jpnn.com - Politikus PDI Perjuangan Mohamad Guntur Romli membeberkan makna kudeta militer dalam terminologi politik, yakni pengambilalihan kekuasaan pemerintahan secara ilegal oleh elite, biasanya militer oleh pejabat negara.
Guntur mengungkap hal itu menyikapi pernyataan Utusan Khusus Presiden RI Hashim Djojohadikusumo terkait ada pihak yang mau mengudeta Prabowo Subianto dari posisi kepala negara.
BACA JUGA: Hashim: Ada yang Mau Kudeta Prabowo
"Kudeta dalam terminologi ilmu politik adalah pengambilalihan kekuasaan pemerintahan secara paksa, ilegal, dan mendadak oleh sekelompok kecil elite, biasanya militer atau pejabat pemerintah, yang menggulingkan pemimpin sah," tuturnya, Kamis (9/4).
Guntur mengacu makna kudeta dari terminologi politik tadi, mempersilakan Hashim mengungkap pihak yang mau mengudeta Prabowo dari posisi Presiden RI.
BACA JUGA: Kecam Laporan Terhadap Pandji Pragiwaksono, Guntur PDIP: Bentuk Intimidasi Kebebasan Bersuara
"Nah, sekarang tinggal Pak Hashim menjelaskan, apa mau menuduh militer atau pejabat pemerintah yang sekarang terlibat," katanya.
Guntur menuturkan PDIP adalah partai politik dan bukan kelompok militer. Parpol berkelir merah itu memang berada di luar pemerintahan alias tak menempati kader dalam pemerintahan.
BACA JUGA: Presiden Prabowo Tegaskan 2 Kebijakan Pemerintah di Tengah Geopolitik Global
Namun, kata dia, PDIP tetap menghormati kepemimpinan Prabowo yang sudah terpilih sebagai Presiden RI pada Pemilu 2024.
"Dalam Kongres 2025 lalu di Bali, Ibu Ketua Umum Ibu Megawati Soekarnoputri sudah menegaskan program-program Presiden Prabowo yang prorakyat pasti didukung, tetapi kalau tidak prorakyat, pasti kami kritik," ujar Guntur.
Sebelumnya, menurut Hasim, ada pihak mau menggoyang Presiden Prabowo Subianto yang jabatannya belum sampai satu setengah tahun.
"Saya hitung satu tahun lima bulan sudah ada yang ingin menggulingkan dia, sudah ada yang mau kudeta dia, mau menggantikan dia secara inkonstitusional," ujarnya saat membawakan sambutan pada Paskah Nasional 2026 di Manado, Sulawesi Utara, Rabu (8/4). (ast/jpnn)
Redaktur : Mufthia Ridwan
Reporter : Aristo Setiawan




