Bisnis.com, JAKARTA – PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) pada 2025 mengalokasikan belanja modal sekitar US$515 juta untuk tiga akuisisi strategis. Langkah tersebut menjadi amunisi perseroan dalam membidik target produksi migas yang lebih besar di 2026. Aksi korporasi itu juga menjadi pertimbangan analis menaikkan target harga saham MEDC dalam re-rating mereka.
Emiten migas milik keluarga Panigoro ini pada September 2025 mengumumkan akuisisi 45% hak partisipasi sekaligus operator pada kontrak kerja sama (PSC) Sakakemang dan 80% hak partisipasi dan operator pada PSC South Sakakemang. MEDC menebusnya dengan nilai akuisisi sebesar US$90 juta.
MEDC juga menambah kepemilikannya pada PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) melalui serangkaian transaksi terpisah, membuat porsi kepemilikannya bertambah menjadi 40%.
Pada Juli 2025, MEDC juga mengumumkan telah menyelesaikan akuisisi Fortuna International (Barbados) Inc, dari Repsol E&P S.a.r.l. Fortuna International merupakan pemegang hak kepemilikan tidak langsung 24% di PSC Corridor. Akuisisi yang ditebus dengan nilai US$425 juta ini meningkatkan kepemilikan MEDC di PSC Corridor dari 46% menjadi 70%.
Dengan amunisi barunya itu, perseroan membidik produksi yang lebih tinggi tahun ini. MEDC menargetkan produksi migas sebesar 165.000-170.000 barel setara minyak per hari (barrels of oil equivalent per day/boepd). Tahun lalu MEDC mencatat produksi migas sebesar 156.000 boepd. Dengan kata lain, MEDC menargetkan produksi migas tumbuh 5,8% sampai 9% pada 2026.
Sementara itu, penjualan listrik tahun ini ditargetkan sebesar 4.550 giga watt hour (GWh), lebih tinggi dibanding realisasi 2025 sebesar 4.371 GWh.
Baca Juga
- MEDC Ungkap Target Produksi Migas 2026, Intip Target Harga Sahamnya
- Medco (MEDC) Resmi Teken Kontrak Bagi Hasil Blok Cendramas di Malaysia
- Laba Bersih Medco (MEDC) Anjlok jadi Rp1,7 Triliun pada 2025
Dari sisi efisiensi dan profitabilitas operasional, MEDC tahun ini menetapkan target biaya produksi migas kurang dari US$10 per barrel oil equivalent (boe), sementara realisasi tahun lalu ada di angka US$8,6 per boe.
Kemudian, MEDC juga menetapkan target net debt to EBITDA 2026 kurang dari 2,5 kali dengan asumsi mid-cycle (kondisi wajar) harga migas setara US$65 per boe. Tahun lalu, net debt to EBITDA MEDC berada di angka 2,0 kali, baik dalam kondisi mid cycle saat harga migas di level US$65 per boe maupun ketika harganya naik di angka US$67 per boe.
Terakhir, MEDC menetapkan target return on equity (ROE) tahun ini lebih dari 15%. Perseroan menargetkan peningkatan rasio profitabilitas, di mana 2025 lalu realisasi ROE berada di level 5%.
Analis UBS Timothy Handerson, Igor Putra dan Ivan Reynaldo Sutheja dalam riset mereka mengestimasi pendapatan MEDC tahun ini akan mencapai US$2,45 miliar naik dari realisasi pendapatan 2025 sebesar US$2,34 miliar. Estimasi pertumbuhan pendapatan 4,7% year on year (YoY) itu sejalan dengan target produksi MEDC yang naik tahun ini.
"MEDC dinilai sebagai salah satu pihak yang diuntungkan dari potensi kenaikan harga minyak akibat tensi geopolitik. Sebagai gambaran, kenaikan 10% harga Brent berpotensi meningkatkan earnings per share (EPS) sebesar 16%-19% pada periode 2026-2028," tulis mereka dalam riset, dikutip Rabu (8/4/2026).
UBS memperkirakan harga Brent 2026-2027 akan ada di kisaran US$65 sampai US$70 per barel. Dalam jangka menengah dan panjang, outlook harga minyak global dinilai penuh ketidakpastian.
Dengan ekspektasi peningkatan pendapatan tersebut, UBS menaikkan target harga MEDC dari Rp2.000 menjadi Rp2.570 dengan rekomendasi buy yang dipertahankan.
Sementara itu, Analis BRI Dana Reksa Sekuritas, Andhika Audrey dan Naura Reyhan Muchlis dalam risetnya menghitung bahwa penambahan porsi kepemilikan MEDC di PSC Corridor dapat menambah sekitar US$145 juta EBITDA dalam kondisi harga wajar migas, termasuk sekitar US$90 juta dari kontrak tetap segmen gas.
"Kami memperkirakan Corridor PSC akan sepenuhnya tercermin di kinerja 2026 dan berkontribusi sekitar 30% terhadap total produksi MEDC dan menjadi tulang punggung portofolio migasnya," tulis riset tersebut.
Sementara itu, akuisisi 45% participating interest di Sakakemang PSC akan menjadi opsi pertumbuhan tambahan, dengan produksi awal diperkirakan pada 2027 yang berpotensi menambah volume sekitar 15.000–20.000 boepd bagi MEDC.
Dari sisi fundamental, BRI Dana Reksa Sekuritas mengestimasi pertumbuhan laba bersih MEDC 2026-2027 sebesar 12%-37%. Asumsi ini mempertimbangkan asumsi harga minyak yang konservatif di level US$65 per barel, namun dapat diimbangi oleh kenaikan produksi migas MEDC tahun ini.
Sekuritas merekomendasikan Buy MEDC dengan target harga Rp2.000, usai melakukan rerating dari target harga sebelumnya di Rp1.320. Pada penutupan pasar Rabu (8/4/2026), harga saham MEDC turun 4,60% ke Rp1.555.
"Risiko utama ke depan adalah harga minyak yang lebih lemah dari ekspektasi dan keterlambatan normalisasi operasional PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN)," tandasnya.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





