Banyak konsep dalam psikologi telah mengalami pergeseran makna, terutama sejak meluasnya penggunaan media sosial yang lambat laun memengaruhi opini kebanyakan orang. Belakangan ini, istilah-istilah psikologis seperti trauma, inner child, hingga gangguan mental semakin sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Pada awalnya, perkembangan ini menjadi ledakan literasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental.
Namun, perhatikan baik-baik kolom komentar dan konten-konten tentang mental health di Tiktok, Instagram, ataupun X (Twitter). Narasi penyembuhan luka batin dalam komentar maupun konten-konten dalam ketiga pilar media sosial tersebut perlahan menjadi alasan untuk lolos dari tanggung jawab dengan berlindung di balik trauma atau sering disebut kartu bebas bersyarat.
Misalnya, jika Anda menemui seseorang yang meledak-ledak, bersikap manipulatif, atau menyakiti pasangannya, lalu dengan mudahnya berlindung di balik tameng, "Maklumin ya, aku begini karena inner child-ku terluka gara-gara strict parents."
Bagi telinga awam, kalimat tersebut mungkin terdengar seperti validasi emosi yang puitis. Namun, bagi mereka yang bersedia menajamkan nalar kritis, tren mengkambinghitamkan masa lalu ini sebenarnya menyimpan kerancuan yang fatal.
Alih-alih merayakan kesembuhan, kita justru sedang menyaksikan krisis nalar massal. Masyarakat kita tengah terbuai oleh ilusi logical fallacy atau kesesatan berpikir, di mana kita mereduksi manusia yang merupakan makhluk kompleks menjadi sekadar robot yang dikendalikan oleh luka masa kecilnya.
Reduksionisme Kausal: Manusia Bukan Robot Masa LaluDalam buku The Logical Fallacies: Kesalahan Berlogika yang Dianggap Berpikir Kritis, Siti Nur Indasah menjelaskan bahwa terdapat kurang lebih 15 jenis kesesatan berpikir (logical fallacy) yang umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, dalam artikel ini, penulis hanya akan memfokuskan pembahasan pada jenis-jenis kesesatan berpikir yang relevan dengan fenomena yang sedang dikritisi, khususnya yang berkaitan dengan kecenderungan mengkambinghitamkan masa lalu. Salah satu yang paling sering diwajarkan saat ini adalah causal reductionism (reduksionisme kausal), yaitu kebiasaan menyederhanakan masalah yang kompleks seolah-olah hanya memiliki satu penyebab utama.
Melalui cara pandang ini, perilaku buruk orang dewasa kerap dianggap sepenuhnya sebagai hasil dari pola asuh orang tua. Padahal, nalar semacam ini dapat merendahkan kompleksitas manusia sebagai makhluk yang memiliki kemampuan berpikir dan mengendalikan diri.
Menurut Albert Bandura (2001) dalam konsep keagenan manusia (human agency), manusia bukanlah makhluk pasif yang sepenuhnya dikendalikan oleh masa lalunya. Sebaliknya, manusia memiliki kemampuan untuk mengatur diri (self-regulation) dan menentukan respons atas setiap pengalaman yang dihadapi.
Memang, pengalaman masa kecil dapat membentuk “cetak biru” atau pola dasar emosi seseorang. Namun, hal tersebut tidak bersifat mutlak. Jadi, saat seseorang telah mencapai usia dewasa, fungsi prefrontal cortex (bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan) sudah berkembang dengan baik. Artinya, individu memiliki kapasitas untuk berpikir, mempertimbangkan, dan mengendalikan perilakunya sendiri.
Genetic Fallacy: Menjadikan Luka sebagai SenjataLebih jauh lagi, tren eskapisme ini sering tergelincir ke dalam jurang genetic fallacy (kesesatan asal-usul). Ini terjadi ketika kita menilai atau memvalidasi suatu tindakan di masa kini, murni berdasarkan dari mana tindakan itu berasal di masa lalu.
Misalnya, Anda mengetahui bahwa rumah Anda terbakar karena korsleting listrik. Hal itu memang membantu kita paham asal apinya, tetapi fakta itu tidak membenarkan tindakan Anda jika Anda sengaja membiarkan api tersebut menjalar ke rumah tetangga.
Dalam hal ini, pandangan Alfred Adler—sebagaimana dielaborasi oleh Kishimi dan Koga (2018)—memberikan tamparan realitas yang sangat kita butuhkan. Adler secara radikal menolak dogma bahwa masa lalu menentukan nasib kita (etiologi).
Ia justru mengajukan realita yang sebaliknya, yaitu ketika seseorang sebenarnya tidak bertindak egois karena ia punya trauma masa lalu—alih-alih ia menjadikan trauma masa lalunya sebagai senjata rasionalisasi untuk mencapai tujuannya saat ini, yakni lari dari tanggung jawab moral.
Bayangkan jika cara bernalar yang cacat ini terus-menerus dirawat. Konsekuensi sosial dan klinisnya bisa sangat merusak. Saat ini, kita sedang melihat secara nyata apa yang diperingatkan oleh Profesor Nick Haslam (2016) sebagai concept creep (pemekaran konsep). Istilah-istilah klinis perlahan kehilangan bobotnya. Pengalaman tidak menyenangkan sehari-hari, karena hilangnya nalar kritis, tiba-tiba dikerek statusnya menjadi "trauma mendalam".
Parahnya lagi, alih-alih mencetak generasi yang tangguh, nalar yang keliru ini malah menyuburkan Tendency for Interpersonal Victimhood (TIV). Mengutip temuan riset Gabay dkk. (2020), orang-orang yang terlalu asyik mengadopsi identitas sebagai korban masa lalu lama-kelamaan akan kehilangan empatinya.
Mereka merasa karena dulu mereka pernah disakiti, maka sekarang mereka punya izin khusus untuk bersikap seenaknya kepada orang lain. Di sinilah ironi terbesarnya: niat awal untuk healing malah bertransformasi menjadi justifikasi untuk menjadi toxic.
Titik Balik: Tanggung Jawab Menjemput KesembuhanPada akhirnya, kita perlu bersepakat bahwa menyadari adanya luka masa lalu hanyalah langkah awal di garis start, bukan garis akhir tempat kita berhenti dan menetap. Nalar yang sehat menuntut kita untuk menggunakan kepingan masa lalu sebagai bahan evaluasi untuk merancang masa depan, bukan menjadikannya tempat berlindung atas stagnasi kita.
Jika merasa tidak mampu mengatasinya sendiri, tidak ada salahnya untuk berbagi cerita dengan orang yang dipercaya atau, jika memungkinkan, mencari bantuan dari tenaga profesional yang ahli di bidangnya.
Luka batin di masa kecil kita mungkin memang bukan salah diri kita sendiri, tetapi bagaimana kita merawat dan meresponsnya hari ini adalah tanggung jawab kita sepenuhnya. Terus-menerus memakai inner child sebagai tameng untuk membenarkan tabiat buruk justru merupakan bentuk pengkhianatan paling menyedihkan terhadap masa depan anak kecil yang ada di dalam diri kita.





