Bisnis.com, JAKARTA — Gangguan pasokan bahan baku plastik memicu lonjakan biaya produksi dan harga jual di pasar. Fenomena tersebut berpotensi menekan industri sekaligus daya beli masyarakat.
Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap pasokan nafta dari Timur Tengah mencapai sekitar 70%. Kondisi ini membuat industri domestik rentan terhadap gejolak global.
Kenaikan harga bahan baku kemasan memberi tekanan langsung pada margin produsen. Dalam tahap awal, pelaku industri cenderung menyerap kenaikan biaya untuk menjaga permintaan.
“Dalam fase awal, biasanya pelaku industri mencoba menyerap kenaikan ini agar tidak langsung memukul permintaan. Namun, kalau tekanan berlanjut, penyesuaian harga menjadi tidak terhindarkan,” kata Yusuf kepada Bisnis, Selasa (7/4/2026)
Yusuf menilai kondisi ini mencerminkan cost-push inflation. Plastik kini menjadi komponen strategis yang perannya mendekati energi dalam struktur biaya industri.
Gangguan produksi akibat kelangkaan bahan baku juga berisiko menekan output industri. Tekanan ganda berupa inflasi dan penurunan produksi dinilai akan membebani pelaku usaha, terutama UMKM.
Baca Juga
- Harga Plastik Naik Imbas Konflik Timur Tengah, Istana: Kami Siapkan Langkah Antisipasi
- Pengusaha: Harga Kantong Plastik Naik 50% Imbas Perang Iran-AS
- Industri Air Minum Kemasan (AMDK) Terusik Lonjakan Harga Plastik
Untuk meredam dampak, dia mendorong diversifikasi sumber bahan baku serta intervensi fiskal pemerintah. Selain itu, penguatan industri petrokimia nasional dinilai menjadi langkah strategis jangka panjang.
“Momentum ini seharusnya dimanfaatkan untuk mempercepat penguatan industri petrokimia nasional,” pungkas Yusuf.
Harga Plastik MelonjakAsosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) menyampaikan lonjakan harga bahan baku plastik imbas penutupan Selat Hormuz sudah merembet dampaknya ke tingkat konsumen dengan kenaikan harga plastik kresek hingga 50%.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) Henry Chevalier mengatakan kondisi ini berpotensi memicu inflasi yang lebih luas, di tengah daya beli masyarakat yang sudah melemah. Kenaikan biaya bahan baku plastik ini secara otomatis mengerek biaya produksi industri hilir, yang kemudian diteruskan ke harga produk akhir seperti kemasan makanan dan minuman (mamin), hingga produk farmasi.
“Kantong-kantong kresek saja yang tadinya harga berapa, sekarang sudah naik hampir 50% harganya,” kata Henry saat dihubungi Bisnis, Rabu (8/4/2026).
Henry menjelaskan penutupan Selat Hormuz telah memicu gangguan serius pada rantai pasok bahan baku plastik. Kondisi ini membuat pelaku usaha tidak berani melakukan kontrak dengan pelanggan karena risiko kelangkaan pasokan, meskipun secara finansial mereka masih mampu.
Di sisi lain, upaya impor bahan baku plastik juga terganggu. Bahkan, dia menuturkan perusahaan asuransi disebut enggan menanggung pengiriman yang melintasi Selat Hormuz, sehingga pelayaran turut menahan risiko. Akibatnya, arus pasokan semakin terhambat.




