JAKARTA, KOMPAS — OpenAI, pengembang teknologi kecerdasan buatan generatif ChatGPT, menyebut Indonesia masuk lima besar negara dengan penggunaan ChatGPT tertinggi untuk mendukung kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Per Maret 2026, warganet Indonesia mengirim sekitar 450 juta pesan ke ChatGPT untuk menjawab pertanyaan berkaitan dengan aktivitas belajar.
“Sekitar 70 persen pengguna itu ternyata berusia 18–34 tahun. Mereka adalah mahasiswa, karyawan profesional di awal karier, dan mahasiswa magister. Angka-angka tersebut luar biasa,” ujar Head of Education OpenAI Asia Pasifik Raghav Gupta di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Secara global, dia menyebutkan lebih dari 900 juta orang aktif menggunakan ChatGPT setiap minggu. Jumlah pengguna konsisten tumbuh sejak ChatGPT diluncurkan pada November 2022. Apabila dibedah di setiap wilayah negara memiliki kesamaan dengan temuan di Indonesia, yaitu ChatGPT paling banyak digunakan untuk mendukung aktivitas pendidikan dan pembelajaran.
Selain pendukung aktivitas pendidikan dan pembelajaran, menurut data OpenAI, ChatGPT sekarang juga banyak dipakai untuk mendukung kebutuhan penulisan dan alih bahasa.
Berangkat dari realita ChatGPT banyak dipakai mendukung aktivitas pendidikan dan pembelajaran, OpenAI mengakui menerima pertanyaan yang dilematis dari publik. Misalnya, apakah teknologi kecerdasan buatan generatif membantu pembelajaran atau apakah teknologi itu malah menyebabkan penurunan kemampuan kognitif terutama bagi anak muda.
Dari sisi OpenAI, Raghav menyebut telah mengumpulkan studi pihak ketiga yang isinya menunjukkan kecerdasan buatan generatif yang digunakan secara bijak dan terarah bisa meningkatkan hasil pembelajaran. Teknologi yang sama juga dapat membantu siswa belajar bahasa.
Namun, ada pula studi dari berbagai pihak ketiga yang menurut dia mengungkapkan jika teknologi kecerdasan buatan generatif digunakan sebagai jalan pintas. Akibatnya, hal itu akan melemahkan proses kognitif manusia, tidak membantu pembelajaran, dan mengurangi kualitas belajar.
“Kami tidak ingin anak muda hanya bergantung secara permanen pada teknologi kecerdasan buatan generatif. Yang kami inginkan adalah mereka tetap mampu berkinerja mandiri di dunia nyata, dengan teknologi yang memperkuat proses pendidikan mereka, bukan menggantikannya,” ucap dia.
Di luar negeri, OpenAI telah bermitra dengan Universitas Negeri California. Kemitraan ini memungkinkan lebih dari 500.000 mahasiswa dan dosen mengakses manfaat dari teknologi kecerdasan buatan generatif. Kemitraan serupa juga sudah dilakukan di Uni Emirat Arab, Estonia, hingga India. Pada Februari 2026, OpenAI mengatakan telah bermitra dengan enam lembaga pendidikan tinggi negeri dan swasta yang bergerak di bidang teknik, manajemen, kedokteran, dan desain.
Ketika ditanya mengenai risiko keamanan dan hak cipta saat teknologi kecerdasan buatan generatif masuk ke institusi pendidikan, dia mengatakan bahwa ChatGPT memiliki versi konsumen dan versi pendidikan bernama ChatGPT Edu. Versi ChatGPT Edu mempunyai fitur keamanan dan perlindungan ekstra untuk semua data yang diunggah.
OpenAI mengklaim tidak melatih model pembelajaran besar atau large language model (LLM) menggunakan data yang mungkin diunggah oleh institusi ke ChatGPT Edu. Jadi, jika dosen melakukan penelitian, bahkan mengunggah informasi sensitif tentang mahasiswa dan sebagainya, informasi tersebut aman dan tidak digunakan untuk melatih LLM.
Kepala Kebijakan Publik OpenAI Asia Tenggara, Sandy Kunvatanagarn, menambahkan, jawaban ChatGPT tidak diambil dari satu sumber tertentu seperti mesin pencari, melainkan dihasilkan dari model yang telah dilatih menggunakan kumpulan data sangat besar. Misalnya, sumber-sumber publik, termasuk internet, serta sejumlah kemitraan dengan organisasi yang memiliki akses ke data khusus seperti jurnal ilmiah, jurnal medis, dan perusahaan media. Informasi tersebut diproses melalui tokenisasi dan digunakan untuk melatih model agar dapat menggabungkan pengetahuan, logika, dan penalaran saat menjawab pertanyaan.
Untuk menjawab pertanyaan pengguna yang membutuhkan ChatGPT untuk mendukung aktivitas pendidikan dan pembelajaran, OpenAI menggunakan data agregat, bukan data individu. Perusahaan mengelompokkan penggunaan berdasarkan usia dan jenis pertanyaan, misalnya apakah pengguna meminta penjelasan konsep, bantuan memahami materi, atau kuis terkait pelajaran sekolah.
“Kombinasi kelompok usia dan pola penggunaan itu dipakai untuk mengidentifikasi aktivitas belajar, termasuk bagi pelajar maupun pekerja dewasa yang memanfaatkan ChatGPT untuk pembelajaran sepanjang hayat. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya mengarahkan ChatGPT dari sekadar ‘mesin jawaban’ menjadi ‘mesin pembelajaran’,” ujar Sandy.
Selain ChatGPT, teknologi kecerdasan buatan generatif lain seperti Gemini dan Claude milik Anthropic sebenarnya juga dipakai oleh siswa, mahasiswa, dan pendidik di setiap tingkatan pendidikan
Sesuai laporan dari Anthropic, perusahaan di balik Claude, sekitar 39 persen interaksi siswa dengan teknologi kecerdasan buatan generatif melibatkan pembuatan dan peningkatan konten pendidikan, seperti soal latihan, draf esai, dan ringkasan studi. Sebanyak 34 persen interaksi lainnya mencari penjelasan teknis atau solusi untuk tugas akademik – secara aktif menghasilkan karya siswa.
Asisten Profesor Bisnis dan Marketing Universitas Northumbria di Newcastle, Inggris, Kimberley Hardcastle, dalam opininya di The Conversation, berpendapat, teknologi kecerdasan generatif mengubah cara warga memahami pengetahuan. Teknologi ini membentuk kembali bagaimana siswa mengkonseptualisasikan keahlian, kreativitas, dan kemampuan kognitif mereka sendiri sehingga secara fundamental mengubah cara berpikir dan belajar.
”Para pendidik harus memastikan kebijaksanaan pedagogis, bukan kepentingan komersial, yang memandu transformasi ini. Hal yang menggembirakan, pusat-pusat teknologi kecerdasan buatan yang bertanggung jawab, seperti yang ada di universitas saya sendiri, berkembang,” tulis Kimberley.





