Guru Digugu dan Ditiru dalam Perspektif Transformasi

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Di tengah derasnya arus perubahan zaman, saya mulai menyadari bahwa makna guru tidak lagi sesederhana sosok yang berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi. Menjadi guru hari ini terasa seperti berada di persimpangan antara tradisi dan transformasi. Di satu sisi, saya masih diharapkan untuk “digugu dan ditiru”. Namun di sisi lain, realitas di kelas menunjukkan bahwa peran itu kini jauh lebih dinamis dan menantang.

Dulu, saya memahami ungkapan klasik dalam dunia pendidikan “guru digugu dan ditiru” sebagai bentuk penghormatan sekaligus penegasan bahwa apa yang saya katakan akan dipercaya, dan apa yang saya lakukan akan dicontoh. Tetapi suatu hari, ketika seorang siswa lebih percaya pada penjelasan dari video di internet dibandingkan penjelasan saya di kelas, saya tersentak.

Bukan karena saya tersaingi, tetapi karena saya sadar: dunia belajar mereka sudah berubah. Dari situ saya mulai bertanya pada diri sendiri: apakah saya masih relevan untuk digugu dan ditiru? Dan jika iya, apa yang membuat saya layak?

Perlahan, saya menyadari bahwa transformasi bukan sekadar soal kemampuan menggunakan teknologi atau mengikuti tren pembelajaran terbaru. Lebih dalam dari itu, transformasi adalah tentang mengubah cara pandang saya sebagai guru. Saya pernah mencoba mengubah satu kebiasaan kecil: alih-alih menjelaskan panjang lebar, saya meminta siswa mencari jawaban sendiri lalu mendiskusikannya. Awalnya kelas terasa “tidak terkontrol”, tetapi justru di situlah saya melihat mereka lebih aktif dan terlibat. Saat itu saya belajar bahwa menjadi fasilitator bukan berarti kehilangan peran, tetapi justru memperluasnya.

Dalam proses itu, pemahaman saya tentang guru yang “digugu” juga berubah. “Digugu” tidak lagi berarti segala ucapan guru harus diterima tanpa kritik. Justru sebaliknya, guru yang “digugu” adalah yang mendorong siswa untuk berpikir kritis, bertanya, bahkan berbeda pendapat secara sehat. Pernah suatu ketika di kelas, seorang siswa bertanya, “Pak, ini gunanya apa di kehidupan nyata?”. Pertanyaan sederhana, tetapi sering kali dianggap mengganggu alur pembelajaran. Saya bisa saja menjawab singkat lalu melanjutkan materi.

Namun, saya memilih berhenti sejenak dan mengajak diskusi, suasana kelas berubah. Dari yang semula satu arah menjadi ruang dialog. Di situlah kepercayaan tumbuh, bukan karena guru selalu benar, tetapi karena ia memberi ruang untuk berpikir. Ketika guru mampu menunjukkan kejujuran intelektual, keterbukaan, dan kerendahan hati untuk terus belajar, di situlah ia benar-benar “digugu” dalam makna yang lebih substansial.

Begitu pula dengan makna “ditiru”. Saya mulai sadar bahwa siswa tidak benar-benar meniru apa yang saya katakan, tetapi apa yang saya lakukan. Mereka menyerap nilai-nilai yang ditunjukkan dalam keseharian. Cara guru menghadapi masalah, merespons perbedaan, dan memperlakukan orang lain menjadi pelajaran hidup yang jauh lebih membekas dibandingkan sekadar teori di buku.

Dalam satu peristiwa, ada siswa yang terlambat masuk kelas. Dulu saya mungkin langsung menegur dengan nada tinggi. Namun hari itu saya memilih bertanya lebih dulu mencari penyebab, “Ada apa hari ini?”. Sebuah pertanyaan sederhana yang membuka ruang cerita.

Dari situ terungkap bahwa siswa tersebut harus membantu orang tuanya terlebih dahulu sebelum berangkat sekolah. Guru tetap menegakkan aturan tentang kedisiplinan, tetapi tidak menutup mata terhadap situasi yang dihadapi siswa. Teguran tetap diberikan, namun disertai pemahaman dan pendekatan yang manusiawi.

Dalam momen seperti ini, siswa tidak hanya belajar tentang aturan waktu, tetapi juga tentang nilai yang lebih dalam: bahwa disiplin itu penting, namun empati dan kemampuan memahami kondisi orang lain adalah bagian dari kedewasaan. Dan justru dari pengalaman seperti inilah, keteladanan guru benar-benar terasa, bukan hanya dilihat tetapi dirasakan. Beberapa waktu kemudian, saya melihat siswa lain mulai memperlakukan temannya dengan lebih empati. Dari situ saya menyadari: sikap kecil yang kita tunjukkan bisa menjadi pelajaran besar bagi mereka.

Ada kalanya pula guru melakukan kesalahan di kelas, misalnya salah menuliskan sesuatu di papan tulis atau kurang tepat menjelaskan suatu konsep. Hal seperti ini sangat manusiawi, tetapi sering kali dihindari atau ditutupi karena khawatir dianggap kurang kompeten.

Namun, justru ketika guru dengan jujur mengatakan, “Tadi Bapak keliru, mari kita perbaiki bersama,” terjadi momen belajar yang lebih bermakna. Guru tidak hanya memperbaiki materi, tetapi juga menunjukkan sikap berani mengakui kesalahan. Ia memberi contoh bahwa memahami sesuatu tidak selalu langsung sempurna, dan bahwa proses belajar sering kali terjadi kekeliruan yang kemudian diperbaiki.

Dari situ, saya yakin bahwa siswa belajar sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar isi pelajaran. Mereka belajar bahwa tidak apa-apa jika salah selama mau memperbaiki. Mereka belajar bahwa kejujuran lebih berharga daripada terlihat selalu benar, dan bahwa belajar adalah perjalanan, bukan hasil instan. Keteladanan seperti inilah yang diam-diam membentuk cara berpikir dan sikap siswa dalam jangka panjang. Keteladanan tidak lagi bersifat simbolik, melainkan nyata dan kontekstual.

Saya juga mulai menerima bahwa guru transformasional berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat. Ada banyak momen ketika saya merasa belum cukup tahu atau bahkan tertinggal. Saya pernah mencoba metode baru yang justru tidak berjalan sesuai rencana. Kelas menjadi kurang efektif, dan saya merasa gagal. Tetapi dari situ saya belajar untuk merefleksikan diri, memperbaiki, dan mencoba lagi. Proses itu mengajarkan saya bahwa bertumbuh sering kali tidak nyaman, tetapi selalu bermakna.

Di tengah perjalanan itu, saya menemukan bahwa hal yang paling bermakna bukan hanya soal materi atau capaian akademik, tetapi relasi yang terbangun dengan siswa. Saya pernah mengalami satu momen yang sulit saya lupakan: seorang siswa yang biasanya pendiam tiba-tiba menangis setelah pelajaran selesai.

Ia berkata pelan bahwa selama ini ia merasa tidak pernah cukup baik, bahkan di rumahnya sendiri. Saat itu saya tidak memberikan nasihat panjang, saya hanya mendengarkan. Tetapi beberapa minggu kemudian, ia mulai lebih berani berbicara di kelas. Dari situ saya sadar, terkadang yang dibutuhkan siswa bukanlah jawaban, melainkan kehadiran untuk mendengarkan.

Di kesempatan lain, saya pernah menerima pesan singkat dari seorang alumnus. Ia tidak membicarakan nilai atau materi pelajaran, tetapi menulis, “Terima kasih karena dulu tidak pernah mempermalukan saya saat saya salah.” Kalimat sederhana itu justru membuat saya terdiam cukup lama. Saya baru menyadari bahwa hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa, ternyata bisa menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi mereka.

Pada akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: menjadi guru yang digugu dan ditiru bukan tentang mempertahankan citra lama, tetapi tentang keberanian untuk terus berubah. Dunia akan terus bergerak, teknologi akan terus berkembang, tetapi kebutuhan akan sosok yang memberi arah, nilai, dan inspirasi tidak akan pernah hilang.

Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari “digugu dan ditiru” hari ini, yaitu bukan lagi tentang tuntutan posisi atau kewajiban yang melekat pada profesi, melainkan tentang proses yang terus saya jalani untuk menjadi pribadi yang pantas dipercaya dan dicontoh. Bukan karena saya selalu benar atau tanpa kekurangan, tetapi karena saya berusaha jujur, konsisten, dan terbuka untuk belajar dari setiap pengalaman, baik keberhasilan maupun kesalahan.

Ketika siswa melihat upaya itu secara nyata dalam keseharian, kepercayaan dan keteladanan tidak perlu diminta atau dipaksakan; keduanya tumbuh secara alami, lahir dari kesadaran bahwa yang mereka lihat bukan sekadar seorang guru, tetapi seorang manusia yang terus berproses menjadi lebih baik dan bermakna.

Sehingga transformasi bukan lagi pilihan bagi saya, melainkan sebuah keniscayaan. Dan dalam proses itu, saya percaya, selama mau terus belajar dan bertumbuh, selalu ada kesempatan untuk tetap relevan dan tetap berarti.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kasus Keracunan MBG Meningkat, Dinkes DKI Perketat SPPG: Setiap Unit Baru Wajib Langsung Dilatih
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Gencatan Senjata AS-Iran Tekan Harga Minyak, CPO Ambles 3 Persen
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Bareskrim Tangkap Direktur Tempat Hiburan Malam di Jakut Terkait Kasus Narkoba
• 48 menit lalukumparan.com
thumb
Dirut PLN Raih Green Leadership, PLN Borong 11 PROPER Emas
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Pemprov NTB Siapkan KUR Rp10 Miliar untuk Calon Pekerja Migran demi Tekan Praktik Nonprosedural
• 19 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.