Jakarta, VIVA - Komika Pandji Pragiwaksono bertemu dengan Mantan calon Gubernur DKI Jakarta jalur independen, Dharma Pongrekun. Pertemuannya terjadi di Markas Polda Metro Jaya, Kamis, 9 April 2026.
Awalnya, Pandji baru kelar menjalani mediasi terkait kasus dugaan penistaan agama terkait materi stand up comedy bertajuk Mens Rea. Tak lama berselang, Dharma hadir sebagai pengacara salah satu kasus yang ditangani Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.
Pandji lantas mendatangi Dharma dan berbincang. Namun, tak diketahui apa yang mereka bicarakan. Hanya saya, Pandji nampak sempat menunjukkan gestur berguyon ke Dharma. Untuk diketahui, Dharma sendiri dijadikan materi stand up Pandji bertajuk Mens Rea.
Singgung Muhammadiyah dan NU
Dalam tayangan berdurasi 2 jam 24 menit tersebut, berisi kritik tajam terhadap kondisi politik dan sosial Indonesia pasca pemilu 2024 lalu. Beberapa materi yang dibawakan Pandji Pragiwaksono juga menyinggung soal politik balas budi. Dia juga menyinggung tambang dan organisasi Islam Nahadlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
“Ada yang tau politik balas budi? Gue kasih lo sesuatu tapi lo kasih gue sesuatu lagi. Emang lo pikir kenapa NU dan Muhammadiyah bisa ngurus tambang? Kenapa kira-kira? Karena diminta suaranya gue kasih sesuatu yang lo suka, happy lah. Ormas agama ngurus tambang? Happy lah,’ tanya Pandji dikutip dari tayangan tersebut.
Pandji juga menjelaskan bahwa sebenarnya sejumlah organisasi keagamaan ditawarkan hal serupa. Namun tawaran tersebut ditolak oleh ormas agama lain.
“Biar kita adil sebenarnya ngggak cuman ormas Islam aja, semua ormas agama ditawarin. Tapi agama lain nolak, ormas Islam alhamdulillah rejeki anak soleh. Masa ditolak? Ini pasti karena aku rajin solat, rezeki anak soleh nih diambil guys. Gue denger-denger HKBP menolak. HKBP bilang ‘mohon maaf ini ngurus lapo ribet banget apalagi ngurus tambag, capek gue’’,” sambung Pandji.
Sentil Wapres Gibran
Dalam acara itu, Pandji mengangkat fenomena publik yang kerap menilai pemimpin dari tampilan fisik. Dia juga menyinggung beberapa tokoh publik dengan label yang melekat di telinga masyarakat.





