PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump melontarkan gagasan kontroversial mengenai rencana pengelolaan tol bersama di Selat Hormuz. Usulan ini dijadwalkan menjadi salah satu poin bahasan dalam rangkaian perundingan antara Washington dan Teheran dalam waktu dekat.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi pada Rabu (8/4) bahwa ide tersebut merupakan inisiatif langsung dari Presiden Trump. "Itu ide yang disampaikan presiden. hal itu akan terus dibahas selama dua pekan ke depan," ujar Leavitt dalam konferensi pers di Washington.
Usaha Patungan Lintas NegaraLaporan awal dari ABC News menyebutkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan pembentukan kerja sama usaha patungan (joint venture) dengan Iran. Inti dari proposal ini YAITU pengenaan tarif tol bagi setiap kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Baca juga : Proposal 10 Poin Iran untuk Akhiri Perang dengan AS dan Israel
Meski gagasan pungutan tol ini mencuat, Leavitt memberikan catatan penting mengenai prioritas jangka pendek Gedung Putih. Ia menegaskan bahwa fokus utama Trump saat ini yaitu memastikan jalur perairan tersebut segera dibuka kembali tanpa batasan apa pun, termasuk kemungkinan tanpa pungutan tol pada tahap awal normalisasi.
Gencatan Senjata dan Diplomasi di IslamabadLangkah diplomasi ini menyusul pengumuman penting pada Selasa malam (7/4) saat Presiden Trump menyatakan telah menyepakati gencatan senjata bilateral selama dua pekan dengan Iran. Kesepakatan sementara ini mencakup komitmen Iran untuk membuka kembali akses di Selat Hormuz yang sempat terganggu akibat eskalasi militer.
Sebagai tindak lanjut konkret, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan kesiapannya untuk berdialog. Teheran dijadwalkan memulai pembicaraan resmi dengan utusan Amerika Serikat pada Jumat (10/4) mendatang. Pertemuan tingkat tinggi tersebut akan dilangsungkan di Islamabad, Pakistan, yang bertindak sebagai mediator netral.
Dampak Ekonomi GlobalRencana pengenaan tarif tol di Selat Hormuz diprediksi akan memicu reaksi beragam dari pelaku industri pelayaran dan negara-negara importir energi. Mengingat signifikansi jalur ini bagi pasokan minyak dunia, setiap kebijakan baru terkait biaya lintasan akan berdampak langsung pada struktur harga energi global, termasuk stabilitas nilai tukar dan harga BBM di pasar domestik.





