REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kenaikan harga avtur mendorong tarif kargo udara atau Surat Muatan Udara (SMU) naik sampai 40 persen. Asosiasi Logistik Digital Economy Indonesia (ALDEI) mengusulkan sejumlah langkah untuk meredam dampak lonjakan biaya logistik tersebut.
ALDEI menilai tekanan biaya ini berpotensi mengganggu distribusi barang, terutama pada sektor yang mengandalkan kecepatan pengiriman seperti e-commerce dan manufaktur. Karena itu, diperlukan respons cepat agar rantai pasok tetap efisien.
Baca Juga
Harga Avtur Melonjak, Pemerintah Siapkan Insentif Jaga Harga Tiket Pesawat
Presiden Prabowo: Biaya Haji 2026 Turun Rp2 Juta Meski Harga Avtur Pesawat Naik
Avtur Pesawat Naik, Penyesuaian Biaya Haji akan Ditutup dengan APBN dan BPKH
Wakil Ketua Umum ALDEI Jimmi Krismiardhi mengatakan, kenaikan harga avtur langsung mendorong biaya operasional maskapai kargo yang kemudian diteruskan dalam bentuk kenaikan tarif SMU. “Hal ini tentu berdampak pada pelaku usaha, khususnya sektor e-commerce, manufaktur, dan distribusi yang mengandalkan kecepatan pengiriman udara,” kata Jimmi, Kamis (9/4/2026).
Ia menjelaskan, pergeseran moda transportasi ke darat dan laut menjadi respons pasar, namun perlu diantisipasi agar tidak menimbulkan hambatan baru. “Perubahan preferensi moda transportasi merupakan respons alami pasar. Namun, perlu diantisipasi agar tidak menimbulkan bottleneck baru di sektor darat dan laut, terutama dalam hal kapasitas, infrastruktur, dan efisiensi distribusi,” kata Jimmi.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
ALDEI merekomendasikan penguatan integrasi multimoda untuk menjaga kelancaran distribusi dan menekan biaya. Selain itu, digitalisasi logistik perlu dipercepat agar pelaku usaha memiliki visibilitas rantai pasok yang lebih baik.
Evaluasi kebijakan komponen biaya logistik, termasuk avtur, juga dinilai penting untuk menjaga daya saing industri. Insentif bagi sektor logistik menjadi salah satu opsi untuk meredam tekanan biaya dalam jangka pendek.
“Kami percaya bahwa dengan kolaborasi yang erat antara pemerintah, pelaku usaha, dan asosiasi, tantangan ini dapat diubah menjadi momentum untuk memperkuat struktur logistik nasional yang lebih adaptif, efisien, dan berdaya saing,” kata Jimmi.
ALDEI menilai, kombinasi kebijakan dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar lonjakan biaya tidak berujung pada gangguan distribusi dan perlambatan ekonomi.