Bisnis.com, PADANG - Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade membenarkan telah ada pembicaraan awal terkait rencana PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) untuk mengaktifkan kembali operasi tambang dalam batu bara di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat.
Andre mengatakan bahwa pada pekan lalu pihak PTBA telah melakukan diskusi dengan Komisi VI DPR RI, dimana ada rencana untuk mengaktifkan kembali operasi tambang dalam di Sawahlunto. Hal ini turut disambut positif, karena dinilai dapat menumbuhkan ekonomi bagi Sawahlunto.
“Saya selaku wakil rakyat dari Sumbar telah menyampaikan juga ke PTBA, apabila ini jalan, PTBA bisa juga melakukan penggunaan aset-aset yang tidak terpakai selama ini bisa digunakan kembali Hak Guna Bangunan (HGB) di atas Hak Pengelolaan (HPL),” katanya di Padang, Rabu (8/4/2026).
Dia menjelaskan terkait hal tersebut, sampai saat ini PTBA masih melakukan kajian lebih lanjut, dana akan ada pertemuan kembali antara PTBA dengan Komisi VI DPR RI. Namun di satu sisi, rencana ini sangat positif dilakukan, dana akan memberikan dampak yang baik geliat ekonomi di daerah.
“Setelah nantinya kajian dan rencana ini matang, maka akan ada pembahasan kembali,” ujar Andre.
Untuk diketahui bahwa tambang batubara di Sawahlunto ini merupakan tambang lama yang beroperasi sejak akhir abad 19, dan berakhir beroperasi pada 2016.
Baca Juga
- Bukit Asam (PTBA) Cari Mitra Bangun PLTU di Mempawah, Mulai Pengerjaan Fisik 2027
- Ini Alasan Bukit Asam (PTBA) Belum Prioritaskan Aksi Buyback Saham Saat Ini
- RKAB Tak Dipangkas, Bukit Asam (PTBA) Targetkan Produksi 50 Juta Ton Batu Bara pada 2026
Keberadaan tambang Ombilin ini, juga menjadi penting bagi Sumbar, karena telah menjadi Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) dan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO pada 6 Juli 2019.
Sebelumya pada situs resmi PTBA menyampaikan bahwa perseroan yang merupakan anggota dari Grup MIND ID ini mencatatkan peningkatan kinerja operasional yang solid sepanjang tahun 2025.
Di tengah tantangan koreksi harga batu bara global, Perseroan berhasil meningkatkan volume produksi sebesar 9% menjadi 47,2 juta ton, serta mencatatkan kenaikan volume penjualan sebesar 6% yang mencapai 45,4 juta ton.
Sejalan dengan peningkatan produksi dan penjualan, volume angkutan batu bara juga naik 6% dari yang sebelumnya 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton di tahun 2025.
Capaian positif pada sisi hulu dan hilir ini mencerminkan keberhasilan strategi adaptif perusahaan dalam menjaga kesinambungan pasokan energi, baik untuk kebutuhan domestik maupun pasar internasional.
PTBA tetap menjadi pilar utama ketahanan energi nasional dengan mengalokasikan 54% dari total penjualan untuk pasar domestik. Selain itu, PTBA juga terus melakukan ekspansi dan diversifikasi pasar global yang agresif dengan mencatatkan porsi ekspor sebesar 46%.
Selain memperkokoh posisi di negara-negara Asia seperti Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina, PTBA juga berhasil melakukan penetrasi pasar baru ke benua Eropa, yakni ke Spanyol dan Rumania.
Meskipun di tengah tantangan volatilitas pasar global, kinerja keuangan PTBA juga masih sehat didukung dengan arus kas yang kuat secara finansial. Sepanjang 2025, PTBA mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,93 triliun dengan EBITDA mencapai Rp6,08 triliun.
Meskipun profitabilitas mengalami tekanan harga global, Perseroan menunjukkan pemulihan (recovery) yang menjanjikan secara kuartalan. Hal ini didukung oleh posisi keuangan yang tetap kokoh, ditandai dengan kenaikan arus kas operasi yang tumbuh signifikan sebesar 24% menjadi Rp6,26 triliun, mencerminkan fundamental bisnis yang sehat.
Pertumbuhan aset meningkat menjadi Rp43,92 triliun didorong oleh penambahan aset tetap strategis. Realisasi belanja modal (CapEx) sebesar Rp4,55 triliun difokuskan pada pengembangan infrastruktur jangka panjang, termasuk proyek angkutan batubara relasi Tanjung Enim – Kramasan.
Memasuki tahun 2026, PTBA menyambut positif persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tanpa adanya pemotongan volume produksi. Perseroan membidik target produksi dan penjualan sebesar 49,5 juta ton pada tahun ini.
Strategi cost leadership melalui skema selective mining dan optimasi rantai pasok akan terus menjadi mesin utama perusahaan untuk menjaga daya saing.
Dengan fokus pada efisiensi dan pengembangan bisnis yang berkelanjutan dengan tetap mengedepankan kepatuhan terhadap tata kelola perusahaan, PTBA optimis dapat menjaga kinerja positif yang berkelanjutan untuk berkontribusi pada perekonomian bangsa serta menjaga ketahanan energi nasional.





