JAKARTA, KOMPAS.com – Fenomena jasa joki skripsi yang kian marak di kalangan mahasiswa dinilai bukan sekadar persoalan moral individu, melainkan cerminan kegagalan sistem pendidikan tinggi dalam mengakomodasi keragaman kemampuan dan kebutuhan mahasiswa.
Pengamat pendidikan, Ina Liem, menilai praktik ini merupakan akumulasi dari berbagai persoalan struktural yang telah lama terjadi, mulai dari ketidaksesuaian sistem pembelajaran hingga lemahnya implementasi kebijakan di tingkat perguruan tinggi.
“Fenomena joki skripsi sebenarnya bukan masalah baru, tapi sekarang skalanya makin besar dan makin terang-terangan. Ini akumulasi dari beberapa kegagalan desain sistem pendidikan kita,” ujar Ina saat dihubungi Kompas.com, Selasa (7/4/2026).
Menurut dia, salah satu akar persoalan terletak pada ketidaksesuaian antara karakter mahasiswa dengan tuntutan akademik yang seragam.
Baca juga: Di Balik Jasa Joki Skripsi, Tak Semua Mahasiswa Berujung Lulus
Ia menjelaskan, tidak semua mahasiswa memiliki profil yang sama. Sebagian mahasiswa memiliki kecenderungan kuat dalam aspek konseptual dan riset, sementara sebagian lainnya lebih unggul dalam praktik dan implementasi.
“Masalahnya, sistem perguruan tinggi kita masih cenderung satu arah. Semua diperlakukan seolah harus menjadi konseptor. Akhirnya semua dipaksa menulis skripsi,” kata Ina.
Padahal, lanjut dia, bagi mahasiswa dengan kecenderungan praktis, skripsi bukan hanya sulit, tetapi juga sering kali tidak relevan dengan cara belajar mereka.
Ina juga menyoroti belum kuatnya diferensiasi institusi pendidikan tinggi di Indonesia. Di sejumlah negara, terdapat pemisahan yang jelas antara universitas berbasis riset dan institusi berbasis praktik.
Baca juga: Joki Skripsi di Kalangan Mahasiswa: Tarif, Cara Kerja, hingga Risiko yang Mengintai
“Di banyak negara, ada dua jalur jelas: research-based university (cocok untuk konseptor dengan skripsi) dan university of applied sciences (cocok untuk praktisi dengan project),” ujar dia.
Menurut Ina, Indonesia sebenarnya sudah memiliki jalur vokasi dan politeknik, namun secara persepsi masih dipandang berbeda.
“Tapi secara persepsi sosial, masih dianggap ‘kelas dua’. Akhirnya semua orang berbondong-bondong masuk jalur akademik, yang memang menuntut skripsi berbasis riset,” ujarnya.
Padahal, menurut Ina, pemerintah melalui kebijakan di era Menteri Pendidikan sebelumnya telah membuka peluang fleksibilitas tugas akhir.
“Skripsi bukan lagi satu-satunya syarat kelulusan, bisa dalam bentuk proyek, produk, atau karya lain yang lebih relevan dengan bidang dan profil mahasiswa. Artinya, secara kebijakan, pintunya sudah dibuka,” kata Ina.
Namun, ia menilai implementasi kebijakan tersebut belum berjalan optimal di banyak kampus. Banyak kampus masih bertahan dengan pola lama, seolah skripsi adalah satu-satunya standar kelulusan.
“Di sisi lain, belum semua institusi siap merancang alternatif tugas akhir yang benar-benar berkualitas, dan tidak sedikit juga yang belum berani keluar dari zona nyaman sistem yang sudah berjalan puluhan tahun,” jelas Ina.
Baca juga: Joki Skripsi di Kalangan Mahasiswa: Tarif, Cara Kerja, hingga Risiko yang Mengintai
Kondisi ini, lanjut dia, membuat mahasiswa yang tidak cocok dengan model skripsi akhirnya mencari jalan pintas.
“Dalam kondisi seperti ini, sebagian dari mereka akhirnya mencari jalan pintas. Dan di situlah joki skripsi menemukan pasarnya,” ucap Ina.
Bisnis Joki Tumbuh dari Kebutuhan EkonomiDi balik maraknya praktik ini, terdapat individu yang melihat peluang ekonomi dari kebutuhan mahasiswa.
Salah satunya adalah Haikal (bukan nama sebenarnya), pria berusia 30 tahun asal Jakarta Timur yang membuka jasa joki skripsi sejak 2025.
Haikal mengaku awalnya membuka jasa tersebut karena alasan ekonomi.
Baca juga: Jasa Joki Game, Jalan Pintas Pemain untuk Rank Tinggi dan Pengakuan Sosial
“Kepepet, BU (butuh uang),” ujar Haikal.
Usahanya dimulai secara bertahap dan hingga kini masih berjalan. Dalam satu tahun terakhir, ia mengaku telah menangani sekitar 10 klien, di luar permintaan pengerjaan tugas kuliah lainnya.
Menurut Haikal, kliennya berasal dari berbagai kalangan, meski mayoritas adalah mahasiswa tingkat akhir.
“Lebih banyak mahasiswa tingkat akhir, tapi enggak menutup kemungkinan mereka juga sambil kerja,” tutur dia.
Dalam praktiknya, layanan yang ditawarkan cukup fleksibel, mulai dari pengerjaan sebagian bab hingga skripsi secara keseluruhan.
“Tergantung permintaan, ada yang dari awal sampai selesai, ada juga yang cuma bab 4 dan 5,” ujar Haikal.
Baca juga: Menjamurnya Jasa Joki Game: Dari Hobi Jadi Cuan, Omzet Tembus Ratusan Juta





