Krisis Minyak, Panik Politik

kumparan.com
22 jam lalu
Cover Berita

Dunia kita sepertinya tak akan pernah kehabisan cara untuk "senam jantung". Kali ini, musik pengiringnya adalah dentuman meriam antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz. Jalur air yang dibilang sempit itu, tiba-tiba menjadi panggung teater yang paling mahal sedunia. Ia tidak hanya mengguncang kawasan tersebut, tetapi juga mengirim gelombang kejut hingga ke ruang-ruang diskusi politik dalam dan luar negeri.

Namun yang anehnya bahwa ini bukan soal rudal yang terbang di sana, melainkan "rudal" opini yang meledak-ledak di sini, di tanah air. Di tengah panasnya Teluk Persia, muncul fenomena yang biasanya menjangkiti pemburu diskon pakaian atau anak muda yang takut ketinggalan tren: Fear of Missing Out (FOMO).

Bedanya kali ini, yang terkena FOMO bukanlah anak senja penikmat kopi, melainkan aktor politik kawakan—termasuk Jusuf Kalla—yang mendadak hobi meramal chaos nasional jika harga BBM tidak segera "terbang" ke langit. Mereka tampak gelisah bukan karena kekurangan data, melainkan karena takut tertinggal momentum—momentum untuk bersuara, tampil, atau bahkan untuk menciptakan narasi krisis.

Prahara di Sumur-Sumur Keserakahan

Secara teknis, kekhawatiran terhadap Selat Hormuz memang bukan tanpa dasar. Jika Selat Hormuz "mampet", harga minyak dunia memang bakal joget. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Artinya, gangguan sekecil apa pun berpotensi memicu apa yang dalam ekonomi energi disebut sebagai supply shock, yaitu gangguan tiba-tiba pada pasokan yang dapat mendorong harga naik secara signifikan. Dalam sistem global yang saling terhubung, efek domino seperti ini adalah sesuatu yang harus diantisipasi.

Namun dalam kenyataannya, reaksi elite politik kita jauh lebih dramatis daripada harga minyak itu sendiri. Mereka ini bisa dibilang persis seperti Daniel Plainview dalam film There Will Be Blood (2007). Plainview adalah simbol dari keserakahan yang tak mengenal batas—seseorang yang melihat minyak bukan sekadar komoditas, melainkan juga sumber kekuasaan yang harus dikuasai dengan segala cara. Dalam salah satu adegan ikonik, ia menyatakan, "I drink your milkshake", sebuah metafora tentang bagaimana ia menyedot sumber daya orang lain tanpa peduli dampaknya.

Politisi kita yang getol meminta BBM naik ini seolah-olah sedang memegang sedotan raksasa, siap menyedot daya beli rakyat dengan dalih "menyelamatkan APBN". Mereka meramal Indonesia akan kiamat, padahal menteri kita sudah bilang stok bensin masih awet hingga beberapa bulan ke depan.

Resiliensi Stok vs Fatamorgana Kebangkrutan

Menteri Purbaya sudah pasang badan. Ia mengatakan, "Stok aman, harga jangan goyang." Ini merupakan pernyataan teknokratis yang sejuk di tengah cuaca politik yang gerah. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan juga didasarkan pada indikator yang dapat diukur, seperti cadangan strategis dan kapasitas distribusi.

Dalam kajian energi modern, ketahanan suatu negara tidak hanya diukur dari harga pasar global, tetapi juga dari kemampuannya menyerap guncangan jangka pendek. Cadangan penyangga berfungsi sebagai bantalan yang memungkinkan pemerintah untuk tidak bereaksi secara impulsif terhadap fluktuasi harga. Dengan kata lain, stabilitas tidak ditentukan oleh seberapa tinggi harga minyak dunia, tetapi oleh seberapa siap suatu negara mengelola volatilitas tersebut.

Desakan untuk menaikkan BBM di saat gudang kita masih penuh itu ibarat orang yang punya beras segudang, tapi teriak-teriak mau kelaparan hanya karena harga gabah di pasar sebelah sedang naik. Jika pemerintah termakan tren FOMO politik ini, justru inflasi-lah yang akan menghantam kita lebih dulu. Ekspektasi pasar yang panik jauh lebih berbahaya daripada kenaikan harga minyak itu sendiri. Jadi, kalau ada yang bilang, "Naikkan sekarang atau kita chaos", mungkin mereka hanya sedang butuh panggung agar tetap relevan di berita utama.

Ketahanan energi bukan soal kepemilikan barangnya, melainkan soal seberapa kuat mental pemerintahnya untuk tidak panik saat harga dunia sedang "tantrum" (Yergin, 2020).

Eli Sunday dan Khotbah "Kiamat" Bensin

Selain figur Plainview, film There Will Be Blood juga menghadirkan karakter Eli Sunday, seorang pengkhotbah yang memanfaatkan rasa takut untuk memperoleh pengaruh. Eli tidak berbicara dengan data, tetapi dengan emosi. Ia membangun narasi tentang ancaman dan keselamatan, lalu menawarkan dirinya sebagai solusi.

Paralel dengan dunia politik kontemporer cukup jelas. Para aktor politik yang gemar menakut-nakuti rakyat dengan narasi "negara bakal ambruk" ini adalah Eli Sunday versi modern. Mereka membungkus kepentingan ekonomi yang kaku dengan khotbah moralitas, seolah-olah mereka adalah juru selamat anggaran.

Padahal, stabilitas harga BBM itu adalah jangkar hidup orang banyak. Karena dalam kenyataannya, kenaikan harga BBM akan merambat ke berbagai sektor, meningkatkan biaya hidup, dan pada akhirnya menekan kelompok masyarakat yang paling rentan.

Menuntut kenaikan BBM saat rakyat lagi megap-megap itu bukan solusi ilmiah, itu hanya nafsu predator yang dibungkus dengan dasi. Seperti Plainview yang akhirnya menghancurkan Eli karena muak dengan kepalsuannya, rakyat pun sebenarnya sudah mulai antipati. Kita butuh pemimpin yang tenang seperti nakhoda, bukan penonton bioskop yang teriak "kebakaran", padahal cuma ada adegan masak di layar.

Jaga Kewarasan, bukan Jaga Gengsi

Krisis di selat Hormuz adalah realitas yang tidak bisa diabaikan. Namun, respons terhadap krisis tersebut harus proporsional dan berbasis pada data, bukan pada ketakutan atau tekanan politik. Dunia mungkin sedang berada dalam fase yang tidak stabil, tetapi itu bukan alasan untuk menambah beban masyarakat melalui kebijakan yang prematur. Bukan pula menjadi alasan untuk membuat rakyat semakin sengsara dengan kenaikan harga yang terburu-buru.

Keputusan Menteri Purbaya untuk menahan harga adalah langkah yang waras di tengah dunia yang sedang "agak gila". Kita tidak butuh ambisi Daniel Plainview yang rakus atau khotbah Eli Sunday yang menakutkan. Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang tegak lurus pada data, bukan pada desakan aktor politik yang sedang menderita gejala FOMO akut. Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang rasional, yang mampu menjaga keseimbangan antara kewaspadaan dan ketenangan.

Mari kita tonton saja dramanya, tapi jangan sampai kita kehilangan kewarasan hanya karena ada orang yang terlalu semangat ingin meminum "milkshake" kita.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ulah Tercela Mahasiswa Untirta Berulang Kali Rekam Wanita di Toilet
• 12 jam laludetik.com
thumb
Foto: Baru Sehari Gencatan Senjata, Israel Kembali Menyerang Lebanon
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Pramono Akan Kumpulkan PPSU di Balkot Imbas Laporan JAKI Dibalas Foto AI
• 3 jam laludetik.com
thumb
Kasus Suspek Campak di Jawa Tengah Meningkat, Gubernur Ahmad Luthfi Tinjau Vaksinasi
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
IHSG Diprediksi Hijau di Akhir Pekan, Simak Saham yang Direkomendasikan
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.