Bisnis.com, JAKARTA – Penjualan SR024 sebagai Sukuk Ritel perdana 2026 baru terserap sekitar Rp12,25 triliun atau 81,66% dari target yang ditetapkan pemerintah, sepekan sebelum masa penawaran ditutup.
Adapun, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan membekali SR024 dengan masa penawaran terpanjang, sejak 6 Maret hingga 15 April 2026. Target dana yang dihimpun pada produk ini juga tidak muluk-muluk, hanya Rp15 triliun, lebih rendah dibandingkan ORI029 yang memiliki target Rp25 triliun.
Namun nyatanya, investor ritel belum memperlihatkan minat yang sangat besar terhadap produk ini. Melansir data Bibit, lebih dari satu bulan masa penawaran, SR024-T3 hanya ludes terjual 84,5% dari kuota nasional. Sementara itu, SR024-T5 baru terjual 75,8% dari total kuota.
Dengan kata lain, SR024-T3 masih menyisakan Rp1,53 triliun, sementara SR024-T5 masih tersisa Rp1,20 triliun dari target penjualan. Secara total, pasar ritel domestik baru menyerap sekitar Rp12,25 triliun atau 81,66% dari target produk ini selama lebih dari 30 hari masa penawaran.
Kondisi ini sebetulnya mencerminkan potensi serapan yang besar. ORI029 yang menjadi pembuka jalan penerbitan SBN Ritel tahun ini misalnya, hanya ludes terjual 57,76% dari target awal Rp25 triliun. Artinya, pasar hanya berminat menyerap Rp14,44 triliun dari produk ini.
Namun, dibandingkan 2025, dengan realisasi penjualan SBN Ritel bahkan berada pada kisaran 93,65%—132,57% dari target penjualan, realisasi penjualan sementara SR024 masih cukup jauh dari dari batas minimum serapan pada tahun lalu.
Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Deni Ridwan menerangkan dengan realisasi tersebut, pihaknya cenderung optimistis terhadap serapan penuh dari pasar. Kendati masa penawaran bertepatan dengan Idul Fitri yang berpotensi mengalihkan likuiditas masyarakat, tetapi animo investor terhadap produk ini dinilai cukup tinggi.
Terlebih di tengah kondisi perekonomian saat ini, Sukuk Ritel disebut dapat menjadi pilihan yang menarik bagi masyarakat karena menawarkan imbal hasil yang kompetitif dan keamanan.
”Pemerintah cukup optimistis target penerbitan sebesar Rp15 triliun dapat dipenuhi sebelum penutupan masa penawaran pada 15 April 2026. Di tengah kondisi perekonomian yang cukup dinamis akibat dinamika geopolitik dan perekonomian global, Sukuk Negara Ritel tetap menjadi pilihan menarik bagi masyarakat karena menawarakan keamanan serta imbal hasil yang cukup kompetitif,” katanya kepada Bisnis, Rabu (8/4/2026).




