Seorang warga negara Indonesia (WNI) bernama Ezra Timothy Nugroho (25 tahun) baru saja melakukan penelitian di Antartika. Alumnus Program Studi Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini selama 57 hari berada di Antartika, tepatnya 2 Januari sampai 27 Februari lalu.
Antartika adalah benua yang terletak di Kutub Selatan Bumi, dikenal sebagai benua abu-abu. Luasnya sekitar dua kali Australia.
Penelitian ini dilakukan Ezra saat menempuh studi magister di Institute for Marine and Antarctic Studies, University of Tasmania, Australia. Kini Ezra melanjutkan S3 di kampus tersebut.
Di Antartika, Ezra meneliti untuk riset S2 dan S3-nya. Riset S2 ini tentang sedimentary ancient DNA atau DNA purba dari sedimen.
"Sampel yang saya ambil ini dari Antartika, sedimen bawah laut saya ambil lalu saya ekstraksi DNA-nya. Fokus penelitian saya sendiri adalah untuk mendeteksi DNA-DNA hewan laut. Khususnya DNA-DNA hewan laut moluska," kata Ezra ditemui di kampus UGM di DI Yogyakarta, Kamis (9/4).
Ezra berkesempatan ikut ekspedisi di Antartika setelah pembimbingnya mengajaknya mengambil sampel di wilayah Antartika Timur, tepatnya di Cook Region.
Di sana, dia bersama dengan peneliti yang meneliti hal lain tentang Antartika. Ezra merupakan satu-satunya WNI di sana.
Kisah 57 Hari di AntartikaEzra bercerita selama 57 hari hidup di kapal di Antartika ada banyak pengalaman baru yang dirasakannya.
"Selama ekspedisi itu saya sebagai orang Indonesia yang belum pernah bekerja di dalam kapal itu harus bisa beradaptasi dengan kondisi lingkungan dalam kapal harus bisa beradaptasi untuk bisa bekerja dan hidup selama dua bulan di kapal. Itu cukup menjadi tantangan sendiri," katanya.
Selama dua bulan itu, Ezra menghadapi tantangan seperti badai hingga ombak tinggi. Suhu di sana pun -3 derajat Celsius sampai -15 derajat saat badai.
"Harus beradaptasi dengan suhu di sana karena seperti yang kita tahu kalau Kutub Selatan itu sangat dingin. Karena di sana es semua harus bisa beradaptasi dengan cuaca di sana. Kami harus pakai jaket tebal dan berlapis-lapis," katanya.
Jam kerja di sana juga harus diadaptasi. Dalam sehari, Ezra bekerja selama 12 jam. Saat bulan Januari, Antartika mengalami musim panas sehingga sepanjang hari matahari selalu terbit dan tak pernah benar-benar tenggelam.
"Musim panas di sana hampir 24 jam terang terus. Jam 11 malam masih terang. Jam 12 malam matahari mulai redup tapi masih kelihatan cahaya jadi nggak benar-benar malam. Jam 1 pagi di sana sudah siang lagi," katanya.
Pada dua minggu pertama, Ezra mengaku cukup kesulitan beradaptasi. Setelah itu, baru perlahan dia bisa menyesuaikan diri hingga akhirnya penelitian selesai.
"Mau jam berapa pun di sana terang. Jadi harus bisa adaptasi dengan jam di sana, tantangan banget," bebernya.
"Yang bikin sangat dingin di sana anginnya. Apalagi angin laut selatan sangat dahsyat," tuturnya.
Sebelum berangkat meneliti, persiapan yang dilakukan pun panjang, kurang lebih satu tahun. Salah satu yang terpenting adalah kesehatan.
"Ada juga persiapan harus uji kesehatan. Uji kebugaran juga. Karena orang yang bisa riset ke Antartika badannya harus sehat karena kalau misalnya sakit di sana ribet karena jauh dari mana-mana. Jauh dari rumah sakit. Sangat terisolasi," katanya.
Namun, ada pula pengalaman indah yang Ezra rasakan, salah satunya berkesempatan melihat satwa khas Antartika seperti penguin, paus, hingga burung laut.
Temukan Spesies 3.500 TahunEzra mengatakan penelitian pengambilan sampel ini dilakukan untuk melanjutkan penelitian tesis sekaligus menjadi dasar untuk studi doktoral (S3).
Sampel sedimen laut diambil menggunakan metode coring, yaitu teknik mengumpulkan sampel sedimen bawah laut dengan menggunakan tabung silinder berongga yang ditancapkan vertikal ke dalam sedimen untuk mengekstrak lapisan-lapisan sedimen.
"Untuk riset S2 saya hasilnya sudah keluar. Saya berhasil mendeteksi untuk DNA dari hewan moluska dari sampel sedimen saya yang diambil dari Antartika. Untuk yang riset S3 ini saya ambil sampel lagi dan masih berbentuk sedimen dan masih disimpan di universitas saya. Rencana akan saya mulai lagi bulan depan," katanya.
Hasil riset S2 itu, Ezra berhasil mengidentifikasi spesies-spesies moluska yang hidup ribuan tahun lalu.
"Sampel yang saya dapat sekitar 6 sampai 3.500 tahun lalu. Kami berhasil menemukan spesies moluska atau hewan laut di sedimen tersebut. Umur spesies yang kami dapatkan sudah 3.500 tahun lalu," ujarnya.
Dan itu belum pernah ada yang mengerjakan tentang moluska. Ini pertama kali kami melakukan riset tentang itu. Karena sejauh ini belum pernah ada penelitian yang sejauh ini belum pernah ada penelitian sejauh yang kami tahu tentang mendeteksi hewan moluska dari DNA purba ini," katanya.
Harapan di Masa DepanEzra mengatakan tujuan utama setelah mendeteksi spesies hewan 3.500 tahun lalu, selanjutnya akan membandingkan sequence DNA dengan data yang ada.
"Jadi ingin kami bandingkan ada perubahan genomik nggak dari 3.500 tahun lalu," katanya.
Dalam jangka waktu ribuan tahun tersebut, fokus Ezra adalah ingin mengetahui perubahan lingkungan yang terjadi.
"Dengan kami bisa tahu perubahan lingkungan yang terjadi misalnya perubahan temperatur, adaptasi yang dilakukan hewan ini supaya bisa survive apa. Nah kami bisa meneliti dengan perubahan gen dan sequence DNA di situ," katanya.
Sehingga bisa diketahui cara mereka beradaptasi selama ini. Serta, bisa memprediksi di masa depan apabila ada perubahan lingkungan, bagaimana hewan laut ini beradaptasi. Hal ini akan Ezra teliti di studi doktoralnya.
"Biar bisa kelestarian hidup hewan-hewan di sana seperti apa," katanya.
Ezra berharap dengan penelitiannya ini, moluska dapat terhindar dari kepunahan. Di masa depan, ia juga berharap penelitian ini bisa bermanfaat untuk ekosistem laut di Indonesia.





