Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyampaikan kenaikan harga bahan baku plastik hingga 60% mulai menekan margin pelaku UMKM. Kondisi ini dipicu terganggunya pasokan bahan baku plastik (nafta) dari Timur Tengah akibat penutupan Selat Hormuz.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan lonjakan harga plastik dipicu terganggunya rantai pasok global, terutama dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi pemasok utama bahan baku nafta.
Maman menyampaikan kenaikan harga bahan baku tersebut langsung dirasakan pelaku UMKM. Bahkan, dalam sepekan terakhir, pemerintah telah menerima banyak keluhan dari pelaku usaha.
“Dengan naiknya harga [plastik] itu rata-rata, aspirasi ke kami rata-rata di 40–60% angka kenaikan harga plastik, misalnya tadi dari harga pertama Rp1.000, rata-rata naiknya kurang lebih 40–60%. Berarti kurang lebih sekitar Rp400-an. Nah itu kan lumayan itu,” kata Maman saat ditemui di Kantor Kementerian UMKM, Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Meski demikian, Maman menyebut sebagian besar pelaku usaha memilih tidak menaikkan harga jual produk demi menjaga daya beli konsumen. Konsekuensinya, margin keuntungan para UMKM tergerus imbas kenaikan biaya tidak diimbangi penyesuaian harga.
“UMKM kan dia juga perlu menjaga harga barang mereka di mata masyarakat dan di mata pembeli. Jadi dia tetap harga dijaga sama dia, cuman akhirnya keuntungan mereka jadi menipis dong, cost produksi mereka menjadi naik, karena harga plastik ini naik,” tuturnya.
Baca Juga
- Harga Plastik Melonjak 50%, Ekonom: Tekan Daya Beli & Berisiko Picu Inflasi
- Akumindo Sebut Dampak Kenaikan Harga Plastik ke UMKM Tak Seragam
- Lonjakan Harga Bahan Baku Plastik Imbas Perang Timur Tengah Goyang UMKM
Untuk meredam dampak dalam jangka pendek, pemerintah kini mengalihkan pasokan bahan baku plastik dari negara lain yang lebih aman dari konflik, yakni Afrika, India, dan AS. Saat ini, pasokan dari ketiga negara tersebut masih dalam tahap administrasi.
Ke depan, Maman optimistis harga plastik akan kembali normal seiring pulihnya rantai pasok melalui pasar alternatif tersebut. Pemerintah juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk melakukan operasi pasar untuk menstabilkan harga.
Dari sisi logistik, Maman menilai tidak ada perbedaan signifikan antara pasokan dari Timur Tengah dan negara alternatif seperti India, Afrika, dan AS, sehingga persoalan utama tetap pada terganggunya suplai akibat konflik.
Modal TerkerekBerdasarkan penelusuran Bisnis, Selasa (7/4/2026), sejumlah pedagang mengaku harga plastik mengalami kenaikan. Pedagang gorengan di Parung Panjang, Moja (37), mengungkapkan harga kantong plastik mengalami lonjakan signifikan pascaLebaran.
“1 pak kantong kresek dulu 10.000, sekarang 17.000, naik habis lebaran. Pengeluaran jadi lebih banyak, modal lebih banyak. Tapi saya jual gorengan tetap segitu, nggak dikurangin,” ujar Moja saat ditemui Bisnis.
Begitu pula dengan pedagang es kopi keliling di kawasan Jakarta Pusat yang merasakan kenaikan biaya plastik dari semula Rp10.000 menjadi Rp15.000. “Gelas juga naik dari Rp10.000 jadi Rp12.000. Modalnya ikut naik,” ujarnya.
Kenaikan harga plastik juga dirasakan pedagang jajanan lainnya. Seorang pedagang cimol mengaku biaya kemasan meningkat sehingga menggerus keuntungan.
Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menilai kenaikan harga plastik memberikan tekanan besar terhadap UMKM, terutama sektor kuliner yang sangat bergantung pada kemasan.
Esther menuturkan bahwa dampak utama yang dirasakan pelaku usaha antara lain membengkaknya biaya produksi, tergerusnya margin keuntungan, hingga terpaksa menaikkan harga jual yang berisiko menekan omzet. Menurutnya, kondisi ini berpotensi memicu inflasi yang lebih luas, seiring banyaknya pelaku usaha yang memilih menaikkan harga dibandingkan menekan margin.
“Jika perang berkepanjangan maka yang akan terjadi maka inflasi tak terhindarkan, sektor riil melemah, ketidakpastian meningkat. Akibatnya pertumbuhan ekonomi berpotensi menurun,” tutur Esther kepada Bisnis.
Sementara itu, Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kemendag Ni Made Kusuma Dewi mengatakan pemerintah memahami kekhawatiran masyarakat dan pelaku usaha terkait kenaikan harga bahan baku plastik yang terjadi belakangan ini.
“Menyikapi hal tersebut, pemerintah tengah mengupayakan diversifikasi bahan baku melalui penjajakan alternatif pasokan dari sejumlah negara, seperti India serta kawasan Afrika dan Amerika,” kata Dewi kepada Bisnis, Selasa (7/4/2026).
Namun demikian, dia menegaskan bahwa proses peralihan sumber pasokan tersebut tidak dapat dilakukan secara cepat. Meski begitu, Kemendag juga telah berkoordinasi dengan pelaku industri dan asosiasi untuk memastikan ketersediaan bahan baku tetap terjaga di tengah tekanan global.
Di sisi lain, Kemendag menyatakan komunikasi dengan perwakilan Indonesia di luar negeri juga terus diperkuat untuk membuka akses terhadap pemasok baru.
“Langkah ini kami upayakan agar bahan baku tetap terjamin, sehingga aktivitas produksi di dalam negeri dapat berjalan normal dan ketersediaan plastik tetap terjaga,” terangnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026 menunjukkan, total nilai impor plastik dan barang olahannya (HS 39) mencapai US$873,2 juta atau sekitar Rp14,92 triliun (asumsi kurs Rp17.092 per dolar AS). Dari sana, negara pemasok terbesar adalah China dengan nilai US$380,05 juta, diikuti oleh Thailand US$82,71 juta, dan Korea Selatan senilai US$66,66 juta.
Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) Henry Chevalier menuturkan kemampuan industri petrokimia dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 50%–60% kebutuhan. Ini artinya, sekitar 40%–50% sisanya masih bergantung pada impor, terutama dari Timur Tengah dan sebagian dari China.
Penutupan Selat Hormuz juga membuat pelaku usaha tidak berani melakukan kontrak dengan pelanggan, karena kelangkaan pasokan menjadi persoalan utama meski memiliki kemampuan finansial.
Di samping itu, kondisi ini juga diperparah oleh force majeure dari industri hulu akibat konflik Timur Tengah, yang membuat pasokan kerap dipangkas hingga 50% meski sudah ada kontrak sebelumnya.
Di sisi lain, Henry mengatakan upaya impor bahan baku plastik kini terganggu karena perusahaan asuransi enggan menanggung pengiriman melalui Selat Hormuz, sehingga pelayaran juga menahan risiko.
Sementara itu, negara pemasok di Asia seperti China, Thailand, dan Vietnam lebih memprioritaskan kebutuhan domestik dan membatasi ekspor. Akibatnya, selain terjadi kelangkaan barang, harga bahan baku plastik juga melonjak hingga 40%–50%.
Aphindo mencatat lonjakan harga bahan baku plastik sudah merembet ke tingkat konsumen. Henry mengingatkan, kondisi ini berpotensi memicu inflasi yang lebih luas, di tengah daya beli masyarakat yang sudah melemah.
Pasalnya, kenaikan biaya bahan baku plastik ini secara otomatis meningkatkan biaya produksi industri hilir, yang kemudian diteruskan ke harga produk akhir seperti kemasan makanan dan minuman (mamin), hingga produk farmasi.
“Kantong-kantong kresek saja yang tadinya harga berapa, sekarang sudah naik hampir 50% harganya,” kata Henry saat dihubungi Bisnis, Minggu (5/4/2026).





