Cerita Warga Iran soal Kondisi Ekonomi Sebelum Perang sampai Gencatan Senjata

kumparan.com
21 jam lalu
Cover Berita

Warga Iran menceritakan bagaimana kondisi ekonomi negaranya sebelum perang dengan AS-Israel dimulai sampai gencatan senjata berlangsung saat ini. Sebelum perang yang meletus akhir Februari 2026, inflasi Iran sudah mencapai hampir 50 persen.

Diberitakan AFP, kondisi perekonomian yang tidak baik memicu protes besar-besaran dari masyarakat. Setelah perang berlangsung lima minggu, permasalahan semakin bertambah.

Di luar ketakutan akan serangan setiap hari, dampak paling langsung dari perang adalah kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok, makanan, minuman, obat-obatan, popok, hingga makan siang di kafe-kafe kekinian di kota.

Amir, seorang warga Iran berusia 40 tahun dari Teheran, mengatakan kepada AFP bagaimana harga roti panggang bermerek yang biasa dibelinya tiba-tiba melonjak dari 700.000 riyal menjadi 1.000.000 riyal.

Seorang temannya juga harus membayar 180 juta riyal untuk tablet pengobatan kanker yang harganya sekitar 3 juta riyal sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran.

"Dan mereka harus membeli tablet setiap 20 hari," jelas Amir.

Kaveh, seorang seniman di ibu kota, menjelaskan bagaimana kafe populer Dobar di pusat kota Teheran menaikkan harga sebesar 25 persen untuk semua barang dalam satu hari.

Bahkan di barat laut Iran, yang biasanya kaya akan impor dari negara tetangga Turki, beberapa produk harganya tiga kali lipat dari harga biasanya.

Sebagai tanda inflasi yang merajalela, bank sentral memperkenalkan uang kertas baru senilai 10 juta riyal pada pertengahan Maret, pecahan terbaru dan terbesar yang beredar.

Sebulan sebelumnya, bank sentral telah meluncurkan uang kertas senilai 5 juta lembar, yang saat itu merupakan rekor, mencerminkan penurunan tajam nilai mata uang yang telah anjlok sejak perang pertama dengan AS-Israel pada Juni tahun lalu.

Kesulitan ekonomi dan devaluasi riyal merupakan faktor kunci di balik protes anti-pemerintah terbesar pada awal tahun ini, yang dimulai dengan mogok para pedagang di pasar terkenal Teheran. Ribuan orang tewas dalam penindakan yang terjadi kemudian, menurut kelompok hak asasi manusia.

Kenaikan harga baru-baru ini semakin menambah beban anggaran domestik, banyak orang juga kehilangan pekerjaan. Perang telah menyebabkan banyak bisnis tutup, membuat karyawan berada dalam ketidakpastian dan tidak yakin apakah mereka akan menerima gaji atau tidak.

Pasar-pasar di seluruh negeri telah membatasi jam buka mereka, sementara perusahaan konstruksi memberhentikan pekerja secara massal, banyak di antaranya adalah migran dari Afghanistan.

"Ketika perang dimulai, peluang kerja menjadi langka dan orang-orang berhenti membangun," kata Faizullah Arab, seorang pelukis pengangguran berusia 23 tahun, kepada AFP, saat ia kembali ke Afghanistan dari Teheran.

"Para pengusaha telah pergi ke luar negeri dan bisnis-bisnis telah berhenti," tambah rekan senegaranya, Walijan Akbari, seorang buruh berusia 42 tahun.

Siapa saja yang bergantung pada internet atau menjalankan bisnis e-commerce juga kesulitan dengan pemadaman komunikasi selama lebih dari lima minggu, yang hanya menyisakan jaringan nasional Iran secara terbatas.

"Sejujurnya saya sangat takut tentang masa depan kita, terutama secara ekonomi," kata seorang wanita berusia 35 tahun yang bekerja di bidang keuangan di pusat Isfahan kepada AFP.

"Situasinya sekarang sangat buruk. PHK massal, penutupan yang meluas, semuanya terasa sangat berat," tambahnya.

Serangan udara terhadap industri baja Iran, fasilitas petrokimia, jembatan, dan jalan raya juga kemungkinan akan berdampak jangka panjang pada perekonomian nasional.

Masalah Perbankan

Mantan pejabat senior di Dana Moneter Internasional yang khusus menangani Timur Tengah, Adnan Mazarei, mengatakan kepada AFP bahwa sektor perbankan usai perang juga akan menjadi area perhatian utama.

"Sebelum pecahnya perang dengan Israel, AS, dan Iran, sistem perbankan berada dalam situasi sulit, sangat rentan secara umum, dengan neraca keuangan yang lemah," kata Mazarei kepada AFP.

Adnan mengatakan sektor ini akan semakin terpukul akibat perang, karena konsumen dan bisnis tidak mampu membayar pinjaman.

Pembatasan diberlakukan pada mesin ATM selama perang untuk mencegah penarikan massal, tetapi kartu dan layanan perbankan online umumnya berfungsi selama sebagian besar konflik.

Kegagalan perbankan terbaru melibatkan Ayandeh Bank, salah satu bank swasta terbesar di negara Iran, yang runtuh pada akhir tahun lalu karena beban pinjaman macet dan kerugian setara USD 5,2 miliar.

Mazarei menduga penyelamatan lebih lanjut mungkin diperlukan, dengan bank sentral terpaksa mencetak uang lagi. Berdasarkan data Badan Statistik Iran, inflasi tahunan Iran mencapai 47,5 persen pada bulan Februari 2026.

"Tentu saja, ini akan meningkatkan jumlah uang beredar, yang sekali lagi akan menyebabkan inflasi yang lebih tinggi," tutur Mazarei.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
ASN Magetan Mulai WFH Setiap Jumat
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
4 Cara Jitu Merawat Baju Berbahan Rajut Agar Tidak Cepat Melar
• 11 jam lalubeautynesia.id
thumb
13 Daun Berkhasiat untuk Kesehatan dan Cara Mengolahnya
• 16 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Tumbangkan Bhayangkara Presisi, LavAni juara putaran pertama
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
"Salahkan Inner Child": Kritik atas Reduksionisme Kausal
• 49 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.