BPJS Kesehatan mempercepat transformasi digital sebagai strategi utama untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas layanan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), termasuk melalui pemanfaatan artificial intelligence (AI).
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengatakan penguatan layanan berbasis teknologi difokuskan untuk memenuhi kebutuhan respons yang cepat dan solutif bagi peserta.
“BPJS Kesehatan memahami perlunya respon cepat solutif untuk meningkatkan tingkat kepuasan publik. Hal ini akan dilakukan melalui beberapa upaya, melalui pelayanan peserta pada kantor cabang yang ada di seluruh kabupaten atau kota,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Selain layanan tatap muka, BPJS Kesehatan mengoptimalkan berbagai kanal digital, antara lain aplikasi Mobile JKN, layanan WhatsApp Pandawa yang kini tersedia 24 jam, serta platform lain seperti care center 165, Mal Pelayanan Publik, dan situs resmi.
“Respon cepat solutif ini mendukung kemudahan dan kecepatan akses pemberian informasi pengaduan dan pelayanan peserta,” kata Prihati.
Transformasi digital juga diterapkan dalam pengelolaan kerja sama dengan fasilitas kesehatan melalui sistem berbasis geospasial. Sistem ini mendukung perluasan layanan, termasuk ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) melalui skema layanan bergerak seperti rumah sakit apung.
Di sisi operasional, BPJS Kesehatan memanfaatkan digitalisasi untuk menjaga efisiensi keuangan melalui sistem pembayaran berbasis kinerja serta penerapan intelligent claim berbasis AI guna meningkatkan akurasi dan kecepatan proses klaim.
Baca Juga: BPJS Catat Ada 58 Juta Peserta Berstatus Nonaktif
Baca Juga: WNA Bisa Jadi Peserta JKN, Ini Kata Dirut BPJS Kesehatan
Baca Juga: BPJS Kesehatan Jebol! Klaim Tembus 111%, Defisit di Depan Mata
“BPJS Kesehatan menyadari pilar-pilar strategi dan upaya implementasinya membutuhkan sumber daya digital sebagai fondasi. Untuk itu, transformasi digital terus dilakukan oleh BPJS Kesehatan,” ujarnya.
Lebih lanjut, penguatan teknologi juga mencakup pengembangan sistem anti-fraud cerdas, layanan digital self-service, serta pemanfaatan analisis data untuk meningkatkan kualitas layanan secara menyeluruh.





