Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyoroti masih rendahnya capaian numerasi siswa di Indonesia.
Mu’ti mengungkapkan bahwa dalam praktiknya, pembelajaran matematika di Indonesia kerap terlalu menekankan pada hitungan dan rumus sejak usia dini, sehingga mengabaikan penguatan logika dasar siswa.
“Demikian pula dengan numerasi. Ada anekdot mudah-mudahan tidak berlaku lagi sekarang. Dulu seorang kawan saya itu pulang dari Australia ke Indonesia kemudian tiba-tiba dia kirim di grup itu, ‘Alhamdulillah anak saya nilai matematikanya 2.’ Dan kemudian pengalaman Pak Hafiz, Bu Sekjen juga, matematika di negara Australia itu memang awal itu ya rendah saja,” ujar Mu’ti dalam acara Pencanganan Kolaborasi Multipihak untuk Peningkatan Literasi dan Numerasi di Gedung Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta, Kamis (9/4).
Utamakan Logika BerpikirMu'ti menjelaskan bahwa pada tahap awal pendidikan, seharusnya pembelajaran lebih difokuskan pada pengembangan logika berpikir, bukan langsung pada konsep matematis yang kompleks.
“Bermain saja yang lebih banyak itu karena logikanya yang ditekankan, bukan kemampuan-kemampuan yang kalau di sini, tolong nanti dicek matematika kita, di tim dicek. Jangan-jangan kelas 2 SD itu sudah dimulai pembagian yang kadang-kadang juga kompleks sekali itu, malah kadang-kadang TK pun juga diajari itu,” katanya.
Menurut Mu’ti, pemberian materi yang terlalu sulit di tahap awal justru dapat berdampak panjang terhadap kemampuan siswa dalam memahami matematika di jenjang berikutnya.
“Padahal harusnya masa-masa awal itu yang penting ditekankan adalah logikanya. Karena logikanya, maka seringkali itu hanya bermain-main saja sementara di sini sudah ditekankan pada hitung-hitungan matematika, sudah pakai rumus-rumus begitu yang itu seharusnya tidak diberikan pada masa awal,” jelasnya.
Matematika = Mati-MatianIa pun menyinggung adanya anggapan negatif terhadap matematika yang berkembang di kalangan siswa akibat pengalaman belajar yang sulit sejak dini.
“Karena kalau itu sudah diberikan, mereka tidak bisa memiliki logika dan kemudian kesulitan yang mereka hadapi ketika belajar matematika di masa awal itu akan terdampak terus dalam jenjang berikutnya,” jelas Mu’ti.
Mu’ti menyebut hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMP yang baru saja diselenggarakan juga menunjukkan capaian matematika siswa masih belum maksimal, berdasar data Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) pimpinan Toni Toharudin.
“Dan ternyata hasil tes TKA kita tadi Pak Toni (Kepala BKPDM) menunjukkan sudah diketahui hasilnya yang dua hari ini, yang tes kemarin sudah diketahui hasilnya juga enggak jauh-jauh beda dengan yang tes SMA. Matematikanya akan segitu,” ujar Mu'ti.
Ia menambahkan bahwa hasil tersebut menjadi indikasi bahwa persoalan mendasar dalam pembelajaran matematika masih belum terselesaikan dan perlu menjadi perhatian bersama.
“Dari 30 soal itu tadi Pak Toni menunjukkan berapa yang paling banyak jawabannya itu nanti akan kita umumkan, tapi sudah bisa diketahui memang masalah kita masih belum terselesaikan,” pungkasnya.





