SEKRETARIS Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengutuk serangan militer Israel yang meluas di seluruh wilayah Libanon. Guterres memperingatkan bahwa meningkatnya korban sipil dapat mengancam stabilitas kawasan dan merusak upaya gencatan senjata regional yang tengah dibangun.
Dalam pernyataan pada Rabu (8/4), Guterres mengungkapkan bahwa serangan yang terjadi pada 8 April tersebut telah mengakibatkan ratusan warga sipil tewas dan terluka, termasuk anak-anak. Selain korban jiwa, serangan tersebut juga menyebabkan kerusakan masif pada infrastruktur sipil.
Ia menyatakan keprihatinan mendalam dan mengecam keras jatuhnya korban jiwa di pihak warga yang tidak berdosa. Pemimpin PBB itu juga menyampaikan belasungkawa kepada pemerintah dan rakyat Libanon, serta mendoakan kesembuhan bagi para korban luka.
Baca juga : Rusia: Krisis Timur Tengah akibat Kebijakan Destruktif Israel-AS
Ancaman Gencatan Senjata AS-IranGuterres menyoroti bahwa eskalasi di Libanon terjadi di tengah momentum diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat. Menurutnya, aktivitas militer yang terus berlanjut dapat menjadi hambatan serius bagi proses perdamaian.
“Dengan pengumuman gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat, aktivitas militer yang sedang berlangsung di Libanon menimbulkan risiko serius terhadap gencatan senjata tersebut dan upaya menuju perdamaian yang langgeng serta menyeluruh di kawasan,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Ia pun kembali menyerukan kepada semua pihak untuk segera menghentikan permusuhan demi mencegah kehancuran yang lebih luas.
Baca juga : Sekjen PBB Mengutuk Serangan Mematikan Terhadap Rumah Sakit Gaza
Menekankan pentingnya kepatuhan terhadap hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional, Guterres menegaskan bahwa warga sipil dan infrastruktur publik harus dilindungi dalam kondisi apa pun. Ia menyatakan bahwa serangan yang menargetkan mereka adalah tindakan yang “tidak dapat diterima.”
Lebih lanjut, Guterres menegaskan bahwa tidak ada solusi militer dalam konflik ini. Ia mendesak semua pihak untuk kembali ke meja perundingan dan berkomitmen penuh pada implementasi Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat telah mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu pada Selasa (7/4). Langkah ini diharapkan menjadi jalan menuju kesepakatan akhir untuk mengakhiri rangkaian serangan yang berlangsung sejak akhir Februari.
Pengumuman gencatan senjata tersebut muncul hanya kurang dari dua jam sebelum berakhirnya tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan kesepakatan regional. (Ant/Anadolu/P-4)





