Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan, diperlukan langkah konkret untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik di Indonesia.
Hal ini disampaikan Mu'ti dalam Pencanangan Kolaborasi Multipihak untuk Peningkatan Literasi dan Numerasi Nasional bersama UNICEF, Tanoto Foundation, dan Gates Foundation di Gedung Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta, Kamis (9/4).
Mu’ti mengacu capaian siswa pada Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang belum terlalu maksimal dalam membaca dan menulis.
“Tes kemampuan akademik pada tahun ini yang pertama kali kita selenggarakan, tahun lalu untuk tingkat SMA atau tingkat SLTA. Alhamdulillah berjalan dengan baik, dan pekan ini diselenggarakan TKA untuk jenjang SMP, dan pekan depan untuk jenjang SD. Hasilnya sudah kita ketahui juga. Kira-kira hasilnya juga tidak jauh berbeda dengan hasil tes PISA,” ujar Mu’ti.
“Dan itu menunjukkan bahwa we are not yet recovered from our problems with regard to the low achievement of literacy and numeracy. Kita belum sepenuhnya mampu mengatasi persoalan yang sangat fundamental terkait dengan kemampuan dasar yaitu membaca dan menulis,” lanjutnya.
Menurutnya, kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung menjadi fondasi utama dalam proses pembelajaran. Kemampuan ini tidak hanya penting untuk penguasaan ilmu, tetapi juga membangun kepercayaan diri siswa.
“Dan oleh karena itu maka program ini menjadi sangat penting. Program ini difokuskan pada anak-anak sekolah dasar pada tahun-tahun awal. Dan itu memang menjadi fondasi penting, dulu ada istilah namanya calistung, membaca, menulis, dan berhitung,” katanya.
Tiga Strategi UtamaDalam upaya meningkatkan kemampuan tersebut, Mu’ti menekankan ada tiga hal utama yang perlu dilakukan.
Pertama, membangun kompetensi siswa melalui proses pembelajaran yang sesuai usia dan menggunakan strategi yang mendorong kemampuan berpikir dasar.
“Yang pertama tentu membangun kompetensi. Dan membangun kompetensi itu bisa kita lakukan kalau yang pertama proses pembelajaran itu diselenggarakan sesuai dengan tidak hanya tingkat usia, tetapi juga dengan strategi-strategi baru yang mendorong kemampuan-kemampuan terutama juga kemampuan berpikir tingkat dasar,” jelasnya.
Ia menekankan literasi dan numerasi tidak dapat dipisahkan dari kemampuan berpikir. Kemampuan memahami teks dan mengolah logika menjadi indikator penting dalam menilai kecakapan siswa.
“Kita melihat di lapangan belum seluruhnya proses belajar terutama mendasarkan kemampuan untuk membaca dan menulis itu diberikan secara tepat. Sering sekali hal ini dilupakan karena membaca bukan sekadar mengeja huruf, tetapi membaca itu adalah kemampuan untuk menalar, kemampuan memahami apa yang dibaca dan itu bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, sangat basic,” tambahnya.
Kedua, membangun kebiasaan membaca atau reading habit di kalangan siswa. Menurut Mu’ti, kebiasaan membaca dan kompetensi membaca harus berjalan beriringan.
“Kemudian yang kedua adalah bagaimana membangun kebiasaan reading engagement. Bagaimana anak-anak itu memiliki reading habit, kebiasaan membaca. Yang kebiasaan membaca dengan kompetensi membaca ini bisa dua-duanya saling melengkapi,” ujarnya.
Ia menyebut, kebiasaan membaca dapat dibentuk melalui penyediaan bahan bacaan yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan anak.
Ketiga, membentuk budaya membaca atau reading culture dengan memastikan ketersediaan bahan bacaan di berbagai lingkungan.
“Dan baru kemudian kita membentuk namanya reading culture atau budaya membaca. Yang ini memang sangat berkait dengan bagaimana kita membuat bahan bacaan itu tersedia, availability of reading materials. Di mana-mana mereka ketemu buku, di mana-mana mereka bisa menemukan bahan bacaan,” kata Mu’ti.
“Tentu bahan bacaan tidak harus selalu berupa buku, bisa berupa koran, bisa berupa majalah atau apa pun bahan bacaan yang mendorong menstimulasi anak kita ini untuk senantiasa lekat dekat dan membiasakan diri membaca,” tambah dia.





