Politikus Gerindra, Andre Rosiade menghadiri acara diskusi bersama Mahasiswa Universitas Andalas, Padang pada Kamis (9/4). Andre sempat diajak debat oleh salah satu mahasiswa soal program makan bergizi gratis (MBG).
Mahasiswa itu mengeluhkan anggaran MBG yang dinilainya begitu besar. Ia menilai, anggaran besar MBG tidak menjawab masalah pendidikan.
“Alokasi anggaran yang sangat besar untuk MBG ini tidak menyelesaikan permasalahan-permasalahan pendidikan,” ucap mahasiswa tersebut.
Menurut mahasiswa itu, anggaran pendidikan seharusnya ditambah dengan subsidi-subsidi dari pemerintah.
“Harusnya alokasi pendidikan itu bisa dapat subsidi dari pemerintah dan memperpanjang akses pendidikan,” tambahnya.
Andre pun menjawab keluhan mahasiswa itu. Menurutnya, MBG sangat penting untuk Provinsi Sumatera Barat karena tingginya angka stunting.
“Sumatera Barat ini provinsi dengan tingkat stunting lebih tinggi dari Indonesia. Tahun 2024, stunting Sumatera Barat itu 24 persen sekian. Nasional 19 persen sekian,” ucap Andre.
Ia pun mengatakan, orang tua sangat menyambut baik program MBG ini. Selain bisa menyelesaikan permasalahan gizi, MBG juga bisa membantu meringankan beban ekonomi orang tua.
“Mereka sangat senang program MBG ini membantu mereka itu yang susah, yang orang tua pun tuh menyampaikan ‘ini membantu Pak Andre, mengurangi pengeluaran kami, dan mengurai kerepotan ibu-ibu rumah tangga menyiapkan sarapan bagi anak’,” ucap Andre.
MBG Bantu Ekonomi DaerahWakil Ketua Komisi VI DPR ini mengatakan, MBG telah membantu perputaran ekonomi di Sumatera Barat.
“Kita bicara data dan fakta. Data bank Indonesia Sumbar, MBG itu transaksi ekonomi itu, yang beredar karena MBG itu ajo, itu 10-12 Triliun (rupiah) ya, di Sumbar,” tuturnya.
“Itu artinya dua kali lipat dari APBD sumbar yang dipegang Gubernur Sumatera Barat,” tambahnya.
86 Persen Anggaran untuk RakyatTerkait masalah anggaran yang dinilai terlalu besar, Andre menjawab, anggaran besar itu justru lebih banyak dinikmati masyarakat.
Ia menjelaskan, dari dana Rp 15 ribu per ompreng MBG, Rp 10 ribu dipakai untuk membeli bahan makanan dari UMKM di sekitar dapur. Artinya, 86 persen anggaran MBG itu dinikmati masyarakat.
“2.000 dipakai untuk investor, 3.000 lari ke karyawan, 10 ribu itu yang dipakai untuk bahan makan. Tukang sayur, tukang daging, tukang ikan, tukang ayam, UMKM yang ada di sekitar dapur,” ucap Andre.
“Artinya anggaran MBG itu 86 persen dinikmati rakyat, bukan oligarki, bukan pengusaha, tapi uang itu 86 persen turun ke bawah,” tambahnya.
Menurut Andre, ini adalah strategi dari Presiden Prabowo Subianto untuk berpihak kepada masyarakat. Ekonomi dibuat berputar lancar di kalangan bawah, bukan konglomerat atau oligarki.
“Ini lah cara Pak Prabowo ingin ekonomi tumbuh di bawah, tidak lagi berpihak kepada konglomerat dan oligarki. 86 persen anggaran MBG itu beredar di bawah. Itu coba dinilai,” ucap Andre.
Namun, Andre mengatakan pemerintah tak menampik adanya kekurangan-kekurangan dalam eksekusi program MBG ini.
“Penerima manfaat MBG sekarang 61 juta lebih. Memang pasti ada yang kurang, tidak ada kebijakan yang sempurna, itu Allah Swt.,” tutur Legislator asal dapil Sumatera Barat I itu.
“Semua itu milik Allah, manusia itu tempatnya salah. Pasti ada kekurangan. Pemerintah tidak menutup mata bahwa kekurangan itu ada,” tambahnya.
Ia memastikan, pemerintah terus mengawasi ketat penyelewengan pada program ini. Tentunya, bila ada oknum yang nakal, akan diberi ganjaran yang sesuai.





