Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah akan menjalankan program listrifikasi sebesar 100 gigawatt (GW). Program ini ditargetkan tercapai dalam waktu dua tahun.
Prabowo menegaskan, ke depan tidak boleh lagi ada pembangkit listrik yang bergantung pada bahan bakar diesel atau solar. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya besar pemerintah menekan impor energi.
“Jadi saya sudah putuskan, akan kita jalankan program listrifikasi 100 gigawatt. 100 gigawatt yang kita harapkan bisa dicapai dalam 2 tahun. Nanti tidak boleh ada lagi pembangkit listrik menggunakan diesel, menggunakan solar,” kata Prabowo dikutip dari Laman YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (9/4).
Dengan demikian program ini sekaligus menghentikan penggunaan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).
Dalam tahap awal, pemerintah akan menutup 13 unit PLTD yang saat ini dioperasikan oleh PLN. Langkah ini diklaim akan memberikan penghematan signifikan terhadap konsumsi bahan bakar.
Saat ini, Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel bahan bakar minyak (BBM) per hari. Dengan penghentian PLTD, Prabowo menyebut penghematan impor bisa langsung mencapai 20 persen.
“Dari menutup itu kita akan menghemat 200 ribu barrel sehari. Kita masih perlu impor sekarang ini 1 juta barrel sehari. Dengan kita tutup PLTD kita menghemat langsung 20 persen,” imbuhnya.
Dia juga melihat tambahan kapasitas listrik dari program 100 GW juga diyakini akan semakin menekan kebutuhan impor energi dalam beberapa tahun ke depan.
“Mungkin kita 2-3 tahun lagi tidak perlu impor BBM sama sekali. Kita punya kekuatan besar, kita benar-benar sungguh-sungguh kita akan mandiri, kita akan kuat, kita akan berdiri di atas kaki kita sendiri,” ujar dia.





