Nilai TKA SMP Juga Rendah, Literasi dan Numerasi Persoalan Serius

kompas.id
14 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Selama empat hari terakhir, lebih dari 4,2 juta siswa sekolah menengah pertama di seluruh Indonesia telah menuntaskan tes kemampuan akademik atau TKA. Nilainya tidak jauh berbeda dengan nilai TKA jenjang sekolah menengah atas yang menandakan persoalan literasi dan numerasi siswa Indonesia sangat urgen diperbaiki.

Hal ini diungkapkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dalam acara ”Kolaborasi Multipihak untuk Peningkatan Literasi dan Numerasi Nasional”, di Kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, Kamis (9/4/2026). Adapun nilai TKA SMA pada mata pelajaran Matematika secara rata-rata adalah 36,1 dan Bahasa Indonesia adalah 55,38.

”Hasilnya juga tidak jauh-jauh beda dengan yang TKA SMA. Matematikanya juga akan segitu dari 30 soal itu, nanti akan kita umumkan. Memang masalah kita masih belum terselesaikan,” kata Mu’ti.

Meski begitu, Kemendikdasmen tidak membebankan sepenuhnya permasalahan ini kepada para murid karena kebijakan TKA baru dimulai tahun ini. Artinya, murid belum menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam yang baru diterapkan setahun terakhir.

Dihubungi secara terpisah, Ketua Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti menyebut, cukup banyak siswa yang mengeluh waktu mengerjakan TKA yang singkat, sementara soalnya naratif yang panjang. Ini mengakibatkan tidak sedikit siswa yang tidak mampu menyelesaikan soal karena waktu habis.

Kita tidak boleh mengetes sesuatu yang tidak pernah diajarkan ke anak.

Selain itu, kebijakan TKA yang baru berlaku tahun ini membuat siswa tingkat akhir di setiap jenjang tidak terbiasa mengerjakan soal berbasis keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/HOTS). Sementara itu, kebijakan TKA yang muncul saat pergantian pemerintahan ini membuat tidak semua siswa terbiasa dengan pola soal tersebut.

Baca JugaTes Kemampuan Akademik Diklaim Jadi Jalan Tengah atas Kontroversi Ujian Nasional

Para pendidik, lanjut Retno, belum melatih siswa untuk membaca teks panjang dan kemampuan analisis sejak awal siswa masuk sekolah. ”Kita tidak boleh mengetes sesuatu yang tidak pernah diajarkan ke anak. Membaca soal dari ujung ke ujung itu perlu dilatih dari awal masuk sekolah,” kata Retno.

Oleh karena itu, dia menyarankan pemerintah untuk tidak menjadikan TKA sebagai penentu utama dalam syarat melanjutkan ke jenjang studi berikutnya. TKA lebih tepat dijadikan sebagai indikator tambahan, bukan faktor penentu utama dalam seleksi murid atau mahasiswa baru jalur prestasi.

75 Menit cukup

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen Toni Toharudin menjelaskan, durasi mengerjakan soal TKA selama 75 menit tidak ditetapkan secara sembarangan. Siswa diharapkan mengatur strategi agar bisa memaksimalkan waktu pengerjaan agar bisa menjawab 30 soal hingga tuntas.

”Waktu sudah kami perhitungan dengan baik, 75 menit untuk mengerjakan matematika dan numerasi itu sudah kami uji dan memang sudah dipastikan sesuai dengan kondisi soal yang diberikan,” kata Toni.

Baca JugaTes Kemampuan Akademik untuk Jalur Prestasi PTN Perlu Penyesuaian

Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen Rahmawati menjelaskan, sebanyak 30 soal TKA SMP dirancang dengan proporsi 30 persen pengetahuan dasar, 40 persen pengaplikasian konsep, dan 30 persen penalaran. Waktu 75 menit juga ditujukan untuk meminimalkan celah kecurangan karena pemberian waktu yang terlalu longgar justru membuka peluang bagi peserta untuk memfoto soal atau saling bekerja sama.

Meski ada keluhan waktu pengerjaan yang terlalu mepet dari siswa, Rahmawati menegaskan sebagian besar siswa berhasil menjawab seluruh soal, bahkan sebelum waktu selesai. ”Apabila dibandingkan dengan murid yang kehabisan waktu, ternyata lebih banyak murid yang melakukan log out dari website ujian sebelum 75 menit itu berakhir,” ucap Rahmawati.

Toni menambahkan, pelaksanaan TKA jenjang SMP secara umum berjalan sesuai dengan ketentuan prosedur dan mekanisme yang sudah ditetapkan. Sistem dan infrastruktur juga menunjukkan performa yang baik, dengan tingkat trafik yang masih dalam batas kapasitas yang dapat ditangani.

TKA jenjang SMP diikuti oleh sebanyak 4.207.516 peserta atau 98 persen siswa SMP di seluruh Indonesia yang dibagi ke dalam empat gelombang untuk satuan pendidikan formal serta satu gelombang untuk pendidikan kesetaraan. Para peserta tersebut berasal dari 61.875 satuan pendidikan.

Untuk menjaga integritas, TKA menggunakan skema soal berbasis daerah dengan variasi yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan soal terpusat sehingga meminimalkan potensi kebocoran dan meningkatkan keandalan hasil asesmen.

”Saya kira dengan variasi yang sangat tinggi ini potensi kebocorannya sangat kecil. Kemudian juga integritas dari asesmen ini bisa lebih terjaga. Dan, nanti kita akan memberikan informasi bagaimana hasilnya nanti ke depan untuk TKA SMP/MTS sederajat,” tutur Toni.

Baca JugaTes Kemampuan Akademik, Cermin Baru Mutu Pendidikan

Meski berlangsung lancar, Kemendikdasmen tetap menemukan praktik pelanggaran selama TKA sebanyak 13 kasus. Pelanggaran paling banyak dilakukan oleh pengawas sebanyak 12 orang dan satu orang siswa dengan bentuk pelanggaran yang sama, yakni melakukan siaran langsung di media sosial saat tes berlangsung walau tidak langsung memperlihatkan soalnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Siap Bangkit Melawan karena Israel Langgar Gencatan Senjata
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Adira Genjot Loyalitas Nasabah Lewat Program Umrah 2026
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pemkot Makassar–Kalla Land Percepat Jalan Alternatif Leimena, Target Clean and Clear Oktober 2026
• 11 jam laluharianfajar
thumb
Mengenal Butter Tteok, Dessert Baru Korea Selatan yang Lagi Viral
• 14 jam lalubeautynesia.id
thumb
Ombudsman Temukan Dugaan Malaadministrasi dalam Seleksi WHV Australia 2025 oleh Ditjen Imigrasi
• 23 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.