Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mewacanakan pembentukan "usaha patungan" (joint venture) dengan Iran guna memungut biaya dari kapal-kapal komersial yang melintasi jalur perairan strategis Selat Hormuz.
Dalam keterangannya pada Rabu (8/4), Trump menilai skema kerja sama ini sebagai solusi ideal untuk mengamankan perairan tersebut.
"Kami sedang memikirkan (pengelolaannya) dalam bentuk usaha patungan. Itu adalah cara untuk mengamankan sekaligus melindunginya dari pihak lain. Itu hal yang indah," kata Trump dikutip dari ABC News.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Senin (6/4), ia menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz wajib dimasukkan ke dalam draf kesepakatan damai pengakhiran perang AS-Iran.
"Bagaimana jika kita memungut biaya? Saya lebih memilih melakukan itu daripada membiarkan pihak Iran yang melakukannya," tegas Trump.
Rencana ini semakin dipertegas Trump melalui unggahannya di platform Truth Social pada Selasa (7/4) malam waktu setempat.
Ia meyakini Amerika Serikat berpeluang meraup pundi-pundi uang dalam jumlah besar dengan dalih membantu mengurai kepadatan lalu lintas kapal di kawasan tersebut.
"Kami akan memuat berbagai jenis pasokan dan tetap bersiaga di area itu guna memastikan semuanya berjalan lancar. Saya yakin itu akan terwujud," tulis Trump.
Sepuluh poin tuntutan Iran:- Tidak melakukan agresi
- Melanjutkan kendali Iran atas Selat Hormuz
- Menerima pengayaan uranium
- Mencabut semua sanksi utama
- Mencabut semua sanksi sekunder
- Mengakhiri semua resolusi Dewan Keamanan PBB terkait Iran
- Mengakhiri semua resolusi Dewan Gubernur IAEA terkait Iran
- Pembayaran kompensasi kepada Iran
- Penarikan pasukan tempur AS dari kawasan tersebut
- Penghentian perang di semua front, termasuk melawan Perlawanan Islam Lebanon yang heroik.





