Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan eskalasi konflik di Timur Tengah mulai menekan pasokan bahan baku plastik nasional berbasis nafta dan mendorong kenaikan biaya produksi di tingkat industri hulu.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan gangguan distribusi dan produksi global berdampak langsung terhadap sektor petrokimia yang bergantung pada minyak bumi.
“Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah telah memicu koreksi suplai pada sektor-sektor industri yang bergantung pada nafta sebagai bahan baku utama,” ujarnya, dalam jawaban resmi, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Menurut Agus, plastik sebagai produk turunan petrokimia sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik global, sehingga gangguan pasokan nafta turut memicu koreksi harga di tingkat produksi.
“Memang terjadi koreksi harga di tingkat produksi akibat kenaikan biaya bahan baku global,” katanya.
Meski demikian, pemerintah memastikan ketersediaan produk plastik di pasar tetap terjaga. Berdasarkan data Indeks Kepercayaan Industri (IKI), subsektor industri kemasan masih berada dalam fase ekspansi tinggi pada Maret 2026, yang mencerminkan aktivitas produksi tetap berjalan.
Baca Juga: DPR: Kenaikan Harga Plastik Picu Tekanan Biaya Serius bagi UMKM
Baca Juga: Harga Plastik Naik Drastis, Pedagang Ikut Terdampak
Agus menegaskan masyarakat dan pelaku industri hilir tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan stok karena pemerintah terus menjalankan pengamanan pasokan secara paralel.
“Ketersediaan produk plastik dipastikan masih tersedia di pasar,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi tekanan lebih lanjut, Kemenperin memperkuat koordinasi dengan pelaku industri guna menjaga stabilitas produksi dan distribusi di tengah gangguan rantai pasok global.





