Tiga Opsi Rute Keberangkatan Haji 2026 Masih Dibahas

bisnis.com
11 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, BANDUNG—Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh) Jawa Barat memastikan jemaah haji 2026 gelombang pertama akan tetap diberangkatkan mulai 20 April, meski rute penerbangan masih dalam pembahasan menyusul pertimbangan keamanan di tengah kondisi geopolitik Timur Tengah yang masih memanas.

Ketua Koordinator Wilayah Himpuh Jawa Barat Dodi Sudrajat mengatakan, hingga kini, terdapat tiga opsi rute yang tengah dibahas bersama pemerintah dan DPR, dengan prioritas utama keselamatan jemaah.

“Haji tetap dilaksanakan, tapi rutenya sedang dipertimbangkan untuk menghindari risiko,” katanya dikutip Rabu (8/4/2026).

Pria yang juga menjabat sebagai koordinator umrah haji DPP Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) ini pun mengatakan, opsi rute pertama yang dapat digunakan adalah jalur langsung melintasi kawasan Yaman. Rute tersebut paling efisien karena jalurnya lurus dari Asia Tenggara menuju Arab Saudi. 

Meskipun jalur tersebut secara umum masih digunakan dan relatif aman, kondisi geopolitik di kawasan membuat jalur tersebut tetap perlu diwaspadai.

“Jalur lewat Yaman itu sebenarnya paling ideal dan hemat. Umrah juga masih banyak yang lewat sana dan berjalan lancar, tapi tetap ada kewaspadaan karena dinamika konflik,” katanya.

Baca Juga

  • Menhaj Sebut Biaya Haji Naik Imbas Konflik Timteng, Presiden Minta Tak Bebani Jemaah
  • Kuota Haji Kabupaten Cirebon Naik, 2.576 Calon Jemaah Terkonfirmasi Berangkat Tahun Ini
  • Geopolitik Memanas, Keberangkatan 29.643 Calon Jamaah Haji Asal Jabar Masih Sesuai Jadwal

Opsi kedua adalah memutar melalui Afrika Timur, guna menghindari potensi gangguan di kawasan konflik. Meski lebih aman, opsi ini berdampak pada penambahan jarak tempuh dan biaya perjalanan.

“Kalau lewat Afrika, memang lebih aman dari sisi konflik, tapi konsekuensinya ada tambahan waktu, sekitar 1 sampai 2 jam lebih lama,” ucapnya.

Adapun, opsi ketiga, pembatalan keberangkatan. Dodi menyebut, pembatalan bukan menjadi opsi utama karena berpotensi menimbulkan kerugian, termasuk kemungkinan pengembalian dana yang tidak penuh dari pihak Arab Saudi serta dampak terhadap kuota haji.

“Kalau dibatalkan, risikonya besar, termasuk refund yang belum tentu penuh dan potensi mundurnya jadwal keberangkatan,” katanya.

Saat ini, Himpuh mendorong pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan risiko terkecil, baik dari sisi keamanan maupun efisiensi biaya bagi jemaah. 

Sejauh ini kondisi penerbangan umrah masih relatif berjalan normal, meski terdapat kendala pada maskapai yang berbasis di kawasan Selat Hormuz seperti Qatar, yang mengalami penjadwalan ulang hingga pertengahan April.

Sebagai solusi, maskapai melakukan kerja sama antaraliansi untuk mengalihkan rute penerbangan, meski berdampak pada tambahan waktu dan biaya perjalanan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Saham Sawit AALI, TAPG Cs Siap Panen Cuan Implementasi B50
• 15 jam lalubisnis.com
thumb
Kajati Sulsel Didik Farkhan Terima Gelar Kehormatan Tertinggi Adat Bugis: “La Mappapole Daeng Pawinru”
• 19 jam laluharianfajar
thumb
Update Terbaru Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Foto: Polda Metro Jaya Ungkap 712 Kg Narkoba dalam Tiga Bulan
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Kai Havertz Jadi Pahlawan, Arsenal Selangkah Lagi Menuju Semifinal Liga Champions
• 20 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.