Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pada Selasa (25/3/2026), rupiah ditutup melemah ke level Rp17.105 per dolar AS, dipicu sentimen risk off akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan analisis Doo Financial Futures, rupiah turun 70 poin atau 0,41% ke posisi tersebut. Meski indeks dolar AS tercatat melemah tipis, tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti Indonesia tetap terjadi karena investor cenderung mencari aset yang lebih aman.
Sejumlah mata uang Asia seperti dolar Singapura, won Korea Selatan, rupee India, hingga yuan China terpantau menguat. Namun rupiah justru melemah di tengah kondisi tersebut. Analis menilai ketidakpastian global membuat aliran modal asing keluar dari pasar domestik, sehingga menekan nilai tukar.
Penyebab Rupiah MelemahMengacu pada informasi dari Pegadaian, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Permintaan dolar di dalam negeri yang meningkat membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar, terutama saat pelaku usaha membutuhkan valuta asing untuk berbagai kewajiban pembayaran. Selain itu, gejolak ekonomi dan politik global, termasuk konflik dan lonjakan harga energi, turut memperburuk sentimen pasar.
Di sisi lain, penurunan ekspor dan investasi asing menyebabkan pasokan devisa berkurang. Kebijakan suku bunga tinggi dari Federal Reserve juga membuat dana global lebih banyak mengalir ke Amerika Serikat, sehingga menekan nilai tukar rupiah.
Kenapa KPR Bisa Ikut Naik?Pelemahan rupiah tidak secara langsung menaikkan cicilan KPR, tetapi memicu serangkaian efek berantai yang berujung pada kenaikan suku bunga kredit. Berikut penyebab utamanya:
Baca Juga
- DPR Sebut Bauran Kebijakan BI Tangani Rupiah Masih Konvensional
- Rupiah Tembus Rp17.105, BI Tegaskan Stabilitas Jadi Prioritas Utama
- Rupiah Tembus Rp17.100 per Dolar AS, Wamenkeu Juda Sebut Tak jadi Masalah APBN
Ketika rupiah melemah, harga barang impor seperti bahan bakar, pangan, dan bahan baku industri ikut naik. Hal ini mendorong inflasi dalam negeri. Untuk menekan inflasi, bank sentral biasanya merespons dengan kebijakan pengetatan.
2. Suku bunga acuan berpotensi dinaikkan oleh Bank IndonesiaDalam kondisi inflasi tinggi dan nilai tukar tertekan, Bank Indonesia cenderung menaikkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas rupiah. Kenaikan ini kemudian menjadi acuan bagi perbankan dalam menentukan bunga kredit, termasuk KPR.
3. Biaya dana perbankan ikut meningkatSaat suku bunga acuan naik, biaya yang harus ditanggung bank untuk menghimpun dana juga meningkat. Agar tetap menjaga margin keuntungan, bank akan menyesuaikan bunga pinjaman kepada nasabah.
4. Risiko kredit dinilai lebih tinggi oleh bankKetidakpastian ekonomi global membuat sektor perbankan lebih berhati-hati. Risiko gagal bayar dianggap meningkat, sehingga bank cenderung menaikkan bunga kredit sebagai langkah mitigasi risiko.
Pelemahan rupiah di tengah konflik global tidak hanya berdampak pada nilai tukar, tetapi juga berpotensi memicu kenaikan suku bunga kredit, termasuk KPR. Hal ini terjadi melalui mekanisme inflasi, kebijakan suku bunga, hingga peningkatan risiko di sektor perbankan.
Memahami faktor-faktor tersebut penting agar masyarakat tidak hanya melihat kenaikan cicilan sebagai dampak akhir, tetapi juga memahami proses ekonomi yang melatarbelakanginya. Dengan begitu, keputusan finansial seperti mengambil KPR bisa dilakukan dengan lebih matang di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.





