Penjelasan BMKG Soal Potensi El Nino 2026, Suhu Panas Bisa Dekati Rekor?

bisnis.com
18 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Fenomena iklim El Niño yang membawa suhu panas dan penurunan curah hujan diperkirakan kembali pada paruh kedua tahun ini. Indonesia perlu mewaspadai risiko kenaikan suhu rata-rata dan kemarau yang lebih kering serta panjang.

Hingga akhir Maret 2026, pemantauan terkini Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada fase Netral. Namun, pemodelan iklim menunjukkan bahwa ENSO dapat berkembang menjadi fase El Niño pada semester kedua 2026.

“Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80%, dan mencatat adanya kemungkinan kecil [kurang dari 20%] fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan setelah rapat koordinasi dengan Kementerian Kehutanan, Selasa (7/4/2026).

Ketika ditanya lebih lanjut tentang potensi El Nino tahun ini mendekati level 2019, Ardhasena menjelaskan indikasi awal menunjukkan bahwa El Nino tahun ini masih lebih rendah, atau paling tinggi setara dengan 2019.

Sebagai catatan, fenomena El Nino pada 2019 masuk dalam kategori lemah dengan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis yang masih dalam batas rendah. Meski demikian, kala itu Indonesia mengalami salah satu musim kemarau terkering dan terpanjang.

Fenomena iklim tersebut memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara luas, dengan total area terdampak mencapai 1,64 juta hektare. Luas karhutla tersebut menjadi yang tertinggi kedua dalam sejarah setelah 2015.

Baca Juga

  • Jabar Percepat PSEL Sarimukti dan Bogor untuk Atasi Darurat Sampah
  • Risiko Karhutla Meningkat Tahun Ini, Imbas Kemarau Kering dan Panjang
  • Luas Deforestasi Sepanjang 2025 Naik Dua Kali Lipat Jadi 433.751 Hektare

Di tengah peluang berkembangnya El Nino pada 2026, BMKG juga mengingatkan adanya potensi kenaikan suhu rata-rata di Indonesia. Namun, Ardhasena menegaskan kenaikan suhu tersebut tidak bersifat ekstrem dan tidak dapat dikategorikan sebagai gelombang panas.

“Secara umum, kenaikan suhu rata-rata di Indonesia akibat El Nino biasanya berkisar sekitar 1 hingga 1,5 derajat Celsius. Jadi tidak sampai melonjak drastis seperti 5 hingga 10 derajat Celsius. Dengan kata lain, ini bukan fenomena heatwave,” jelasnya.

Indonesia sebelumnya mencatat rekor suhu rata-rata tahunan tertinggi pada 2024, yakni 27,5 derajat Celsius. Angka itu lebih tinggi 0,8 derajat Celsius dibandingkan dengan rata-rata klimatologis 1991–2020 sebesar 26,7 derajat Celsius.

Kenaikan suhu di Indonesia tersebut sejalan dengan tren pemanasan global. Dalam tiga tahun terakhir, yakni 2023–2025, suhu rata-rata permukaan Bumi tercatat konsisten berada di level tertinggi secara historis menurut laporan World Meteorological Organization (WMO).

“Kalau dikaitkan dengan fakta bahwa tiga tahun terakhir mencatat rekor suhu global, itu lebih merupakan tren jangka panjang. Jadi memang ada kecenderungan suhu bumi meningkat secara perlahan dari waktu ke waktu,” kata Ardhasena.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Usai Diperiksa Bareskrim, Eks Direktur PT DSI Langsung Ditahan
• 14 jam lalurctiplus.com
thumb
Pemprov Babel Serahkan LKPD 2025 ke BPK, Audit Ditargetkan Rampung Juni
• 14 jam lalutvrinews.com
thumb
Wamensos Dorong Penguatan Kapasitas Tenaga Kependidikan Sekolah Rakyat
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
MRT Jakarta Ditargetkan Jangkau Kawasan Kota Tua pada 2029
• 13 jam laluidxchannel.com
thumb
Presiden Prabowo Resmikan Pabrik Perakitan Kedaraan Komersial Berbasis Listrik
• 21 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.