Jakarta, VIVA – Lonjakan kasus katarak di Indonesia kini menjadi perhatian serius di dunia kesehatan. Penyakit mata yang kerap dianggap sepele ini ternyata menyimpan risiko besar, bahkan bisa berujung pada kebutaan permanen jika tidak segera ditangani. Ironisnya, jumlah penderita terus bertambah, sementara kemampuan penanganan belum mampu mengimbangi.
Indonesia saat ini disebut menghadapi kondisi yang disebut sebagai “backlog” kasus katarak. Artinya, jumlah pasien jauh lebih banyak dibandingkan kapasitas tindakan medis yang tersedia. Hal ini tentu menjadi tantangan besar, terutama dalam upaya menekan angka kebutaan di Tanah Air.
“Dengan jumlah operasi saat ini, kita butuh waktu sekitar sebelas tahun untuk menyelesaikan kasus katarak. Itu pun dengan asumsi tidak ada kasus baru,” ujar Dokter Spesialis Mata Subspesialis Katarak dan Bedah Refraksi RS Pondok Indah, Amir Shidik di Jakarta Selatan pada Rabu, 8 April 2026.
Salah satu penyebab tingginya angka katarak adalah keterbatasan akses layanan kesehatan, terutama di daerah terpencil. Fasilitas operasi dan dokter spesialis mata masih banyak terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara masyarakat di wilayah pelosok harus menghadapi berbagai keterbatasan.
Tak hanya itu, faktor lain yang cukup menghambat adalah masih banyaknya mitos di masyarakat. Sebagian orang percaya bahwa katarak bisa sembuh tanpa operasi, atau justru takut menjalani tindakan medis.
“Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan katarak. Obat tetes hanya memperlambat proses, bukan menghilangkan kekeruhan lensa,” tegas Amir.
Padahal, teknologi medis saat ini sudah memungkinkan operasi katarak dilakukan dengan cepat dan relatif aman, dengan tingkat keberhasilan yang tinggi.
Gejala yang Sering Terbaikan dan Cara untuk MencegahKatarak biasanya berkembang secara perlahan, sehingga banyak penderita tidak menyadari kondisinya sejak awal. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain penglihatan mulai kabur, terasa silau saat melihat cahaya terang, hingga warna yang terlihat semakin pudar.
Selain itu, ada juga gejala seperti sering berganti ukuran kacamata atau fenomena “second sight”, di mana penglihatan dekat justru terasa membaik sementara. Sayangnya, banyak orang menganggap gejala tersebut sebagai hal biasa akibat bertambahnya usia.





