Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri tekstil mulai mengalihkan fokus ke pasar domestik sebagai strategi bertahan di tengah tekanan global. Pergeseran tersebut dilakukan seiring ketidakpastian pasokan bahan baku dan lonjakan biaya produksi.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Farhan Aqil Syauqi menyebut pelaku industri juga melakukan penyesuaian lini produksi dan mengembangkan produk bernilai tambah lebih tinggi. Langkah ini menjadi upaya menjaga keberlangsungan usaha dalam jangka pendek.
“Jadi salah satu caranya untuk bisa survive adalah switch ke domestic market semua. Ini sama seperti [situasi] Covid-19,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (8/4/2026).
Di sisi lain, industri mulai melihat peluang dari inovasi bahan baku alternatif. Head of PT Asia Pacific Rayon Aryo Oetomo menilai serat viscose dapat menjadi opsi strategis untuk meningkatkan daya saing.
Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan sumber daya alam berbasis kayu yang dapat dikembangkan menjadi bahan baku tekstil.
“Kalau kita kenal kayu itu untuk produk furniture, tapi ini sekarang bisa kita kembangkan untuk pilihan baku produk tekstil yang kita bilang biasanya rayon atau viscose,” jelasnya.
Baca Juga
- Industri Tekstil Genjot Ekspor ke AS, Manfaatkan Tarif Bea Masuk 0%
- Asosiasi Bersiap Modernisasi Mesin Tekstil Demi Tekan Konsumsi Energi
- Danantara Kaji Pembentukan BUMN Tekstil: Fokus Serap Tenaga Kerja
Pengembangan industri petrokimia domestik juga dinilai penting untuk mendukung kemandirian bahan baku. Infrastruktur energi seperti jaringan gas industri turut menjadi faktor pendukung efisiensi produksi.
Dengan membangun ekosistem industri yang terintegrasi, ketergantungan impor diharapkan berkurang. Strategi ini dinilai menjadi kunci untuk memperkuat daya tahan industri tekstil nasional di tengah tekanan global.
Produksi TertekanLonjakan harga bahan baku yang terjadi beberapa waktu belakangan ini juga dikhawatirkan bakal menimbulkan tekanan berat terhadap produksi industri tekstil.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Benang dan Filamen Indonesia, Redma Gita Wirawasta, mengatakan bahwa kenaikan signifikan terjadi pada sejumlah komponen bahan baku utama seperti paraxylene (PX), purified terephthalic acid (PTA), dan monoethylene glycol (MEG). Dampaknya, harga produk berbasis polyester ikut terdorong naik.
Menurut dia, kenaikan harga bahan baku polyester bahkan mencapai sekitar 40%, sementara untuk rayon relatif lebih terkendali karena hanya dipengaruhi kenaikan salah satu komponen saja.
“Harga PX, PT dan MEG-nya sudah naik 40%, jadi untuk polyester juga naik sekitar 40%,” ujar Redma kepada Bisnis, Selasa (31/3/2026).
Selain faktor harga bahan baku, tekanan juga datang dari sisi logistik. Biaya pengiriman, khususnya asuransi, mengalami peningkatan yang turut memperberat beban industri. Kondisi ini mempersempit ruang bagi pelaku usaha untuk menjaga efisiensi biaya produksi.
Di sisi pasokan, APSyFI menyebut ketersediaan bahan baku masih relatif aman hingga April 2026. Hal ini tidak terlepas dari jaminan suplai dari Pertamina, khususnya untuk bahan baku PX yang menjadi komponen penting dalam produksi polyester.





