Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI), Vahd Nabyl A. Mulachela, menegaskan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran membuka peluang pemulihan pelayaran di Selat Hormuz.
Selain itu, gencatan senjata tersebut juga membuka harapan lahirnya resolusi konflik permanen yang berdampak positif bagi Indonesia, kawasan Teluk, dan dunia.
"Dengan adanya perkembangan ini, kami berharap supaya bisa berkembang menjadi resolusi konflik yang lebih permanen dan berdampak baik bagi kepentingan kita, baik dalam hal kebebasan navigasi maupun untuk ke depannya," kata Nabyl, dikutip dari Antara, Rabu (8/4).
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran selama dua pekan. Dan menyatakan Selat Hormuz akan segera dibuka.
"Saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan ke Iran selama dua pekan. Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah," kata Trump di Truth Social.
Baca Juga: Efek Damai Sementara AS–Iran, IHSG Hari Ini Ditutup Lompat 4,42% ke 7.279
Baca Juga: Meski Sepakat Lakukan Gencatan Senjata, Tapi Iran Tetap Pakai Mode Siaga dan Tak Percaya Full terhadap AS
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menyatakan bahwa pihaknya telah menyetujui gencatan senjata selama empat belas hari dengan AS yang merupakan hasil mediasi Pakistan.
"Saya menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan ke Perdana Menteri Pakistan Sharif dan Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir. Hal ini atas upaya tanpa lelah mereka untuk mengakhiri perang dalam kawasan ini," kata Araghchi.





