Ahli Beberkan Risiko Konsumsi Kental Manis Sebagai Susu Harian

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Kental manis masih banyak digunakan untuk menambah rasa pada berbagai makanan dan minuman. Rasanya yang manis dan teksturnya yang kental memang membuat produk ini jadi favorit di banyak sajian. Namun, selain sebagai pelengkap, kental manis juga ternyata masih sering dikonsumsi sebagai minuman susu harian oleh sebagian orang.

Padahal, produk ini sebenarnya tidak dirancang untuk dikonsumsi sebagai pengganti susu. Sebab, kandungan gulanya jauh lebih tinggi dibandingkan susu segar maupun susu ultra high temperature (UHT), sehingga tidak dapat disamakan dengan susu yang dikonsumsi sehari-hari.

Menurut dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Karina Rahmadia Ekawidyani, susu kental manis (SKM) merupakan produk olahan susu yang dibuat dengan cara mengurangi kadar air dan menambahkan gula dalam jumlah besar, yakni sekitar 40-50 persen. Komposisi inilah yang membuat SKM memiliki karakteristik yang berbeda dari susu pada umumnya.

“Karena komposisi susunya sudah jauh lebih rendah, kandungan protein dan lemaknya juga tidak sesuai jika dikonsumsi sebagai susu harian, maka kalau dijadikan susu minum utama, ada risiko kesehatan,” kata Karina seperti dikutip dari laman IPB University, Rabu (8/4).

Menurut Karina, jika dibandingkan dengan susu segar dan susu UHT, kandungan gizi dalam SKM relatif lebih rendah. Meskipun masih mengandung lemak dan protein, jumlahnya belum mampu mencukupi kebutuhan gizi harian. Oleh karena itu, anggapan bahwa SKM setara dengan susu minum dinilai tidak tepat.

Ia juga mengungkapkan bahwa hampir setengah dari kandungan SKM adalah gula. Dalam satu takaran saji sekitar 30 gram atau setara tiga sendok makan, terdapat kurang lebih 15 gram gula. Sedangkan, pedoman gizi seimbang menganjurkan batas konsumsi gula harian sebanyak 50 gram.

“Artinya, jika seseorang mengonsumsi sekitar sembilan sendok makan SKM dalam sehari, jumlah tersebut sudah mencapai batas konsumsi gula harian,” jelasnya.

Untuk itu, Karina mengingatkan pentingnya memperhatikan takaran saji pada kemasan. Ia juga menyarankan penggunaan sendok takar agar konsumsi gula tetap terkontrol dalam keseharian.

“Jangan langsung menuangkan dari kaleng. Dengan menakar, kita bisa mengetahui batas penggunaannya,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan fungsi utama SKM adalah sebagai pemanis atau pelengkap rasa pada makanan dan minuman, bukan sebagai pengganti susu untuk konsumsi sehari-hari, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan asupan gizi seimbang untuk tumbuh kembangnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kejuaraan Asia 2026: Alwi Farhan dan Jonathan Christie Kompak Habisi Tunggal Putra Malaysia
• 1 jam laluharianfajar
thumb
Prabowo Presiden Tidak Mempermasalahkan Upaya Pemakzulan Asalkan Sesuai Aturan
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Gigi Berlubang pada Anak Apakah Menular? Waspada Bahaya Berikut Ini!
• 10 jam lalutheasianparent.com
thumb
Ciara Luncurkan Body Salve Kemangi Pertama di Indonesia berbasis Riset Ilmiah
• 10 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Fasilitas Label Halal dari Pertamina Bawa MiniesQ Tembus Pasar Ritel
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.