Bisnis.com, JAKARTA — Target swasembada gula nasional pada 2027 menghadapi tantangan baru di sektor hilir, seiring dengan beratnya beban industri gula kristal rafinasi dalam memenuhi kewajiban integrasi dengan perkebunan tebu.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengungkapkan terdapat tiga kendala utama yang dihadapi industri gula kristal rafinasi dalam mengimplementasikan kewajiban kepemilikan kebun tebu.
Kendala pertama berasal dari sisi produksi. Dia menjelaskan, pabrik gula kristal rafinasi yang berdiri sebelum regulasi baru pada dasarnya hanya dirancang untuk memurnikan gula kristal mentah menjadi gula kristal rafinasi.
Perubahan bahan baku dari gula kristal mentah ke tebu membutuhkan investasi baru, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan tebu serta penyesuaian lini produksi yang selama ini tidak dipersiapkan untuk operasi berbasis tebu.
“Perubahan bahan baku dari gula kristal mentah ke tebu memerlukan investasi tambahan dan penyesuaian lini produksi,” ujarnya dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (8/4/2026).
Kendala kedua terkait keterbatasan lahan. Sebagian besar pabrik gula rafinasi berlokasi di kawasan dekat pelabuhan, terutama di Banten, sementara ketersediaan lahan tebu di wilayah tersebut sangat terbatas.
Baca Juga
- Mentan Ungkap Banjir Rafinasi Buat Gula Petani Tak Terserap hingga BUMN Rugi
- Mentan Ungkap 80% Tebu Sudah Tua, Swasembada Gula 2027 Dipenuhi Tantangan
- BPOM Teken Rancangan Aturan Label Kandungan Gula, Garam & Lemak Produk Pangan
Di sisi lain, lahan tebu yang tersedia saat ini lebih difokuskan untuk produksi gula kristal putih guna memenuhi kebutuhan konsumsi domestik, sehingga ruang ekspansi untuk industri rafinasi menjadi terbatas.
Adapun kendala ketiga berasal dari aspek logistik. Faisol menjelaskan, kewajiban kepemilikan kebun tebu berpotensi membuat lokasi perkebunan jauh dari pabrik rafinasi.
Kondisi ini dinilai tidak ideal karena tebu harus segera digiling setelah panen untuk menjaga rendemen tetap optimal. Jarak yang terlalu jauh berisiko menurunkan kualitas bahan baku dan efisiensi produksi.
“Dari aspek logistik, tebu harus segera digiling untuk menjaga rendemen tetap optimal,” ujarnya.
Sejumlah kendala tersebut menunjukkan bahwa implementasi kebijakan integrasi hulu-hilir industri gula memerlukan penyesuaian signifikan, terutama bagi pabrik rafinasi yang sejak awal berbasis bahan baku impor.





