Setiap orang memiliki screen time yang berbeda-beda, tergantung masing-masing kebutuhannya. Screen time sendiri merupakan durasi atau waktu yang dihabiskan seseorang untuk menatap layar gadget yang dimilikinya.
Namun, screen time yang berlebihan juga tidak baik karena dapat mempengaruhi attention span. Attention span atau rentang perhatian merupakan jumlah waktu yang dihabiskan seseorang untuk fokus pada satu tugas atau aktivitas tanpa terdistraksi. Di era digital, attention span sering menurun akibat multitasking dan paparan konten video pendek.
Kheisya (17), salah satu siswa di SMAN 95 Jakarta, merasa bahwa attention span-nya berkurang akibat screen time yang menurutnya lumayan banyak. Dalam seminggu, rata-rata screen time Kheisya bisa mencapai 12 jam.
Screen time tertingginya, tambah Kheisya, mencapai 18 jam dalam sehari ketika hari libur. Waktu tersebut ia gunakan untuk menonton sebagai hiburan setelah mengerjakan PR.
"Attention span aku tuh ya berkurang banget, apalagi sekarang kan ada teknologi AI. Ya itu kadang ngebuat kayak ah males baca, males literasi," ungkap Kheisya ketika dihubungi kumparan, Rabu (8/4).
Kheisya juga merasa bahwa kebiasaannya mulai berubah. Ia merasa jadi lebih malas untuk keluar rumah karena merasa terhipnotis seakan ada sesuatu yang lebih penting di handphone.
Di hari biasa, screen time milik Kheisya bisa mencapai 12 jam. Namun, lanjut Kheisya, di waktu tersebut ia tidak hanya menggunakan handphone semata-mata untuk mencari hiburan, melainkan untuk membuka aplikasi yang menunjangnya dalam mengerjakan tugas sekolah.
"Kalau hari biasa [screen time] 12 jam biasanya aku pake buat edit di Canva buat tugas, atau main Word, sama buka WA, sama hiburannya paling buka Instagram sama TikTok," ujar Kheisya.
Kheisya juga mengungkapkan bahwa kebiasaan main handphone yang berlebihan berpengaruh terhadap nilai akademiknya. Ia jadi suka menunda kegiatan belajarnya karena terlalu asyik bermain handphone. Untuk mengurangi hal tersebut, Kheisya mencari cara untuk bisa membagi waktunya antara belajar dan bermain handphone.
Teknik yang ia gunakan adalah teknik Pomodoro, yaitu membagi waktu antara istirahat dengan belajar dalam beberapa jangka waktu tertentu. Menurutnya, teknik tersebut cukup efektif ia terapkan ketika sedang belajar agar tidak terdistraksi dengan handphone.
"Aku nentuinnya misalnya satu mapel (mata pelajaran) aku harus selesai dulu, abis itu aku main HP setengah jam, baru aku lanjut ke mapel kedua, terus aku main HP lagi setengah jam. Begitu," jelas Kheisya.
Saat ditanya lebih banyak mana dampak negatif atau positif dari media sosial dan internet, Kheisya merasa kalau keduanya lebih banyak dampak negatifnya. Meskipun begitu, Kheisya juga yakin bisa memberikan dampak positif melalui akun media sosialnya yang akan digunakan untuk membuat konten positif yang bermanfaat.
"Sekarang IG (Instagram) aku dipakai untuk menambah relasi dan untuk membagikan kegiatan positif aku selama ini. Tentunya aku ingin nantinya mengubah [akun media sosial] menjadi sebuah tempat di mana konten aku sangat berguna buat teman yang melihat, untuk sekarang," tambah Kheisya.
Studi: Attention Span Berkurang Akibat Banyak Screen TimeBerdasarkan studi milik Chhangani dkk berjudul The Vanishing Attention Span: Exploring Digital Distractions among University Students of India (2025), screen time yang berlebihan dapat mempengaruhi attention span. Studi tersebut dimuat dalam jurnal The International Journal of Psychology,
Dalam penelitian tersebut, Chhangani dkk mengambil sampel sebanyak 300 mahasiswa dari berbagai universitas di India yang terdiri dari umur 15 hingga 25 tahun. Penelitian dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang diisi secara daring.
Chhangani dkk. membagi sampel menjadi empat kelompok berdasarkan lama screen time per hari, yaitu 0 sampai 2 jam, 2 sampai 4 jam, 4 sampai 6 jam, dan lebih dari 6 jam. Hasilnya, mahasiswa dengan screen time 2 sampai 4 jam paling mendominasi, yaitu 92 orang.
Selanjutnya, ditemukan bahwa 75 orang memiliki screen time lebih dari 6 jam per harinya. Adapun kelompok yang memiliki screen time 4 sampai 6 jam per hari terdiri dari 71 orang. Terakhir, sebanyak 62 orang memiliki screen time 0 sampai 2 jam per harinya.
Kemudian ada dua hal yang ikut diteliti. Pertama, bagaimana screen time mempengaruhi konsentrasi seseorang dalam melakukan satu tugas di jangka waktu yang panjang. Kedua, hubungan antara screen time dengan mudahnya seseorang terdistraksi oleh handphone atau media sosial saat bekerja.
Chhangani dkk menemukan bahwa orang dengan screen time di bawah 4 jam, sebagai contoh 2-4 jam, orang yang merasa kesulitan konsentrasi ketika melakukan satu tugas dalam jangka waktu panjang sebanyak 33,7 persen orang. Kemudian, pada kelompok screen time tersebut, sebanyak 49 persen orang merasa mudah terdistraksi oleh handphone atau media sosial saat belajar atau kerja.
Namun, angka orang-orang yang memilih setuju bahwa dia sulit berkonsentrasi dan mudah terdistraksi bertambah seiring dengan semakin banyaknya screen time.
Pada kelompok screen time 4 sampai 6 jam, sebanyak 57,7 persen orang setuju kalau mereka merasa sulit berkonsentrasi saat mengerjakan satu tugas dalam periode yang panjang. Selain itu, 60,6 persen dari mereka juga setuju kalau mereka mudah terdistraksi saat mengerjakan tugas oleh handphone atau media sosial.
Pada kelompok screen time lebih dari 6 jam, angka orang yang setuju kalau mereka sulit berkonsentrasi dalam waktu panjang dan mudah terdistraksi menurun, yaitu 54,7 persen dan 60 persen.
Meskipun lebih rendah dibandingkan kelompok 4 sampai 6 jam, kedua angka tersebut tergolong lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok screen time di bawah 2 jam. Hal tersebut membuktikan bahwa tingkat konsentrasi seseorang dalam jangka panjang serta kemampuannya dalam menahan distraksi handphone dan media sosial akan terpengaruh oleh banyak screen time yang mereka miliki.
Penulis: Safina Azzahra Rona Imani





