Presiden Prabowo Subianto mengatakan, fenomena masyarakat yang kerap mengkritik tanpa ikut bekerja sudah terjadi sejak lama. Bahkan, hal ini dinilai sebagai titik awal mula penjajahan bisa masuk.
Menurutnya, fenomena itu membuat bangsa lain bisa merampok kekayaan negara dan membuat rakyat menjadi budak.
"Jadi saudara-saudara ini fenomena tapi ini ada di banyak negara nanti saya jelaskan fenomena ini bukan satu-dua tahun, sudah ratusan tahun," ujar Prabowo dalam rapat kerja pemerintah di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (8/4).
"Bahwa waktu kita diganggu dijajah bangsa asing selalu ada saudara-saudara kita dari bangsa kita sendiri, yang juga mempermudah bangsa asing itu menjajah kita, merampok kekayaan kita, membuat kita budak itu saudara kita juga," tambahnya.
Ketua Umum Gerindra ini menyebut, fenomena ini bisa menjadi bibit timbulnya sifat iri dan dengki. Termasuk menimbulkan rasa kebencian di tengah masyarakat.
Terlebih, saat ini perkembangan teknologi sudah memunculkan kecerdasan buatan (AI). Dengan adanya AI, dinilai bisa menimbulkan adanya echo chamber.
"Seolah-olah jadi yang agak repot 100 orang, 200 orang, 1.000 orang, 5.000 orang, bisa bikin heboh ini namanya echo chamber. Ada dalam pelajaran intelijen, ada. Bagaimana mau merusak negara lain dulu, kirim pasukan, bom. Sekarang tidak perlu mungkin permainan sosmed fitnah, hoaks," ungkapnya.
Prabowo mengungkit dirinya juga pernah menjadi korban AI. Suaranya bahkan diubah ke dalam bahasa asing.
"AI bisa membuat seorang dia bicara yang dia tidak bicara, saya sering itu. Saya ini suara saya jelek, ndak bisa nyanyi. Ada di YouTube, Prabowo nyanyi, suara saya bagus banget, saya kaget, boleh juga nih. Kalau menguntungkan boleh, kalau tidak bagaimana," ucapnya.





