Konflik Mereda, Kelas Menengah Masih Merana

kompas.id
22 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Meski ketegangan geopolitik mulai sedikit mereda, kelas menengah Indonesia tidak serta-merta terbebas dari belenggu masalah struktural domestik. Salah satu permasalahan mendasar yang dihadapi kelas menengah ialah penciptaan lapangan kerja berkualitas.

Kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat, Rabu (8/4/2026), memberikan sinyal positif bagi perekonomian global. Beberapa harga energi global yang sebelumnya melambung akibat memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah kini berbalik menurun.

Harga minyak mentah Brent, misalnya, anjlok sekitar 14 persen ke level 94 dolar AS per barel. Penurunan harga komoditas ini pun menjalar ke pasar keuangan. Indeks dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) dalam perdagangan Rabu turun sekitar 1 persen ke level 98,73.

Perkembangan itu juga mulai tertransmisi ke pasar keuangan domestik. Berdasarkan data Jakarta Interbank Dollar Rate (Jisdor), rupiah ditutup di level Rp 17.009 per dolar AS atau menguat sekitar 0,5 persen dibanding penutupan sebelumnya.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, berpendapat, genjatan senjata antara AS-Iran dapat mengurangi tekanan dari sisi eksternal dalam jangka pendek. Namun, dinamika tersebut tidak otomatis memperbaiki masalah struktural domestik.

”Tanpa pembenahan persoalan struktural di dalam negeri, terutama penguatan daya beli, penciptaan kerja yang lebih berkualitas, dan pemulihan kelas menengah, dampaknya terhadap konsumsi akan cepat menipis,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.

Menurut dia, salah satu fenomena yang paling menggambarkan persoalan struktural domestik ialah momentum Lebaran 2026. Meski roda ekonomi tetap berputar, ada perubahan tren belanja kelas menengah, yakni menggeser prioritas belanja, mengejar promosi, dan menambah utang jangka pendek.

Baca JugaDompet Cekak, Kredit Macet Berisiko Membengkak
Pergeseran

Salah satu perubahan yang paling kentara ialah pergeseran sumber pembiayaan belanja. Alih-alih mengandalkan pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan musiman, masyarakat cenderung bertumpu pada pinjaman jangka pendek, antara lain melalui fitur buy now pay later (BNPL).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, saldo pinjaman BNPL perbankan mencapai Rp 27,8 triliun pada Februari 2026 atau tumbuh 26,41 persen secara tahunan. Sementara itu, saldo pinjaman perusahaan pembiayaan mencapai Rp 12,59 triliun atau tumbuh 53,53 persen secara tahunan.

”Konsumsi masyarakat memang belum ambruk, tetapi semakin ditopang oleh daya tahan yang menipis, kompromi belanja, dan pembiayaan jangka pendek yang makin riskan,” ujar Achmad.

Dihubungi secara terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat, konsumsi domestik masih tetap kuat. Hal itu tecermin dari pertumbuhan penjualan ritel yang diperkirakan mencapai 6,89 persen dan penjualan kendaraan bermotor yang masih solid.

Artinya, konsumsi masyarakat belum benar-benar jatuh, tetapi kualitas pertumbuhannya berubah. Kondisi ini tampak dari kecenderungan belanja pada kebutuhan yang dirasa penting, momentum musiman, dan kelompok yang pendapatannya masih stabil.

”Itu sebabnya di permukaan data konsumsi masih terlihat baik, tetapi di bawahnya ada kecenderungan masyarakat, terutama kelas menengah, untuk makin berhati-hati,” katanya.

Salah satu tren adaptasi baru pada kelas menengah ialah pergeseran dari konsumsi simbolik ke konsumsi fungsional. Artinya, belanja yang lebih menekankan nilai guna, daya tahan, dan efisiensi.

Perubahan konsumsi tersebut tidak lepas dari dinamika ekonomi global dan domestik dalam beberapa waktu terakhir. Dari sisi global, tekanan utamanya berasal dari gejolak geopolitik, perang dagang, ketidakpastian arah suku bunga global, dan perlambatan ekonomi China.

Berbagai dinamika itu menjalar ke Indonesia melalui jalur harga energi, inflasi, volatilitas pasar keuangan, dan pelemahan sektor eksternal. Rambatan tersebut mengakibatkan biaya hidup naik atau ketidakpastian pendapatan meningkat.

Dalam situasi seperti ini, kelas menengah yang tidak mendapatkan bantalan sosial atau memiliki bantalan aset cenderung lebih sensitif. Oleh karena itu, penyesuaian pertama biasanya terjadi pada konsumsi diskresioner, bukan pada konsumsi pokok.

”Salah satu tren adaptasi baru pada kelas menengah ialah pergeseran dari konsumsi simbolik ke konsumsi fungsional. Artinya, belanja yang lebih menekankan nilai guna, daya tahan, dan efisiensi,” ujar Josua.

Baca JugaDari Timur Tengah ke Dompet Rumah Tangga di Indonesia
Masalah struktural

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal, berpendapat, kelas menengah Indonesia sedang menghadapi masalah struktural sejak pandemi Covid-19. Masalah ini terlihat dari turunnya jumlah kelas menengah dalam beberapa tahun terakhir.

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah penduduk kelas menengah Indonesia turun sekitar 10 juta orang, dari 57 juta pada 2019 menjadi 47 juta orang pada 2025.

”Pendapatan kelas menengah terus berkurang dan kontribusinya terhadap konsumsi juga berkurang sampai sekarang. Belum ada pembalikan. Saya pikir ini satu tren yang bisa jadi bom waktu,” katanya.

Ia berpandangan, akar permasalahan kelas menengah bukan sekadar kenaikan harga kebutuhan pokok atau inflasi. Namun, berkurangnya serapan lapangan pekerjaan formal berkualitas, yang kini hanya tersisa 40 persen. Hal ini membuat jumlah kelas menengah terus menurun.

Sejalan dengan itu, kajian dari Mandiri Institute menemukan, masih ada kesenjangan kualitas pekerjaan antarkelas yang berdampak pada tingkat pendapatan, daya beli, serta akumulasi aset yang lebih rendah.

Maka, strategi-strategi ”job creation” yang formal dari sektor-sektor kunci, yang padat karya itu, menjadi sangat penting.

Berdasarkan data BPS, rata-rata pendapatan pekerja formal mencapai Rp 3,6 juta per bulan pada 2025, sedangkan pekerja informal hanya Rp 2,1 juta per bulan. Dengan kata lain, kualitas pekerjaan menjadi faktor krusial yang menentukan daya beli masyarakat.

”Maka, strategi-strategi job creation yang formal dari sektor-sektor kunci, yang padat karya itu, menjadi sangat penting. Ini agenda utama kita ke depan,” tutur Faisal.

Jika akar masalah tersebut tidak dituntaskan, konsumsi masyarakat tidak akan tumbuh pesat dan tidak akan mendukung pertumbuhan. Masyarakat cenderung defensif dalam berbelanja, bahkan mengambil pinjaman hanya demi memenuhi kebutuhan.

Pinjaman jangka pendek

Momentum Ramadhan kembali mendorong peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat. Fenomena ini salah satunya tecermin dari volume transaksi PayLater Kredivo yang tumbuh sebesar 27 persen dan nilai transaksi yang tumbuh 26 persen secara tahunan selama periode Ramadhan dan Lebaran 2026.

Pertumbuhan ini turut diperkuat oleh peningkatan pengguna baru sebesar 31 persen di tengah kebutuhan musiman yang meningkat. Di samping itu, mayoritas tenor pinjaman yang diambil cenderung dalam jangka pendek, yakni sebulan.

Kami melihat ”paylater” dimanfaatkan sebelum gajian dan THR dengan tenor satu bulan sebagai pilihan utama agar pengeluaran tetap terjaga.

SVP Marketing & Communications Kredivo Indina Andamari menyampaikan, hal yang menarik dari Ramadhan tahun ini bukan hanya pertumbuhan transaksinya. Sebaliknya, masyarakat mulai tampak mengatur pengeluaran dengan lebih strategis.

”Kami melihat paylater dimanfaatkan sebelum gajian dan THR dengan tenor satu bulan sebagai pilihan utama agar pengeluaran tetap terjaga. Apalagi, Kredivo menawarkan 0 persen bunga dan admin untuk tenor ini,” katanya dalam siaran pers, Selasa (7/4/2026).

Baca Juga”Pay Later”, Pisau Bermata Dua di Tengah Ekonomi Susah

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan peran paylater sebagai alat bantu perencanaan keuangan jangka pendek. Di sisi lain, tampak pula bahwa paylater menjadi salah satu preferensi masyarakat dalam bertransaksi sehari-hari.

Selaras dengan itu, rata-rata nilai transaksi per pengguna berkisar Rp 800.000–Rp 1,5 juta dengan rata-rata jumlah transaksi per pengguna sebanyak 4–5 kali. Ini menunjukkan paylater digunakan secara luas untuk memenuhi kebutuhan prioritas secara bertahap.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gempa 4,7 SR Guncang Flores Timur, 91 Rumah Rusak di Adonara
• 20 jam lalutvrinews.com
thumb
Arne Slot Ngaku Liverpool Tak Berdaya Lawan Kekuatan PSG: Kami Mode Bertahan
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Lotte Chemical Prioritaskan Pasokan Domestik di Tengah Tekanan Rantai Pasok Global
• 14 jam lalupantau.com
thumb
Fakta Baru Siswa SMP di Sragen Tewas Dianiaya Teman Sekolah, Berawal dari Ejekan
• 15 jam lalurctiplus.com
thumb
Israel Gempur Lebanon Usai Gencatan Senjata
• 19 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.