Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DIY, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), dan Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) membahas arah penataan pariwisata Yogyakarta dalam forum di Hotel 101 Style Yogyakarta Malioboro, Rabu (8/4).
Forum ini mempertemukan pemerintah daerah dan pelaku industri untuk mengevaluasi kebijakan yang berjalan sekaligus merumuskan langkah ke depan.
Evaluasi Penataan dan Respons Pelaku Industri
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyampaikan evaluasi penataan kawasan Parkir Senopati yang telah berjalan selama sepekan. Ia menyebut pengalihan parkir bus wisata ke kantong parkir Abu Bakar Ali membantu mengurangi kepadatan lalu lintas.
“Di era sekarang kita tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Sinergi lintas bidang antara Kadin, PHRI, dan ASITA adalah kunci agar Jogja lebih baik ke depannya,” ujar Wawan, Rabu (8/4).
Pelaku industri pariwisata kemudian menyampaikan sejumlah dampak kebijakan di lapangan. Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, menilai kebijakan teknis sering muncul tanpa koordinasi dengan pengelola akomodasi.
“Jangan membuat kebijakan tanpa ada solusi. Penutupan akses di perempatan Gondomanan tanpa sosialisasi membuat hotel di sekitarnya sulit bernapas karena bus tidak bisa menjangkau lokasi wisata,” tegas Deddy.
Ia menyebut kondisi tersebut berdampak pada pembatalan reservasi dan berpengaruh pada pelaku UMKM di sekitar kawasan wisata.
Ketua ASITA DIY, Atok Sunarjati, menyinggung potensi penurunan daya saing destinasi akibat ketidakpastian aksesibilitas wisata.
“Jika aksesibilitas tidak pasti, ada risiko wisatawan beralih ke destinasi lain seperti Semarang. Kemarin ada grup pelajar Singapura yang terpaksa berjalan kaki jauh karena bus dilarang melintas mendadak di kawasan Titik Nol,” ungkap Atok.
Pelestarian Kawasan dan Rencana Transportasi
Ketua KADIN DIY, GKR Mangkubumi, menyampaikan bahwa pembatasan kendaraan berat di kawasan pusat kota berkaitan dengan upaya pelestarian Sumbu Filosofi yang telah diakui UNESCO.
“Kami ingin kawasan ini tetap langgeng hingga 1.000 tahun lagi,” jelas GKR Mangkubumi.
Ia menekankan pentingnya menjaga kawasan sejarah dari dampak getaran kendaraan besar, sekaligus mendorong penerapan konsep kawasan ramah pejalan kaki.
Menanggapi kebutuhan akses transportasi, Wawan Harmawan menyampaikan rencana jangka panjang pemerintah untuk mengembangkan sistem transportasi terintegrasi.
“Kami sedang mengkaji penggunaan kembali jalur kereta atau trem (yellow line) untuk menghubungkan kantong parkir Maguwo dan Wates langsung ke pusat kota,” ujar Wawan.





