REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Rencana pembangunan bandara di Makkah sedang berlangsung. Pembangunan itu seiring kota tersebut yang tengah melanjutkan peningkatan besar di bidang transportasi dan infrastruktur.
CEO Komisi Kerajaan untuk Kota Makkah dan Tempat-Tempat Suci, Saleh Al-Rasheed, mengatakan dalam wawancara dengan Harvard Business Review beberapa hari lalu, bahwa persetujuan telah diperoleh untuk arah investasi strategis dan ekonomi guna mengembangkan Bandara Makkah. Proyek ini sesuai standar global, dengan tujuan melayani jutaan pengunjung.
Baca Juga
Prabowo Minta Terminal Khusus Haji Indonesia di Arab Saudi
Korsel Serahkan Satu Prototipe Jet Tempur Boramae ke RI Jika Bayar Rp 6,8 Triliun
Kemitraan Jadi Kunci Usaha Kecil Perluas Pasar
Ia menambahkan bahwa Komisi akan bekerja sama dengan sektor swasta untuk mengembangkan model investasi yang sesuai tanpa memengaruhi kelayakan bandara di kota-kota sekitarnya. Al-Rasheed mengatakan bahwa studi kelayakan dan desain awal untuk Metro Makkah juga telah diselesaikan.
Selain transportasi, ia menguraikan upaya yang lebih luas untuk meningkatkan layanan dan pengalaman secara keseluruhan bagi penduduk dan pengunjung melalui proyek-proyek yang mencakup perumahan, infrastruktur, dan layanan publik. Namun, dengan tetap memastikan kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ia menyoroti target kinerja utama, termasuk meningkatkan tingkat kepuasan penduduk dan pengunjung hingga 90,5 persen pada tahun 2025. Di antara inisiatif tersebut adalah program “Smart Makkah,” yang menggunakan kecerdasan buatan untuk memantau dan mengelola pergerakan kerumunan di Masjidil Haram dan area sekitarnya.
Al-Rasheed juga menyinggung peningkatan transportasi, termasuk pengembangan sistem bus, taksi, dan transportasi terpandu, serta peluncuran “Makkah Taxi,”. Kendaraan ini menghadirkan kendaraan modern dengan sistem pelacakan dan opsi pembayaran elektronik, termasuk model listrik dan hibrida.