Di Tengah Lonjakan Harga Plastik, WALHI Usulkan Daun Pisang dan Kertas Jadi Alternatif

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyarankan penggunaan daun pisang dan kertas sebagai alternatif di tengah harga plastik yang terus melonjak.

"Bisa mulai mengurangi ketergantungan pada plastik secara bertahap, misalnya bahan berbasis lokal, seperti daun pisang atau kemasan kertas," ucap Pengkampanye Urban Berkeadilan dan Kebijakan Tata Ruang di Eksekutif WALHI Wahyu Eka Styawan ketika dihubungi Kompas.com, Senin (6/4/2026).

Penggunaan bahan alternatif seperti daun pisang dan kemasan kertas dinilai perlu terus digencarkan oleh pemerintah kepada masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Baca juga: Jasa Joki Tugas Jadi Ladang Cuan, Mahasiswa Ini Kantongi Jutaan Rupiah

Dengan langkah tersebut, ketergantungan terhadap plastik diharapkan dapat berkurang secara bertahap.

"Kenaikan harga plastik sebenarnya menunjukkan satu hal penting bahwa ya selama ini kita terlalu bergantung pada bahan yang tidak stabil dan berbasis energi fosil," sambung Wahyu.

Tak semurah yang dibayangkan

Selama ini, banyak pelaku UMKM bergantung pada plastik karena harganya yang dianggap murah.

Namun, menurut Wahyu, plastik terlihat murah karena biaya lingkungan yang ditimbulkannya tidak pernah benar-benar diperhitungkan.

Ketika harga bahan baku plastik naik seperti saat ini, UMKM menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Karena itu, persoalan ini tidak hanya terkait ekonomi jangka pendek, tetapi juga menunjukkan bahwa model usaha berbasis plastik cukup rentan.

Dari sisi dampak, penggunaan plastik juga menimbulkan persoalan kompleks bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Wahyu menjelaskan bahwa sampah plastik yang dibuang tidak benar-benar hilang, melainkan terurai menjadi partikel kecil yang disebut mikroplastik.

Mikroplastik dapat mencemari tanah, air, serta sumber makanan, di antaranya padi dan ikan. Ketika bahan makanan tersebut dikonsumsi manusia, hal itu berpotensi mengganggu kesehatan.

"Dalam jangka panjang, biaya yang kita tanggung jauh lebih besar dibandingkan murahnya plastik hari ini," ungkap dia.

Baca juga: 2 Pelaku Copet di Stasiun Jatinegara Ditangkap, Salah Satunya Residivis 17 Tahun

Oleh karena itu, penggunaan bahan alternatif seperti daun pisang dan kemasan kertas harus terus digencarkan.

Tak mudah lakukan transisi

Meski demikian, beralih dari plastik ke bahan yang lebih ramah lingkungan bukan hal mudah. Tantangan utama terletak pada biaya yang cenderung lebih tinggi.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Namun, Wahyu menilai tantangan tersebut dapat diimbangi dengan peningkatan nilai jual produk UMKM.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Soroti Bahaya AI: Ada Video Saya Bernyanyi dan Pidato Mandarin, Padahal Tidak Pernah
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Sopir Truk asal Wonogiri ini dapat Rezeki Nomplok, Bertemu Kang Dedi Mulyadi Langsung Diberikan Bantuan
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Kemdiktisaintek Dorong Kampus Cetak Talenta Global Lewat Penguatan CDC
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Inara Rusli Batal Diperiksa Terkait Kasus Perzinaan karena Sakit
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Tegaskan Pertahankan Subsidi BBM, Sebut Krisis Dunia Jadi Peluang Pemerintah
• 9 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.