Rusia tengah berupaya memanfaatkan krisis pasokan gas alam global (LNG) untuk menarik negara-negara Asia Selatan yang membutuhkan energi. Sumber yang mengetahui hal ini mengatakan, Rusia sedang membujuk negara-negara di kawasan tersebut untuk membeli pasokan yang terkena sanksi Amerika Serikat (AS).
Dikutip dari Bloomberg, Kamis (9/4), Rusia menawarkan diskon hingga 40% dari harga spot pekan lalu melalui perusahaan perantara yang relatif tidak dikenal dan berbasis di China serta Rusia. Para penjual disebut mampu menyediakan dokumen yang membuat pengiriman LNG tampak berasal dari sumber non-Rusia, seperti Oman atau Nigeria.
Bloomberg belum dapat mengkonfirmasi apakah sudah ada transaksi yang terjadi.
Penutupan efektif Selat Hormuz serta serangan terhadap fasilitas ekspor gas terbesar di dunia di Qatar telah memangkas sekitar seperlima pasokan global, mengacaukan pasar gas dan mendorong harga naik.
Pengiriman dari Qatar terhenti, memaksa pembeli di Bangladesh dan India mencari alternatif yang lebih mahal. Bangladesh, yang tahun lalu menerima sekitar 60 persen pasokan gasnya dari Qatar, kini harus membeli di pasar spot—bahkan terkadang hampir dua kali lipat dibanding harga kontrak jangka panjang.
Bangladesh dan India juga terpaksa mengurangi pasokan gas ke sektor pupuk akibat penurunan impor.
India biasanya mengambil pendekatan hati-hati dalam impor energi, dan sebelumnya pemerintah menyatakan tidak akan membeli gas Rusia dari proyek yang masuk daftar sanksi. Namun, India sempat kembali membeli minyak Iran untuk pertama kalinya sejak 2019 setelah keputusan Kementerian Keuangan AS mencabut pembatasan tertentu.
Sementara itu, Rusia terus berupaya meningkatkan ekspor dari fasilitas yang terkena sanksi AS, seperti Arctic LNG 2 dan Portovaya LNG. Namun, sebagian besar pembeli masih berhati-hati karena khawatir terhadap potensi sanksi lanjutan dari AS.
Sejauh ini, China menjadi satu-satunya negara yang diketahui mengimpor LNG Rusia yang terkena sanksi melalui armada kapal bayangan.
Memperluas penjualan ke luar China akan membantu Rusia mendiversifikasi pasar dan meningkatkan ekspor dari fasilitas yang terkena sanksi. Arctic LNG 2—yang dirancang menjadi proyek LNG terbesar Rusia—mulai beroperasi pada 2024, namun kapasitas penuhnya masih terhambat oleh keterbatasan pengiriman dan minimnya pembeli.





