Rupiah Ditutup Naik 0,54% ke Level Rp17.012/USD

metrotvnews.com
10 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini akhirnya mengalami kenaikan setelah tergelincir dalam beberapa hari terakhir.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 8 April 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.012 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 93 poin atau setara 0,54 persen dari posisi Rp17.105 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 93 poin, sebelumnya sempat menguat 115 poin di level Rp17.012 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.105 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.

Di perdagangan hari ini, rentang pergerakan rupiah berada pada level Rp16.960 per USD hingga Rp17.028 per USD. Sementara year to date (ytd) return tercatat 1,99 persen.

Sementara itu, data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona hijau pada posisi Rp17.005 per USD. Rupiah menguat sebanyak 82 poin atau setara 0,48 persen dari Rp17.087 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.009 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 83 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.092 per USD.
  Baca juga: Rupiah Naik 120 Poin Jadi Rp16.985/USD   AS-Iran sepakat gencatan senjata
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen Presiden AS Donald Trump yang menyetujui gencatan senjata. Trump mengatakan akan menangguhkan aksi militer terhadap Iran selama dua minggu, menambahkan AS telah mencapai tujuan militer intinya.

Pengumuman itu datang kurang dari dua jam sebelum batas waktu pukul 20.00 ET, yang telah dipantau ketat oleh investor sebagai pemicu potensial untuk eskalasi besar. Sebelumnya, Trump telah memperingatkan seluruh peradaban akan mati jika Iran gagal mematuhi kesepakatan tersebut.

Gencatan senjata, yang ditengahi oleh Pakistan setelah upaya diplomatik menit-menit terakhir, bergantung pada jaminan Iran untuk membuka kembali Selat secara aman, jalur utama bagi sekitar 20 persen aliran minyak global.

Iran juga mengisyaratkan kesediaan bersyarat untuk mengurangi eskalasi, dengan mengatakan jalur aman melalui Selat akan dimungkinkan selama periode gencatan senjata, asalkan permusuhan dihentikan dan kapal-kapal berkoordinasi dengan otoritas Iran.

Selain itu, para pelaku pasar juga menantikan laporan indeks harga konsumen (CPI) AS Maret yang akan dirilis pada Jumat, yang diharapkan memberikan indikasi jelas pertama tentang dampak lonjakan harga energi baru-baru ini. 

"Para ekonom memperkirakan inflasi utama akan meningkat secara bulanan, sebagian besar didorong oleh biaya bahan bakar yang lebih tinggi, yang berpotensi mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve," papar Ibrahim.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
  Realisasi pendapatan negara direspons positif pasar
Di sisi lain, pasar merespons positif terhadap realisasi pendapatan negara hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun, atau meningkat 10,5 persen secara tahunan (yoy). Realisasi tersebut setara dengan 18,2 persen dari target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp3,15 kuadriliun.

Capaian tersebut didukung oleh kinerja penerimaan pajak pada triwulan I 2026 yang keseluruhan tumbuh kuat, baik secara bruto maupun neto, dengan realisasi bulanan yang konsisten dan meningkat sejak awal tahun.

Secara total, penerimaan perpajakan mencapai Rp462,7 triliun, atau meningkat 14,3 yoy, yang terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp394,8 triliun serta kepabeanan dan cukai sejumlah Rp67,9 triliun.

Pajak Penghasilan (PPh) Badan terkumpul sebesar Rp43,3 triliun (naik 5,4 persen yoy); PPh Orang Pribadi dan PPh 21 Rp61,3 triliun (naik 15,8 persen yoy); dan PPh Final, PPh 22, dan PPh 26 Rp76,7 triliun (naik 5,1 persen yoy).

Sementara Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) tercatat Rp155,6 triliun, atau melonjak 57,7 persen yoy; serta pajak lainnya mencapai Rp57,9 triliun, atau terkontraksi 5,7 persen yoy.

Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp67,9 triliun (turun 12,6 persen yoy), yang terdiri dari cukai Rp51 triliun (turun 11,2 persen yoy), bea keluar Rp5,4 triliun (turun 38,9 persen yoy), serta bea masuk Rp11,5 triliun (naik 0,9 persen yoy). Selain itu, pendapatan negara per akhir Maret juga berasal dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp112,1 triliun serta hibah senilai Rp100 miliar.

Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Kamis besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.010 per USD hingga Rp17.040 per USD," jelas Ibrahim.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Busyro hingga Suciwati Desak Tim Pencari Fakta Kasus Andrie Yunus Dibentuk
• 14 jam laludetik.com
thumb
Indonesia Masuk Top 5 Dunia Pengguna ChatGPT Terbesar untuk Pendidikan
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Lindungi Perempuan dan Anak, Pemkot Surabaya Perketat Layanan Adminduk Pascacerai
• 6 jam lalukompas.com
thumb
Istana Sambut Baik Gencatan Senjata AS-Iran: Sekarang Dunia Saling Terhubung
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Kalimat Menkeu Purbaya Bisa Membuat PNS dan PPPK Deg-degan
• 19 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.