Sidak Waka BGN di Bandung Barat Temukan Bangunan Tak Layak Jadi SPPG, Langsung Ditindak

disway.id
15 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik menemukan bangunan-bangunan yang tidak layak untuk menjadi dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), dalam inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukannya secara random di Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi, Selasa malam, 7 April 2026. 

“Semalam saya menemukan dapur-dapur MBG di Bandung Barat dan Cimahi yang tidak layak tapi sudah lama beroperasi sebagai SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi),” ujarnya dalam acara Pengarahan dan Evaluasi Kepada Kasatpel, Pengawas Gizi, dan Juru Masak di Provinsi Jawa Barat, di Bandung Barat, Rabu, 8 April 2026.  

BACA JUGA:Polisi Tipu Polisi, Anggota Polres Padangsidimpuan Agunkan 34 SK Anak Buah demi Pinjaman Rp10 M!

BACA JUGA:Di Luar Dugaan, Purbaya Malah Baru Tahu Ada Proyek 25 Ribu Motor Listrik BGN

Salah satu dapur yang disorot Nanik adalah SPPG Tani Mulya 3 di Kecamatan Ngamprah, Bandung Barat. Sebab, dapur MBG itu dialihfungsikan dari sebuah rumah bertingkat 3 ke bawah. Lantai paling bawah dipakai untuk tempat masuk dan persiapan bahan baku, lantai kedua untuk memasak, dan lantai permukaan tanah untuk pemorsian.

“Jadi dapur itu seperti goa ke bawah, dan dihubungkan dengan tangga terjal tanpa pegangan di sisi tangga,” ujarnya.

Menurut Ketua Harian Tim Koordinasi Pelaksanaan Program MBG yang beranggotakan 17 Kementerian itu, diloloskannya rumah dengan tiga tingkat ke bawah itu menjadi dapur MBG sangatlah janggal. Sebab, di awal pelaksanaan program MBG, petunjuk pelaksanaan tentang dapur sangatlah ketat.

“Dulu, lantai ada beda ketinggian 10 cm saja nggak akan diperbolehkan, Mengapa ini bisa lolos?” ujarnya.

Dapur lainnya, satu di Colameng, Ngamprah, dan dua di Citeureup, Cimahi, berukuran sempit dan jorok. Ketiga dapur itu juga dialihfungsikan dari rumah warga yang luasnya hanya sekitar 150 meter persegi. Karena berasal dari rumah warga, dapur SPPG itu kemudian mengikuti bentuk ruangan rumah yang sudah ada. 

Akibatnya, ruang pemorsian menjadi sangat sempit dan tidak memadai, gudang peralatan dapur dan gudang ompreng tidak ada, ruang pencucian bahan pangan bercampur dan sebagainya. Bahkan ada pula dapur SPPG dengan tempat masuk bahan pangan, tempat masuk ompreng kotor, dan tempat keluar hidangan MBG yang akan didistribusikan ke sekolah penerima manfaat melewati pintu yang sama.

Karena tidak ada ruangan lagi, locker untuk relawan dibuat seadanya dan sempit, sementara ruang istirahat untuk Kepala SPPG, Pengawas Gizi dan Pengawas Keuangan tidak disiapkan.

BACA JUGA:Soal Motor Berlogo BGN, Kepala BGN: Pengadaan Masuk Anggaran 2025 dan Belum Dibagikan

Mereka kemudian dicarikan tempat kost di luar dapur.

“Inilah kemudian adi alasan mengapa Kepala SPPG, Pengawas Gizi, dan Pengawas Keuangan tidak memantau dapur, saat memasak,” kata Nanik.

Menurut Nanik, mulai tahun 2026 ini, kualitas pelayanan Program MBG akan semakin ditingkatkan. Selain kualitas makanan, dan kualitas sumber daya manusia, juga soal kualitas dapur. Jika selama ini semua dapur dipukul rata mendapat insentif 6 juta, ke depan akan disesuaikan dengan luas dan kualitas dapur “Masa dapur bagus seluas 400 meter persegi disamakan dengan dapur yang jorok dan sempit,” ujarnya.

Tak Ada Penagwas Gizi
  • 1
  • 2
  • 3
  • »

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Inspiratif! Perempuan Difabel Asal Semarang Kembangkan Bisnis Fesyen bersama LinkUMKM BRI
• 13 jam lalurctiplus.com
thumb
Trump Larang Iran Tarik Pungutan di Selat Hormuz, Sebut Tak Sesuai Kesepakatan Gencatan Senjata
• 59 menit lalukompas.tv
thumb
KAI Logistik Kantongi Sertifikasi Halal di 3 Titik Distribusi Utama Retail
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Aksi Kamisan Desak Pemerintah Bentuk TGPF Independen Kasus Andrie Yunus
• 9 jam lalurepublika.co.id
thumb
Wakil Bupati Wahyu Ade Pratama Pimpin KONI Konsel, Targetkan Prestasi Maksimal di Porprov 2026
• 1 jam laluterkini.id
Berhasil disimpan.