Inggris Tolak Rencana Iran Kenakan Tarif di Selat Hormuz

wartaekonomi.co.id
17 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Inggris menyuarakan penolakannya terhadap pengenaan tarif untuk kapal yang ingin melewati jalur pelayaran dari Selat Hormuz. Hal tersebut menyusul salah satu tuntutan dalam negosiasi dari Iran dan Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper menegaskan bahwa pelayaran dalam wilayah tersebut harus tetap bebas biaya. Ia menekankan bahwa prinsip kebebasan navigasi merupakan fondasi hukum laut internasional dan tidak boleh diubah secara sepihak.

Baca Juga: Miskalkulasi Amerika Serikat, Gencatan Senjata Malah Perkuat Posisi Iran di Timur Tengah

"Kebebasan mendasar di laut tidak boleh dicabut secara sepihak atau dijual kepada penawar perorangan. Tidak boleh ada tempat untuk pungutan tol di jalur perairan internasional. Kebebasan navigasi berarti navigasi harus bebas," kata Cooper, dikutip dari Reuters.

Cooper menyatakan bahwa jalur laut internasional tidak boleh “dijual” atau dikendalikan oleh satu negara melalui pungutan biaya. Ia menyuarakan penolakannya atas rencana dari Iran.

Cooper juga menyerukan kritik atas serangan dari Israel ke Lebanon. Menurutnya, wilayah tersebut harus dimasukkan dalam gencatan senjata dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat. Inggris menilai perluasan cakupan gencatan senjata menjadi kunci untuk meredam eskalasi konflik di Timur Tengah.

Serupa, Yunani juga menolak tarif di Selat Hormuz. Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis menolak keras rencana dari Teheran. Menurutnya, langkah tersebut tidak dapat diterima dan berpotensi menciptakan preseden berbahaya bagi kebebasan navigasi global.

Selat Hormuz menurutnya selama ini dikenal sebagai jalur dengan kebebasan navigasi, dan hal tersebut harus tetap dipertahankan. Ia menyebut gagasan menjadikan jalur tersebut sebagai toll booth atau gerbang berbayar sebagai langkah yang tidak dapat diterima oleh komunitas internasional.

Mitsotakis menilai penerapan tarif akan membebani industri pelayaran global dan mengganggu arus perdagangan. Ia menyatakan bahwa jika diperlukan, pengaturan jalur tersebut sebaiknya dilakukan melalui kesepakatan internasional. Namun, ia menegaskan bahwa perjanjian tersebut tidak boleh mencakup pungutan biaya bagi kapal.

Ia memperingatkan bahwa jika tarif diberlakukan, hal tersebut dapat membuka jalan bagi negara lain untuk melakukan hal serupa di jalur strategis lainnya. Langkah tersebut dinilai berisiko mengganggu sistem perdagangan global yang selama ini bergantung pada prinsip kebebasan navigasi.

Diketahui, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, dilalui sekitar dua puluh persen pasokan minyak dan gas global. Gangguan terhadap akses bebas di jalur ini berpotensi memicu dampak besar terhadap ekonomi global.

Pernyataan Inggris menambah tekanan internasional terhadap rencana dari Iran. Teheran sebelumnya mengusulkan skema tarif sebagai bagian dari kontrol atas jalur tersebut. Dalam proposal damainya, terdapat syarat tambahan berupa biaya sekitar US$2 juta per kapal yang melintas dalam jalur tersebut. Biaya ini rencananya akan dibagi dengan Oman.

Baca Juga: Amerika Serikat Bersiap, Trump Ancam Lanjutkan Serangan ke Iran

Iran mengatakan akan menggunakan bagian dari pendapatannya untuk digunakan untuk membiayai rekonstruksi infrastruktur yang rusak akibat serangan dari Israel dan Amerika Serikat. Pendekatan ini disebut sebagai alternatif dari tuntutan kompensasi langsung.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dari Mitra Pengemudi Grab hingga Memiliki Usaha Baso Aci Mastyo
• 6 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Anrez Adelio Sesalkan Masalah Pribadi Jadi Konsumsi Publik: Kok Bisa Bangga Koar-koar Soal Aib?
• 17 jam lalugrid.id
thumb
PLN dan Vietnam Electricity Bahas Efisiensi Pembangkit dan Energi Bersih
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Menlu Iran dan Arab Saudi Membahas Cara untuk Menghentikan Agresi AS-Israel
• 8 jam lalumediaindonesia.com
thumb
KPK Ulik Kasus Restitusi Pajak di Kalsel lewat 2 Saksi
• 17 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.