UEA: Penutupan Selat Hormuz Tekan Ekonomi Global, Tak Ada Negara yang Kebal Dampaknya

bisnis.com
22 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan gangguan distribusi energi global akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran menyusul konflik dengan AS-Israel berdampak bagi perekonomian global, termasuk Indonesia.

Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia Abdulla Salem AlDhaheri mengungkapkan bahwa eskalasi konflik telah mengganggu jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.

Sekitar 20% pasokan minyak global dan 20% perdagangan LNG melewati jalur tersebut, dengan mayoritas pengiriman menuju pasar Asia. Penutupan jalur itu selama hampir dua pekan memicu antrean panjang kapal kargo dan memperlambat distribusi energi serta barang ke berbagai negara tujuan.

“Perdagangan sudah pasti terdampak, dan tidak ada negara yang benar-benar kebal terhadap tekanan semacam ini,” kata Abdulla dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Ia menambahkan bahwa tekanan logistik tersebut tidak hanya meningkatkan biaya pengiriman, tetapi juga mendorong kenaikan harga energi global yang berdampak langsung ke berbagai sektor ekonomi.

Abdulla menekankan bahwa efek konflik tidak mengenal batas geografis, bahkan negara yang jauh dari pusat konflik tetap terdampak signifikan, termasuk Indonesia.

Baca Juga

  • Mengenal Data Center AI Stargate Milik OpenAI yang Jadi Sasaran Militer Iran
  • Seberapa Tinggi Reli IHSG Didorong Pengumuman FTSE dan Gencatan Senjata di Iran
  • Infrastruktur Vital AS jadi Sasaran Peretas Iran, Kerugian Finansial Mengintai

“Kami telah menyaksikan banyak korban luka. Kami telah menyaksikan kematian. Kami telah menyaksikan orang-orang kehilangan pekerjaan. Kami telah menyaksikan orang-orang terlantar. Mereka tidak bisa bepergian. Inilah yang tidak ingin kami lihat,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa gangguan berkepanjangan hanya akan memperburuk kondisi ekonomi global, memperlambat pemulihan, serta meningkatkan risiko inflasi di berbagai negara.

Selain itu, ketidakpastian distribusi energi juga berpotensi mengganggu stabilitas industri yang bergantung pada pasokan bahan bakar dan logistik, termasuk manufaktur dan transportasi.

UEA bersama negara-negara Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) dan Yordania, lanjutnya, terus mendorong stabilitas jalur perdagangan dan memastikan distribusi energi tetap berjalan, meskipun tekanan geopolitik meningkat.

Menurutnya, menjaga kelancaran arus barang dan energi menjadi kunci untuk mencegah dampak ekonomi yang lebih luas.

“Kita perlu memastikan adanya jalur yang lancar dan baik agar bahan pangan dan komoditas lainnya dapat sampai ke tujuannya masing-masing,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menaker Bidik Program Magang Luar Negeri Tembus Lebih dari 20 Ribu Peserta di 2026
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Baznas dan Kemendes Kolaborasi Integrasikan Zakat untuk Dorong Kesejahteraan Desa
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Dortmund Buka Peluang Reuni dengan Jadon Sancho
• 11 jam lalutvrinews.com
thumb
MPR Respons Kabar Pembubaran Badan Migas, Singgung Bakal Ada Lembaga Baru
• 7 jam lalukatadata.co.id
thumb
Perempuan Jawa Barat Siap-siap, Dedi Mulyadi Umumkan Festival Kebaya Sunda Dilaksanakan pada Mei 2026
• 1 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.