Pemerintah membeberkan berbagai langkah mitigasi pasokan BBM sampai LPG dalam menghadapi situasi perang di Timur Tengah. Langkah tersebut meliputi pengaturan konsumsi BBM dan LPG sampai memprioritaskan LPG yang selama ini dijual ke industri untuk kebutuhan LPG 3 kg masyarakat.
Pengaturan konsumsi BBM dan LPG secara wajar dan bijak memang menjadi langkah utama. Untuk itu, Dirjen Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman juga menjelaskan sudah ada aturan yang diterbitkan oleh Ditjen Migas dan BPH Migas. Selain itu, langkah lain seperti pengalihan sumber impor juga tengah dilakukan.
“Yang kedua, kami mengalihkan sumber impor negara-negara yang tidak melewati, dari negara-negara, maksud kami, kami mengalihkan sumber impor yang tadinya berasal dari negara Timur Tengah yang terkendala dengan masalah di Selat Hormuz, menjadi ke negara-negara lain seperti Amerika, Afrika, Asia, dan negara-negara di ASEAN,” kata Laode dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta pada Rabu (8/4).
Selain itu, langkah yang turut dilakukan adalah menginstruksikan kepada seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk mengutamakan pasokan dalam negeri daripada ekspor.
“Artinya, crude produksi yang diproduksi dalam negeri diupayakan untuk seluruhnya dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk hilang minyak di dalam negeri,” ujarnya.
Sementara untuk LPG, Laode menjelaskan saat ini langkah yang dilakukan adalah mengoptimalkan kilang-kilang dalam negeri untuk memperkaya produk LPG. Salah satunya dilakukan di RDMP Balikpapan.
“Sebagai contoh untuk RDMP Balikpapan yang menghasilkan polipropilen, di mana harga produknya ini sebenarnya harganya lebih tinggi. Produk ini kemudian dikurangi produksinya, dan bahan baku naftanya kemudian digeser untuk memperkaya produk LPG, untuk memperkuat pasokan LPG secara nasional,” kata Laode.
Selain itu, Laode juga secara aktif terus melakukan hunting LPG baik dari impor maupun produksi dalam negeri. Selain itu, kebutuhan LPG untuk masyarakat juga menjadi prioritas.
“LPG yang selama ini dijual ke industri juga diupayakan untuk dialihkan untuk kebutuhan LPG 3 kg yang di mana kebutuhan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Laode juga saat ini memberi instruksi kepada kilang LPG swasta untuk terus mendukung pasokan dalam negeri. Salah satunya agar kilang LPG swasta memprioritaskan penawaran kepada Pertamina Patra Niaga.
“Yang tadinya produksinya dijual kepada industri, tapi kami memberikan prioritas, usulan prioritas kepada kilang-kilang LPG swasta untuk diberikan produksinya penawaran pertama kepada Pertamina Patra Niaga yang LPG-nya dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat,” kata Laode.





