Surabaya : Harga plastik mengalami peningkatan signifikan antara 30-80% pada April 2026 akibat Konflik Timur Tengah. Hal ini terjadi karena bahan baku utama plastik di Indonesia bergantung pada Impor sebesar 60%.
Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM, Universitas Airlangga (Unai), Atik Purmiyati mengatakan UMKM yang paling terdampak adalah sektor makanan dan minuman karena ketergantungan kepada plastik kemasan yang cukup tinggi.
Baca Juga :
Bahan Baku Plastik Melonjak, Purbaya: Belum Ada Permintaan Relaksasi Bea Masuk"Kenaikan harga plastik akan menambah biaya produksi hingga dapat menggerus keuntungan usaha," ujar Atik, mengutip laman resmi Unair, Kamis, 9 April 2026.
Ia mendorong pelaku UMKM untuk terus berinovasi. Berbagai strategi dapat ditempuh seperti pengurangan volume produk tanpa perlu menaikkan harga.
Atik menyebut, substitusi plastik ke bahan ramah lingkungan seperti kemasan biodegradable dari pati jagung, tebu, singkong (cassava bag) dan serat nanas harus mulai dilakukan. Akan tetapi, penggunaan kemasan ramah lingkungan bagi UMKM masih kurang masif.
"Oleh karena itu, perlu adanya edukasi besar-besaran untuk menumbuhkan pemakaian kemasan ramah lingkungan," tambahnya.
Ia menyarankan pembelian bahan kemasan ramah lingkungan secara kolektif oleh beberapa pelaku usaha. Dengan demikian, harga beli bisa jauh lebih murah.
"Pembelian dalam jumlah yang besar sehingga bisa mendapatkan harga lebih murah (economies of scale)," katanya.
Atik menambahkan, edukasi dapat berlangsung melalui dorongan kepada konsumen untuk menggunakan tas belanja ulang pakai, menerapkan prinsip isi ulang (refill), serta wadah makanan sendiri. Dalam perspektif ekonomi perilaku (behavior economics), perubahan pola konsumsi masyarakat dapat mempengaruhi permintaan pasar.
"Hal itu juga mendorong produsen untuk beradaptasi dengan preferensi konsumen lebih ramah lingkungan," ucapnya.
Ilustrasi Pexels
Ia mendorong pemerintah sebagai market regulator yang mengambil peran aktif untuk mencegah kenaikan harga plastik yang semakin melejit. Langkah yang harus terrealisasi adalah melakukan stabilisasi harga bahan baku produksi strategis.
Hal tersebut, kata Atik, berjalan dengan cara pengawasan rantai distribusi bahan baku plastik, pengendalian spekulasi harga dan pemberian insentif bagi industri hulu plastik agar pasokan tetap stabil. Program kebijakan stabilisasi harga juga harus beriringan dengan pendampingan inovasi kepada UMKM.
"Hal tersebut dengan tujuan untuk menguatkan daya beli masyarakat melalui stabilisasi inflasi dan peningkatan pendapatan," jelasnya.




