil dan terus mengalami kenaikan selama sebulan ini.

Ia memaparkan, kenaikan harga bervariasi tergantung jenis plastik. Plastik kemasan makanan naik, naik dari Rp 35.000 per kilogram menjadi Rp 55.000 per kilogram. Harga plastik PE juga naik, dari Rp 45.000 per kg menjadi Rp 90.000 per kg.

"Hampir semua produk plastik naik sejak perang di Timur Tengah. Saya berharap pemerintah segera menstabilkan harga plastik," ucapnya.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika (Kompas.id 16 Maret 2026) mengatakan, sektor makanan dan minuman sebenarnya bukan industri yang tergolong padat energi sehingga dampak kenaikan harga energi tidak terlalu besar. Namun, industri ini sangat bergantung pada kemasan, terutama plastik yang berasal dari bahan baku petrokimia.

Menurut Putu, apabila terjadi gangguan pasokan atau kenaikan harga bahan baku plastik, seperti biji plastik, dampaknya dapat terasa berlipat pada industri makanan dan minuman.

”Hal ini karena kemasan memiliki kontribusi cukup besar dalam struktur biaya produksi, ” paparnya.

Baca JugaKenaikan Harga Bahan Baku Plastik Mulai Hantam Industri Makanan-minuman 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rilis Buku Saku 0%, Bakom RI: Transparansi Pemerintah Hapus Kemiskinan Ekstrem
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
15 Tips Memilih Alpukat yang Bagus
• 23 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Kenali 6 Ciri-Ciri Komstir Motor Rusak, Sebelum Parah!
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
Sering ke Luar Negeri, Prabowo: Untuk Amankan Minyak, Gue Harus ke Mana-mana
• 4 jam laluokezone.com
thumb
Borong Tiga Penghargaan Bergengsi, Bumi Pundi Karsa Perkuat Posisi di Sektor Properti Nasional
• 2 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.